19 April 2026
Beranda blog Halaman 239

Dukung PBI-JK Dibenahi, F-PKB MPR RI: Ini Amanat UUD 1945

Ketua Fraksi PKB MPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz menyampaikan dukungan terhadap pembenahan program PBI-JK di Gedung MPR/DPR, Jakarta. Aktual/DOK MPR RI

Jakarta, aktual.com – Ketua Fraksi PKB MPR RI, Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz, menyampaikan dukungannya terhadap perbaikan pelaksanaan Program Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK) yang akan dilakukan oleh pemerintah sesuai hasil rapat dengan Pimpinan DPR maupun dengan Komisi IX DPR lalu. Pasalnya, program PBI-JK ini merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam menjamin hak kesehatan masyarakat kurang mampu.

Menurut Neng Eem, program ini adalah amanat dari pelaksanaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang menegaskan bahwa kesehatan adalah hak dasar setiap warga negara.

“Bagi Fraksi, program PBI-JK ini merupakan amanat dari dua pasal di UUD 1945 loh. Pertama, Pasal 28H ayat 1. Kedua, Pasal 34 ayat 2 dan 3 UUD 1945. Jelas itu tertulis, Pemerintah wajib menjalankan,” tegas Neng Eem di Gedung MPR/DPR, Jakarta, Jumat (13/2/2026).

PBI-JK sebagai Amanat Konstitusi UUD 1945

Lebih lanjut, Neng Eem yang juga Anggota Komisi IX DPR RI menyebutkan bunyi Pasal 28H ayat (1) UUD 1945, yakni “Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.” Pasal ini jelas menegaskan bahwa akses terhadap pelayanan kesehatan bukanlah sekadar kebijakan, tetapi merupakan hak konstitusional.

Di Pasal 34 bahkan tertulis secara jelas. Pasal 34 ayat (2) UUD 1945 menyatakan bahwa “Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.” Sementara Pasal 34 ayat (3) menegaskan bahwa “Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.”

“Jadi program PBI-JK yang iurannya dibayarkan oleh pemerintah bagi masyarakat miskin dan tidak mampu, merupakan implementasi langsung dari pasal-pasal tersebut,” lanjut Neng Eem yang juga Wakil Sekjen DPP PKB ini.

Namun demikian, Fraksi PKB MPR mengingatkan agar pelaksanaan PBI-JK di lapangan perlu terus diperkuat, baik dari sisi validasi data penerima manfaat, kualitas pelayanan kesehatan, hingga kesinambungan pembiayaan. Transparansi dan akuntabilitas juga menjadi kunci agar hak konstitusional masyarakat benar-benar terpenuhi, sehingga kejadian nonaktifnya status Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK) tidak terulang lagi.

Cahaya Perjalanan Menuju Allah: Antara Tawajjuh dan Muwajahah

Ratusan ikhwah toriqoh ikuti gelaran peringatan Maulid Nabi Muhammad Shalalahu alaihi wassalam, di Zawiyah Arraudhah, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (9/11). FOTO: AHMAD WARNOTO / AKTUAL

Jakarta, aktual.com – Dalam tradisi tasawuf, perjalanan menuju Allah bukan sekadar ritual lahiriah, melainkan transformasi batin yang ditandai oleh cahaya-cahaya spiritual. Imam Ibn ‘Athoillah dalam Hikam-nya menyebutkan,

اهتدى الراحلون إليه بأنوار التوجه والواصلون لهم أنوار المواجهة. فالأولون للأنوار وهؤلاء الأنوار لهم لأنهم لله لا لشيء دونه {قُلْ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ}

“Para pejalan (menuju Allah) sampai kepada-Nya dengan cahaya-cahaya pengarahan (tawajjuh), sedangkan orang-orang yang telah sampai memperoleh cahaya-cahaya perjumpaan (muwājahah). Maka yang pertama adalah untuk cahaya-cahaya itu, sedangkan yang kedua, cahaya-cahaya itulah untuk mereka. Karena mereka milik Allah, bukan milik sesuatu selain-Nya. (Katakanlah: ‘Allah,’ kemudian biarkanlah mereka tenggelam dalam kesesatan mereka bermain-main) [Al-An‘ām: 91].”

Ungkapan ini membedakan dua maqam penting: para sālik (penempuh jalan) dan para wāṣil (orang yang telah sampai). Keduanya sama-sama berada di jalan Ilahi, namun kualitas pengalaman ruhani mereka berbeda.

Cahaya Tawajjuh: Tanda Masih di Jalan

Bagi para pejalan, Allah menampakkan cahaya-cahaya sebagai peneguhan bahwa mereka masih berada di jalan yang benar. Cahaya itu hadir melalui ibadah dan amal saleh: puasa, tilawah Al-Qur’an, zikir, menyantuni anak yatim, membantu sesama Muslim, mencintai Nabi dan bershalawat kepadanya, mencintai orang-orang saleh, hingga bangun malam dalam munajat.

Semua amal tersebut melahirkan ketenangan, kelezatan ibadah, dan kejernihan hati. Itulah yang disebut sebagai anwār al-tawajjuh—cahaya pengarahan. Cahaya ini bukan tujuan akhir, melainkan tanda dan penguat dalam perjalanan.

Dalam analogi Al-Qur’an, mereka seperti orang-orang fakir dan miskin yang berhak menerima sedekah. Allah “memberi” mereka cahaya sebagai dorongan dan peneguhan, sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir dan miskin” (QS. At-Taubah: 60). Mereka fakir di hadapan Allah, membutuhkan bimbingan-Nya di setiap langkah.

Cahaya Muwajahah: Anugerah bagi yang Sampai

Berbeda dengan para pejalan, orang-orang yang telah sampai tidak lagi sekadar “mencari” cahaya. Mereka memperoleh anwār al-muwājahah—cahaya perjumpaan. Ini adalah maqam yang lebih tinggi dan lebih kuat dibanding cahaya tawajjuh.

Jika para sālik “untuk cahaya”—yakni mereka masih membutuhkan cahaya sebagai penuntun—maka para wāṣil justru “cahaya itu untuk mereka.” Cahaya menjadi bentuk pemuliaan dan realisasi kedekatan mereka dengan Allah.

Mereka telah sampai pada derajat keikhlasan total, sebagaimana isyarat ayat: “Katakanlah: ‘Allah,’ kemudian biarkanlah mereka tenggelam dalam kesesatan mereka bermain-main” (QS. Al-An‘am: 91). Artinya, fokus mereka hanya Allah semata, bukan selain-Nya.

Dari Ibadah ke Kehadiran

Pesan utama hikmah ini adalah bahwa perjalanan spiritual memiliki tahapan. Pada tahap awal, seseorang masih merasakan naik-turun spiritual, semangat dan kelelahan, terang dan redup. Namun selama ia tetap menjaga ibadah, amal, dan zikir, cahaya itu akan terus menyertainya.

Sedangkan pada tahap puncak, orientasi berubah: bukan lagi mengejar rasa atau pengalaman, melainkan totalitas penghambaan. Di titik ini, cahaya bukan sekadar pengalaman batin, tetapi menjadi identitas ruhani.

Dengan demikian, setiap Muslim diajak untuk tidak berhenti pada sensasi spiritual, melainkan terus melangkah hingga ibadah tidak lagi bergantung pada “rasa terang”, tetapi pada kesadaran bahwa seluruh hidupnya hanya untuk Allah.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Kinerja Mengejutkan, Ekonomi Malaysia Tumbuh 6,3% di Akhir 2025

Menurut Bank Negara Malaysia (BNM) dan Departemen Statistik Malaysia, produk domestik bruto (PDB) tumbuh 6,3%. Aktual/HO

Kuala Lumpur, aktual.com – Kinerja ekonomi Malaysia pada kuartal keempat 2025 melampaui seluruh perkiraan pasar, mempertegas posisinya sebagai salah satu motor pertumbuhan paling tangguh di Asia Tenggara. Pemerintah pun melihat ruang ekspansi berkelanjutan pada 2026 di tengah dukungan permintaan domestik dan ekspor yang solid.

Berdasarkan data Bank Negara Malaysia (BNM) dan Departemen Statistik Malaysia, produk domestik bruto (PDB) tumbuh 6,3% pada periode Oktober–Desember 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini lebih tinggi dari estimasi awal 5,7% dan bahkan melampaui proyeksi tertinggi dalam survei Bloomberg.

Secara kuartalan, ekonomi Malaysia tumbuh 0,8% pada kuartal terakhir dibandingkan tiga bulan sebelumnya. Sepanjang 2025, pertumbuhan mencapai 5,2%—tertinggi sejak 2022 dan melampaui kisaran proyeksi resmi pemerintah sebesar 4%–4,8%.

“Momentum pertumbuhan ini diperkirakan akan berlanjut pada 2026, didukung oleh permintaan domestik dan ekspor yang tangguh,” ujar Gubernur BNM Abdul Rasheed Ghaffour dalam pernyataan resminya, Jumat (13/2/2026).

Pasar merespons positif rilis data tersebut. Ringgit menguat 0,1% ke level 3,90 per dolar AS tak lama setelah pengumuman pada pukul 12.00 waktu setempat.

Sepanjang 2025, Malaysia muncul sebagai salah satu negara dengan performa terbaik di Asia Tenggara. Fundamental ekonomi yang kuat serta reformasi struktural pemerintah mendorong lonjakan investasi, khususnya di sektor pusat data yang berkembang pesat. Bersama Singapura dan Vietnam, Malaysia relatif mampu meredam dampak tarif tinggi Amerika Serikat dan gangguan perdagangan global.

Ekonom Oversea-Chinese Banking Corp, Lavanya Venkateswaran, menilai capaian tersebut melampaui ekspektasi pasar. “Kami memperkirakan revisi ke atas, tetapi angka ini benar-benar di atas ekspektasi. Malaysia berada dalam posisi yang menguntungkan, memanfaatkan faktor eksternal sekaligus menuai hasil reformasi domestik,” ujarnya.

Dari sisi domestik, bank sentral menilai konsumsi rumah tangga akan tetap menjadi penopang utama, didukung pertumbuhan lapangan kerja dan kenaikan upah. Tingkat pengangguran tercatat berada di level terendah dalam 11 tahun pada Desember 2025. Sementara itu, proyek-proyek investasi multi-tahun juga diproyeksikan terus mendorong aktivitas ekonomi.

Di sektor eksternal, BNM memperkirakan ekspor akan tetap solid berkat permintaan global yang stabil, khususnya untuk produk elektronik dan listrik. Pemulihan sektor pariwisata juga disebut akan memberi kontribusi tambahan terhadap pertumbuhan.

Survei Bloomberg News menunjukkan median proyeksi pertumbuhan Malaysia pada 2026 berada di kisaran 4,5%, mendekati batas atas target resmi pemerintah sebesar 4%–4,5%. Bank sentral diperkirakan akan memperbarui proyeksi tersebut dalam laporan tahunan yang dirilis akhir Maret mendatang.

BNM juga menilai penguatan ringgit masih ditopang fundamental domestik yang kokoh. Dalam 12 bulan terakhir, mata uang Malaysia menjadi yang berkinerja terbaik di Asia dengan apresiasi lebih dari 14% terhadap dolar AS. Pemerintah dan bank sentral disebut terus mendorong arus modal dua arah yang sehat di pasar keuangan.

Dari sisi harga, inflasi pada 2026 diperkirakan tetap moderat seiring pelonggaran tekanan biaya global. Reformasi kebijakan domestik yang diterapkan pada 2025—seperti subsidi bahan bakar terarah dan perluasan pajak penjualan serta jasa—diprediksi hanya berdampak moderat terhadap inflasi tahun ini.

Perbaikan juga terlihat pada fiskal negara. Menteri Komunikasi Fahmi Fadzil dalam konferensi pers terpisah menyebut defisit fiskal Malaysia menyempit menjadi 3,7% dari PDB pada 2025, lebih rendah dari target 3,8%.

Dengan kombinasi pertumbuhan kuat, inflasi terkendali, dan defisit yang menyempit, Malaysia memasuki 2026 dengan fondasi ekonomi yang relatif kokoh di tengah ketidakpastian global.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Okt

Ketegangan Meningkat, Jepang Sita Kapal China di Zona Ekonomi Eksklusif

Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. Aktual/Bloomberg

Jakarta, aktual.com – Pemerintah Jepang mengumumkan telah menyita sebuah kapal nelayan asal China dan menangkap kaptennya setelah kapal tersebut memasuki Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Jepang serta mencoba melarikan diri dari pemeriksaan. Insiden ini menambah ketegangan baru dalam hubungan kedua negara.

Badan Perikanan Jepang dalam pernyataan resminya menyebutkan, kapten kapal ditangkap sekitar pukul 12.23 siang pada Kamis (12/2). Penangkapan dilakukan setelah kapal terdeteksi memasuki ZEE Jepang di lepas pantai Prefektur Nagasaki dan berupaya menghindari interogasi dengan melarikan diri.

Menurut lembaga tersebut, ini merupakan penyitaan kapal nelayan China pertama oleh Jepang sejak 2022.

Juru bicara utama pemerintah Jepang, Minoru Kihara, menyatakan bahwa detail insiden masih dalam proses penyelidikan.

“Guna mencegah dan menjerat kegiatan penangkapan ikan ilegal oleh kapal asing, kami akan terus melakukan penegakan hukum dengan sikap yang tegas,” tegas Kihara dalam konferensi pers rutin.

Hingga berita ini diturunkan, Kementerian Luar Negeri China belum memberikan tanggapan resmi.

Hubungan Kian Memburuk

Penangkapan tersebut terjadi di tengah memburuknya hubungan Beijing dan Tokyo menyusul pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, pada November lalu. Dalam sidang parlemen, Takaichi menyatakan bahwa invasi China ke Taiwan secara paksa dapat menjadi ancaman eksistensial bagi Jepang.

Pernyataan itu dipandang signifikan karena mengisyaratkan kemungkinan Jepang mengerahkan militernya jika terjadi aksi militer China terhadap Taiwan. Beijing pun menuntut agar Takaichi menarik komentarnya.

Sebagai respons, China memberlakukan kontrol ekspor serta mengeluarkan imbauan kepada warganya untuk tidak bepergian ke Jepang.

Secara hukum internasional, ZEE merupakan wilayah laut hingga 200 mil laut dari garis pantai suatu negara yang memberikan hak eksklusif untuk mengeksplorasi dan memanfaatkan sumber daya alam. Peta yang dirilis Badan Perikanan Jepang menunjukkan kapal China tersebut memang sempat berada di dalam ZEE, meskipun penangkapan kapten dilakukan setelah kapal keluar dari zona tersebut.

Insiden Langka

Penyitaan kapal dan penangkapan awak asing oleh Jepang tergolong jarang terjadi. Data Badan Perikanan mencatat, dalam lima tahun hingga 2025, hanya terdapat 30 pemeriksaan fisik terhadap kapal asing. Dari jumlah itu, hanya lima kapal yang disita, dan satu di antaranya kapal asal China pada 2022.

Takaichi sendiri menolak mencabut pernyataannya. Namun usai memenangkan pemilu dengan hasil telak, ia menyatakan Jepang akan terus berkomunikasi dengan China di “berbagai tingkatan” serta merespons situasi secara “tenang dan tepat demi kepentingan nasional Jepang.”

Media pemerintah China, termasuk Xinhua, merespons kemenangan Takaichi dengan memperingatkan dampak negatif terhadap keamanan regional. Xinhua menilai kebijakan Takaichi berpotensi melepaskan “tiga iblis”, yakni revisi konstitusi, peningkatan anggaran pertahanan, dan kepemilikan senjata ofensif.

Duta Besar China untuk Jepang, Wu Jianghao, menyebut hubungan bilateral kedua negara kini berada dalam situasi “paling parah dan sulit” sejak normalisasi hubungan diplomatik pada 1972.

Ketegangan serupa pernah memuncak pada 2010 ketika seorang kapten kapal China ditahan selama 17 hari setelah kapalnya bertabrakan dengan dua kapal Penjaga Pantai Jepang di dekat kepulauan sengketa di Laut China Timur. Wilayah tersebut dikenal sebagai Kepulauan Senkaku di Jepang dan Diaoyu di China.

Tahun lalu, kapal pemerintah China tercatat berada di sekitar wilayah tersebut selama 356 hari, meningkat dibandingkan 355 hari pada tahun sebelumnya, menandai intensitas patroli yang terus berlanjut di kawasan sengketa itu.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Okt

BGN Siapkan Skema Khusus MBG Selama Ramadan, Ini Penjelasannya

Siswa mengembalikan ompreng makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 13 Depok, Jawa Barat, Senin (6/10/2025). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/YU
Siswa mengembalikan ompreng makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 13 Depok, Jawa Barat, Senin (6/10/2025). ANTARA FOTO/Galih Pradipta/YU

Jakarta, aktual.com – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menjelaskan mekanisme pembagian program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan di wilayah mayoritas non-Muslim. Kebijakan tersebut, kata dia, tetap disesuaikan dengan kondisi keberagaman masyarakat di setiap daerah.

Dadan menyampaikan, pola distribusi makanan akan mengikuti mekanisme yang diterapkan di daerah mayoritas Muslim selama bulan puasa. Dengan skema itu, siswa yang menjalankan ibadah puasa tetap dapat menerima manfaat program tanpa terganggu aktivitas ibadahnya.

“Kalau di satu sekolah ada yang puasa dan ada yang tidak puasa, makanannya seperti di daerah puasa, yaitu dibawa pulang,” ujar Dadan usai menghadiri acara Ekonomi Outlook 2026, Jumat (13/2).

Menurutnya, pendekatan tersebut dipilih untuk menjaga keseimbangan antara pelaksanaan program dan penghormatan terhadap praktik keagamaan peserta didik. Dengan sistem makanan dibawa pulang, siswa yang berpuasa dapat mengonsumsinya saat waktu berbuka.

Selain mempertimbangkan aspek keagamaan, BGN juga memastikan standar gizi dalam program MBG tetap terpenuhi. Koordinasi dengan pihak sekolah dan pemerintah daerah terus dilakukan agar distribusi makanan berjalan lancar serta tepat sasaran.

Dadan menegaskan, pendekatan fleksibel ini penting untuk menjaga tujuan utama program MBG, yakni meningkatkan kualitas gizi peserta didik sekaligus menghormati keberagaman sosial dan budaya masyarakat Indonesia.

Ia berharap pelaksanaan MBG selama Ramadan dapat berlangsung kondusif di seluruh daerah, termasuk wilayah mayoritas non-Muslim, sehingga manfaat program tetap dirasakan secara merata oleh para siswa.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Okt

Terungkap! Ini Penyebab 250 Restoran Tutup Setiap Bulan di Singapura

Singapura adalah negara maju di Asia Tenggara serta menjadi salah satu pusat keuangan dan bisnis di dunia. Aktual/HO

Jakarta, aktual.com – Industri makanan dan minuman (food and beverage/F&B) di Singapura tengah menghadapi tekanan berat. Ratusan restoran dan kafe dilaporkan tutup setiap bulan akibat lonjakan biaya sewa, tenaga kerja, serta persaingan yang semakin ketat.

Dilansir dari VnExpress, Jumat (13/2/2026), data Accounting and Corporate Regulatory Authority mencatat sebanyak 3.148 bisnis makanan menghentikan operasionalnya sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat dibandingkan 3.047 bisnis pada 2024, atau setara dengan rata-rata sekitar 250 restoran tutup setiap bulan.

Gelombang penutupan itu turut menyeret sejumlah nama besar. Restoran Cantonese legendaris Ka-Soh yang telah berdiri 86 tahun di Greenwood Avenue, resmi menutup operasionalnya pada 28 September setelah menghadapi kenaikan sewa hingga 30 persen.

Menyusul kemudian Relish, restoran kasual yang telah beroperasi selama 19 tahun dan dijadwalkan tutup pada 29 Maret. Selain itu, restoran fine dining Ibid yang dikelola Woo Wai Leong, pemenang MasterChef Asia 2015, juga akan menghentikan operasionalnya.

“Kami sudah bekerja sangat keras selama bertahun-tahun, tetapi rasanya kami sudah tidak sanggup lagi,” ujar pemilik Ka-Soh, Cedric Tang, seperti dikutip dari Channel NewsAsia (CNA).

Tang menjelaskan, untuk menutup kenaikan sewa dari sekitar S$12.000 menjadi S$15.000 per bulan, pihaknya harus menjual tambahan 300 mangkuk mi sup ikan setiap bulan. Namun, menaikkan harga bukan opsi bagi bisnis warisan seperti Ka-Soh yang ingin tetap terjangkau bagi pelanggan setia.

Ketua Singapore Tenants United for Fairness (SGTUFF), Terence Yow, menyebut mayoritas penyewa melaporkan kenaikan sewa signifikan. “Di dalam komunitas kami, mayoritas penyewa melaporkan kenaikan sewa antara 20 hingga 49 persen,” ujarnya.

Meski demikian, kalangan pengamat properti menilai persoalan sewa bukan satu-satunya faktor. Ethan Hsu dari Knight Frank Singapura mengatakan banyak kontrak diperbarui setelah periode pandemi COVID-19, sementara biaya konstruksi dan perawatan juga meningkat.

“Banyak orang terpaku pada anggapan bahwa pemilik properti serakah. Namun kenyataannya, sewa hanyalah salah satu komponen dari berbagai biaya yang harus ditanggung penyewa,” jelas Hsu.

Selain itu, biaya tenaga kerja turut menjadi beban berat. Restoran kesulitan merekrut koki dan staf dapur, sementara perusahaan besar mampu menawarkan gaji lebih tinggi. Asosiasi Restoran Singapura bahkan menyebut industri tengah menghadapi krisis tenaga kerja serius.

Ironisnya, jumlah gerai makanan justru terus bertambah. Data menunjukkan hampir 23.600 gerai makanan beroperasi di Singapura tahun lalu, meningkat tajam dari sekitar 17.200 pada 2016. Persaingan pun semakin sengit karena pemain baru terus bermunculan.

Mengutip The Straits Times, Deputi Perdana Menteri Gan Kim Yong mengungkapkan data tersebut saat menjawab pertanyaan di parlemen.

“Membuka restoran itu mudah, tetapi menjalankan restoran dengan baik adalah hal yang berbeda,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa mempertahankan bisnis agar tetap menguntungkan membutuhkan manajemen kuat, konsistensi kualitas makanan dan layanan, serta kemampuan membedakan diri di tengah persaingan.

Data juga menunjukkan lebih dari 60 persen restoran yang tutup pada 2025 baru beroperasi kurang dari lima tahun. Bahkan sekitar 82 persen di antaranya belum pernah membukukan keuntungan sejak pertama kali dibuka.

Pengamat industri menilai banyak pelaku usaha baru terlalu mengandalkan semangat tanpa perencanaan model bisnis yang matang. Di sisi lain, konsumen Singapura yang kini lebih sering makan di luar negeri seperti Johor Bahru turut memengaruhi permintaan domestik.

Ke depan, pelaku usaha yang ingin bertahan dinilai perlu menjaga efisiensi operasional, memastikan biaya sewa tidak melebihi 20 persen dari total pengeluaran, serta memanfaatkan teknologi dan layanan pesan antar untuk memperluas pasar di tengah tekanan industri yang semakin berat.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Okt

Berita Lain