Pembina Cakra 19 Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Panjaitan memberikan sambutan saat acara deklarasi dukungan Capres-Cawapres Pasangan Joko Widodo dan Ma'aruf Amin di Jakarta, Minggu (12/8). Dukungan tersebut untuk mengusung kembali Jokowi dan pasangannya Ma'ruf Amin sebagai presiden serta wakil presiden periode 2019-2024. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Indonesia bisa menghemat hingga Rp100 triliun dengan mengembangkan transportasi massal berbasis kereta api.

Dalam webinar Transportasi Darat untuk Merajut Keberagaman Indonesia, Rabu, Luhut mengatakan penghematan itu berasal Rp40 triliun dari biaya operasi kendaraan bermotor dan Rp60 triliun untuk waktu perjalanan.

“Nilai tersebut setara dengan 4 persen dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jabodetabek,” katanya.

Luhut mengatakan penggunaan transportasi massal juga akan mengurangi kemacetan lalu lintas secara signifikan. Berdasarkan data dari PT KAI Commuterline Indonesia (PT KCI), jumlah penumpang mencapai 336 juta orang dari dan menuju Jakarta ke dan dari wilayah sekitar Jakarta pada tahun 2019.

Mantan Menko Polhukam itu menuturkan transportasi darat memiliki peranan penting dan memberikan kontribusi signifikan dalam perekonomian nasional. Pemerintah Indonesia memiliki komitmen yang kuat untuk membangun infrastruktur transportasi darat tidak hanya di Jawa, tetapi di seluruh bagian Indonesia.

Komitmen pemerintah membangun transportasi darat di seluruh Indonesia tampak pada pembangunan tol di Sulawesi, Kalimantan, Sumatera dan di Bali maupun rencana pengembangan jaringan kereta api di Kalimantan, Sulawesi, dan Bali.

Mengutip studi yang dilakukan oleh LPPM FE UI, Luhut mengatakan bahwa kenaikan stok jalan sebesar 1 persen akan menaikkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8,8 persen. Oleh karena itu, pemerintah Indonesia memandang penting pembangunan infrastruktur jalan baik dalam bentuk investasi pemerintah maupun investasi swasta dalam proyek kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU).

“Selain itu, konektivitas jalan, termasuk jalan tol merupakan sebuah komponen penting dalam mendorong transformasi ekonomi menuju sektor manufaktur dan jasa,” katanya.

Tak hanya menyoroti pembangunan infrastruktur darat, Luhut juga menekankan pentingnya memberikan perhatian pada angkutan sungai, danau, dan penyeberangan yang juga memainkan peran penting sebagai salah satu unsur konektivitas.

Saat ini terdapat 221 lintasan, 35 pelabuhan dan 151 kapal yang dikelola oleh PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Titik lintasan terdapat mulai dari Banda Aceh, Sibolga, Bakauheuni, Merak, Ketapang, Batulicin, Bitung, Ternate, Sorong sampai dengan Merauke. Penumpang yang diangkut berjumlah 6,6 juta per tahun sedangkan jumlah kendaraan yang diangkut 6,4 juta per tahun.

“Data tersebut merefleksikan pentingnya angkutan sungai, danau dan penyeberangan untuk lebih dioptimalkan,” katanya.

Lebih lanjut, Luhut juga menekankan perlunya perhatian terhadap perkembangan industri e-commerce. Merujuk data BPS pada tahun 2019, industri e-commerce di Indonesia meningkat hingga 17 persen dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Total jumlah usaha e-commerce mencapai 26,2 juta unit.

Selama tahun 2018 saja, tercatat nilai transaksi sebesar Rp17,21 triliun dengan jumlah 24.821.916 transaksi. Dari angka tersebut terdapat 19,66 persen yang menggunakan jasa kurir online berbasis aplikasi. Jumlah tersebut, lanjutnya, merefleksikan kebutuhan yang terus meningkat dalam jasa transportasi online.

Berdasarkan data-data tersebut, Luhut menyimpulkan bahwa sektor transportasi darat adalah elemen yang penting dalam pengembangan konektivitas nasional dan mempunyai kontribusi yang signifikan di dalam pembangunan nasional.

“Pengembangan di sektor ini akan memberikan multiplier effects ke berbagai sektor yang pada akhirnya akan men-generate (menggerakkan) perkembangan ekonomi nasional,” katanya.

Luhut mengatakan pemerintah Indonesia juga mempunyai komitmen yang sangat kuat untuk mengembangkan transportasi perkotaan sebagaimana dicanangkan dalam RPJMN 2020-2024, sebagai salah satu faktor utama di dalam mengurangi kemacetan dan memperbaiki kualitas lingkungan.

“Konektivitas pada seluruh sektor darat, laut, dan udara yang terintegrasi akan membantu di dalam upaya pemerataan perekonomian nasional bagi negara besar seperti Indonesia yang terdiri dari lebih dari 17.504 pulau,” pungkasnya.(Antara)

(Warto'i)