Jakarta, Aktual.com- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ignasius Jonan menegaskan jika sektor migas Indonesia harus dikelola secara efisien. Seperti dikatakannya pada acara Out Look sektor ESDM untuk tahun 2017 di kawasan Kuningan, Jakarta.

Hal yang menjadi sorotannya kata Jonan bahwa dia merasa operasional kilang nasional yang selama ini dilakukan secara tidak efisien. Bahkan permasalahan ini telah menjadi pembicaraannya dengan Presiden Jokowi.

“Kilang beroperasi 800 ribu Bph. Tapi kapasitasnya 1,16 juta Bph. ini sudah bertahun-tahun tidak tumbuh. Arahan Presiden sekurangnya kebutuhan nasional kapasitas kilangnya harus sama. Memang ada yang bilang, kapasitas kilang kita ini sudah tidak efisien. Ya dibikin efisien. Wong tadinya besar kok,” jelas Jonan di Jakarta, Senin (19/12/2016)

Selanjutnya dia mencontoh Chevron Corporation (perusahaan minyak raksasa asal Amerika Serikat) sudah berusia 150 tahun, namun hanya memiliki kapitalisasi pasar USD 222 miliar. Berbeda denga Face Book yang baru berusia 10 tahun telah memiliki nilai pasar USD 348 miliar.

Kedua perbedaan itu menurutnya disebabkan kemampuan efisiensi suatu usaha. Maka dari itu, selaras dengan kemauan Presiden Jokowi, dirinya akan membuat pengelolaan migas dilakukan dengan seefisien mungkin.

“Kenapa Chevron begitu? Ini berarti industri ini tidak kompetitif menurut saya. Harus lebih kompetitif lagi. Message yang ingin kami teruskan, Presiden ingin semua sektor industri makin lama makin kompetitif,” ucap Jonan.

Untuk itu, kata dia diantaranya upaya yang dilakukan adalah efisiensi sektor migas yaitu dengan mengeluarkan skema kontrak baru sebagi pengganti skema Producer Sharing Contract (PSC) cost recovery.

“Tidak ada tujuannya skema baru untuk membuat susah satu dan lain pihak, ini supaya lebih fair saja. Semua industri harus efisien ke depan,” pungkas Jonan.
Pewarta : Dadangsah Dapunta

Artikel ini ditulis oleh:

Bawaan Situs