Orang Muda Katolik dan Orang Tua Katolik Paroki Roh Kudus Labuan Bajo, berpose dengan Pastor Heribertus Karno, Pr di Gua Maria Wae Lia (dok. Jef Dain)
Orang Muda Katolik dan Orang Tua Katolik Paroki Roh Kudus Labuan Bajo, berpose dengan Pastor Heribertus Karno, Pr di Gua Maria Wae Lia (dok. Jef Dain)

 

Labuan Bajo, Aktual.com – Panasnya Labuan Bajo pada Sabtu, (29/05), tak menyurutkan semangat Orang Muda Katolik (OMK)-Orang Tua Katolik (OTK) Paroki Roh Kudus Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, untuk melakukan perjalanan wisata sekaligus berziarah di Gua Maria Wae Lia.

Walaupun di Labuan Bajo terdapat banyak gua Maria untuk berdoa bagi umat Katolik, namun kali ini OMK-OTK Paroki Roh Kudus memilih Gua Maria Wae Lia untuk berziarah. Gua Maria yang terletak di Kampung Culu tersebut bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat dalam waktu 45 menit dari kota Labuan Bajo. Kendati terhitung agak jauh, gua Maria ini kerap dikunjungi peziarah dari berbagai daerah untuk beribadah, termasuk OMK-OTK Paroki Roh Kudus.

Kali ini, OMK dan OTK Paroki Roh Kudus berziarah di Gua Maria Wae Lia dalam rangka menutup Bulan Maria. Sebenarnya, devosi kepada Maria pada bulan Mei ini, sudah ditekankan Paus Paulus VI dalam surat ensikliknya, The Month of Mary yang mengatakan, Bulan Mei adalah bulan di mana devosi umat beriman didedikasikan kepada Bunda Maria yang terberkati.

Gereja Katolik sendiri memiliki tradisi yang istimewa yakni mendedikasikan bulan Mei sebagai bulan Maria. Devosi kepada Bunda Maria, ibu Yesus dikhususkan dalam Gereja Katolik untuk menghormati Maria. Ada dua bulan dalam setahun yang dikhususkan untuk Maria, yakni bulan Mei disebut sebagai Bulan Maria dan Bulan Oktober sebagai Bulan Rosario.

Devosi kepada Bunda Maria ini sebenarnya sudah dibuat sejak abad ke-13. Devosi Maria pada Bulan Mei ini semakin mendapatkan tempatnya yakni sejak tahun 1700-an, dipopulerkan oleh para imam Yesuit yang kemudian menyebar sampai ke seluruh dunia.

Pada tahun 1809, Paus Pius VII ditangkap oleh para serdadu Napoleon, dan dipenjara. Di dalam penjara, Paus memohon dukungan doa Bunda Maria, agar ia dapat dibebaskan dari penjara. Paus berjanji bahwa jika ia dibebaskan, maka ia akan mendedikasikan perayaan untuk menghormati Bunda Maria. Lima tahun kemudian, pada tgl. 24 Mei, Bapa Paus dibebaskan, dan ia dapat kembali ke Roma. Tahun berikutnya ia mengumumkan hari perayaan Bunda Maria, Penolong umat Kristen.

Sejarah tersebut menumbuhkan iman umat Katolik untuk selalu berziarah dan dekat dengan Maria. Apalagi selama Covid-19, umat Katolik jarang bahkan tidak ada yang melakukan ziarah rohani.

Pantauan media ini, ungkapan kedekatan dengan Maria itu ditunjukkan Rikyardus Efendi Gere selaku koordinator dalam ziarah ini bersama sekelompok OMK-OTK yang terlihat kusuk berdoa dengan tetap menerapkan prokes Covid-19. Sesekali mereka menyanyikan lagu-lagu Maria yang penuh khidmat untuk mengisi setiap doa.

“Karena Covid-19, kita tidak pernah melakukan ziarah. Baru kali ini kita berziarah sekaligus menutup bulan Maria,” ungkap Riky.

Dalam kesempatan ziarah tersebut, Pastor Heribertus Karno, Pr selaku pembimbing rohani bagi peziarah mengungkapkan pentingnya hidup doa dalam kehidupan umat Katolik. Menurutnya, dalam Gereja Katolik, Maria menjadi model bagi umat.

” Spiritualitas hidup Maria mesti menjadi contoh bagi umat Katolik. Karena itu, penting hidup dalam doa. Bersama Maria kita berdoa menuju Allah dengan perantaraan Yesus. Kita bawa semua harapan bersama doa Maria,” ungkap Pastor Keuskupan Ruteng tersebut.

Lebih lanjut, Pastor Heri demikian disapa, menjelaskan bahwa berdoa bersama Bunda Maria pada Bulan Mei ini merupakan bentuk kepedulian umat kepada Gereja universal dan menghormati Bunda Maria sebagai teladan pribadi yang beriman kepada Tuhan.

(Florianus Jefrinus Dain)

 

 

(Nusantara Network)