14 April 2026
Beranda blog Halaman 257

Harga Emas Galeri24 dan UBS di Pegadaian Pagi Ini Stabil, Cek Rinciannya

Arsip foto - Seorang petugas menunjukan koleksi lempengan emas di Pegadaian Galeri24, Kota Pekanbaru, Riau. ANTARA FOTO/FB Anggoro/foc/pri.
Arsip foto - Seorang petugas menunjukan koleksi lempengan emas di Pegadaian Galeri24, Kota Pekanbaru, Riau. ANTARA FOTO/FB Anggoro/foc/pri.

Jakarta, aktual.com – Harga emas yang dikutip dari laman resmi Sahabat Pegadaian di Jakarta, Kamis (5/2) pukul 07.45 WIB, menunjukkan dua produk buatan Galeri24 dan UBS kompak tak mengalami perubahan dari harga yang tertera kemarin.

Adapun emas Galeri24 stabil di angka Rp2.984.000 per gram, begitu pula emas UBS tak berubah tetap di angka Rp2.999.000 per gram.

Untuk Galeri24 dijual dengan kuantitas 0,5 gram hingga 1.000 gram atau 1 kilogram. Sementara emas UBS dijual dengan kuantitas 0,5 gram hingga 500 gram.

Berikut daftar lengkap harga emas masing-masing produk.

Galeri24

0,5 gram: Rp1.566.000

‎1 gram: Rp2.984.000.

‎2 gram: Rp5.897.000

‎5 gram: Rp14.634.000

‎10 gram: Rp29.190.000

‎25 gram: Rp72.584.000

‎50 gram: Rp145.052.000

‎100 gram: Rp289.962.000

‎250 gram: Rp723.123.000

‎500 gram: Rp1.446.245.000

‎1.000 gram: Rp2.892.489.000

UBS

0,5 gram: Rp1.621.000

‎1 gram: Rp2.999.000

‎2 gram: Rp5.951.000

‎5 gram: Rp14.705.000

10 gram: Rp29.256.000

‎25 gram: Rp72.997.000

‎50 gram: Rp145.693.000

‎100 gram: Rp291.272.000

250 gram: Rp727.963.000

‎500 gram: Rp1.454.216.000

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Mensesneg Ingatkan Kepala Daerah Proaktif Pantau Warga Rentan Usai Tragedi Siswa SD di NTT

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjawab pertanyaan wartawan dalam sesi jumpa pers di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Rabu (4/2/2026). ANTARA/Maria Cicilia Galuh.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjawab pertanyaan wartawan dalam sesi jumpa pers di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Rabu (4/2/2026). ANTARA/Maria Cicilia Galuh.

Jakarta, aktual.com – Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi, yang juga Juru Bicara Presiden RI, mengingatkan pemerintah daerah termasuk kepala desa dan kepala dusun untuk aktif selalu memantau keadaan warganya, khususnya mereka yang merupakan kelompok rentan.

Langkah proaktif pemerintah daerah, menurut Prasetyo, menjadi salah satu cara untuk mencegah insiden tragis yang dialami seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara, kembali berulang ke depannya.

“Kepala desa atau kepala dusun yang terus-menerus melakukan monitoring, dan melaporkan manakala ada warganya yang belum termasuk, atau belum tercatat sebagai penerima manfaat dari program-program pemerintah,” kata Prasetyo Hadi menjawab pertanyaan wartawan saat jumpa pers di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, Rabu (4/2) malam.

Pras — sapaan akrab Prasetyo — mengatakan pemerintah daerah wajib proaktif mengecek keadaan warganya untuk menunjukkan kehadiran negara terutama bagi masyarakat yang masuk dalam kategori miskin ekstrim dan miskin.

Pras pun berjanji pemerintah akan memikirkan cara-cara untuk mencegah insiden yang terjadi di NTT itu kembali terjadi. Sejauh ini, Pras menyebut dirinya telah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Sosial Saifullah Yusuf, dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.

“Kami memastikan kalau pun belum bisa kita berdayakan secara mandiri, tetapi kehadiran atau intervensi pemerintah harus kita pastikan untuk menyentuh ke seluruh lapisan terutama yang paling bawah sehingga kejadian-kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” ujar Prasetyo Hadi.

Dalam kesempatan yang sama, Pras menyatakan insiden di NTT itu pun menjadi bahan evaluasi kebijakan terkait penghapusan kemiskinan yang saat ini berjalan.

“Ini bagian dari yang harus kita evaluasi secara menyeluruh, masalah pendataan, masalah laporan, termasuk kepedulian sosial kita,” ujar Pras.

Seorang siswa SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya, inisial MGT (usia 47 tahun).

Dalam surat itu, sebagaimana telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan:

“Surat buat Mama ****
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama”.

Korban tersebut diketahui tinggal bersama neneknya karena ibundanya, yang merupakan orang tua tunggal, bekerja sebagai petani dan serabutan. Ibunda korban mengurusi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Warga dan WALHI Keluhkan Aktivitas Pertambangan PT Harita Nickel di Halmahera Selatan

Sejumlah warga mengeluhkan aktivitas pertambangan nikel yang menyebabkan penurunan kualitas hidup warga dan kerusakan lingkungan di Halmahera Selatan, Maluku Utara. Foto: Ist

Jakarta, aktual.com – Sejumlah warga dan aktivis lingkungan di Maluku Utara mengeluhkan aktivitas pertambangan nikel di Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Mereka menyebut, aktivitas pertambangan nikel oleh PT Harita Nickel, anak usaha Harita Group, tidak hanya menyerobot lahan, namun juga merusak lingkungan, ancaman kesehatan, hingga tekanan sosial dan ekonomi.

Seperti disampaikan Samsir Lawendi, warga desa Kawasi. Ia mengaku masyarakat tidak pernah dilibatkan secara kolektif saat Harita Group masuk ke wilayah tersebut. Ia juga mengungkapkan praktik perampasan lahan dan kriminalisasi terhadap warga yang mempertahankan ruang hidupnya.

“Ada lahan-lahan warga yang mereka ambil tanpa memberi tahu. Jika warga protes maka itu bahkan dikriminalisasi atau diintimidasi bahkan dipenjara. Sudah ada yang kena penjara waktu itu karena mempertahankan lahannya yang diambil paksa oleh perusahaan yang sampai saat ini belum terselesaikan persoalan itu,” kata Samsir dalam sebuah pernyataan, Rabu (4/2/2026)

Samsir pun mengaku saat ini khawatir karena adanya rencana relokasi warga desa Kawasi ke Ecovillage Kawasi yang dibangun oleh Harita Group. Samsir menilai relokasi tersebut ditolak warga karena mengancam keberlanjutan mereka sebagai komunitas adat.

“Yang diomongkan oleh pemerintah di sana itu bahwa sudah ada perda atau pergub serta juknisnya, kami berharap supaya bisa dicabut karena di sana adalah tanah adat kami dan kami hidup berdampingan sangat baik sesama kami warga,” ujarnya.

Kerusakan Lingkungan dan Mata Pencaharian

Nurhayati Jumadi, warga lainnya, mengatakan kualitas air berubah sejak pertambangan dimulai. Ia mengeluhkan ada perubahan rasa dari air yang mereka konsusi

“Dulu air kami itu rasanya manis gitu. Kalau misalnya buat teh tidak perlu banyak gula, tetapi sekarang berubah rasa, asin. Kalau air ini tidak dimasak dengan baik, kami akan sakit perut. Itu sudah terjadi, sudah kami rasakan. Pernah mulai 2021 ada yang terjadi perubahan air itu, setiap kami masak itu ada seperti gelembung sabun gitu,” ujarnya.

Mata pencaharian warga pun turut terdampak. Sarbanun Lewer mengaku, hasil tangkapan ikannya berkurang drastis sejak aktivitas pertambangan dimulai di Pulau Obi.

“Kalau dulu dengan suami saya itu pergi menjaring dalam 2-3 jam saja kita sudah dapat 2-3 juta. Tapi kalau sekarang kita pergi satu hari belum tentu kita bisa dapat ikan (untuk) makan,” katanya.

Ia pun mengaku putus asa dengan kondisi tersebut hingga tidak lagi melaut untuk mencari ikan. Bahkan, kondisi laut pun berubah menjadi keruh, dan berwarna kuning.

“Jaring kami tidak putih lagi. Begitu kami taruh, jangankan 1 jam, 15 menit saja kami angkat itu sudah kuning, bukan berupa jaring lagi, sudah berupa lumpur,” ujarnya.

Direktur Eksekutif WALHI Maluku Utara Faisal Ratuela mengatakan, saat ini kondisi pulau di sekitar Halmahera Selatan sangat rentan akibat masifnya izin pertambangan dan laju ekstraksi oleh PT Harita Nickel. Dia mencatat, Pulau Obi, dengan luas 2.400 kilometer persegi, telah dibebani 21 izin pertambangan.

“Laju ekstraksinya itu ada 21 izin pertambangan yang hampir menguasai 70 persen wilayah Obi dan warga di sana pasti akan hilang,” katanya.

Faisal mengatakan, pulau-pulau kecil memiliki daya dukung dan daya tampung terbatas. Ketika kawasan hutan dilepaskan untuk ekspansi industri ekstraktif tanpa mempertimbangkan buffer zone dan daerah aliran sungai (DAS), hal ini berpotensi memicu bencana seperti banjir dan tanah longsor, pencemaran, dan mengancam sumber pangan masyarakat di darat maupun di laut.

“Kondisi ini memperlihatkan bahwa industri nikel di Pulau Obi tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga secara langsung menggerus ketahanan pangan dan keselamatan hidup masyarakat yang berhadapan langsung dengan operasi Harita Group,” kata Faisal.

Viral Video Penyerobotan Tanah

Sebelumnya, beredar sebuah video yang diunggah di TikTok oleh akun @vira64196 yang memvisualkan dugaan adanya praktik ‘premanisme korporasi’ dengan merampas lahan milik warga secara ilegal.

Lahan tersebut milik Keluarga Nanlessy yang terletak di Desa Kawasi, Kabupaten Halmahera Selatan.

Dalam video nampak para pekerja beraktivitas. Mereka menempatkan kontainer di atas lahan yang diklaim sebagai milik keluarga Nanlessy.

Dalam unggahan itu disebutkan, aktivitas yang dilakukan oleh PT Harita Group tersebut, di atas lahan yang belum ada pembayaran maupun kesepakatan pelepasan lahan.

‎”Ini kurang ajar. Lahan ini milik kami. Sudah bilang jangan kerja dulu karena belum ada pembayaran. Tara bole kase rusak di sini, karena di bawah ini tong pe kehidupan,” ujar seorang wanita dalam video.

“Sapa yang suru kerja di sini? Tong so tara jual tong pe lahan. Sudah bilang berunding dulu dengan keluarga supaya tidak jadi masalah di kemudian hari,” imbuhnya.

‎Sementara, berdasarkan hasil kajian dari Pemerhati Kelola Sumber Daya Alam (PKSDA) dan Pengurus Besar Forum Mahasiswa Maluku Utara (PB FORMMALUT) Jabodetabek diduga Harita Group telah melanggar aturan perundang-undangan dalam melakukan aktivitas pertambangan di Halmahera Selatan.

Koordinator PKSDA, Hamdan Halil menduga, Harita Group telah melanggar Pasar 28H ayat (4) UUD 1945 yang menjamin hak milik pribadi tak boleh dirampas secara sewenang-wenang oleh siapapun.

“Apa yang dilakukan Harita Group adalah bentuk pembangkangan hukum,” ujar Hamdan dalam keterangannya kepada awak media.

Ada tiga poin berdasarkan kajian hukum PKSDA yang disebutkan dapat menyeret konglomerasi milik keluarga Lim Hariyanto tersebut ke meja hijau.

Pertama, tindak pidana penyerobotan yang dituangkan dalam Pasal 502 KUHP baru. Disebutkan, menggunakan tanah orang lain tanpa hak sah diancam pidana penjara maksimal 5 tahun.

“Mereka membangun konstruksi di atas tanah rakyat sebelum ada ganti rugi. Ini jelas melanggar PP No.19/2021 tentang Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum,” tegasnya.

Kedua, perbuatan melawan hukum (dalam pasal 1365 KUHPerd). Di mana, Harita Group wajib mengganti rugi atas kerusakan ratusan pohon kelapa dan hilangnya sumber ekonomi 12 ahli waris.

Ketiga, terkait dugaan pelanggaran lingkungan. Di mana, aktivitas konstruksi tanpa izin lingkungan di area sengketa dapat memicu sanksi pidana berdasarkan UU No.31 tahun 2009.

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi

KPK Bongkar OTT Ditjen Bea Cukai, Miliaran Rupiah dan 3 Kg Emas Disita

Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Aktual/HO

Jakarta, aktual.com – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyita uang tunai senilai miliaran rupiah serta logam mulia emas sekitar tiga kilogram dalam operasi tangkap tangan (OTT) di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan.

“Untuk uang, senilai miliaran rupiah. Kemudian logam mulia itu ada mungkin sekitar tiga kilogram emas,” ujar Juru Bicara KPK Budi Prasetyo di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Rabu.

Budi menjelaskan, uang tunai dan logam mulia tersebut merupakan barang bukti yang diamankan KPK dalam OTT yang menjerat Rizal, mantan Direktur Penindakan dan Penyidikan pada Ditjen Bea Cukai Kementerian Keuangan.

Saat ini, Rizal diketahui menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Sumatera Bagian Barat. Ia baru dilantik oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada 28 Januari 2026.

Sebelumnya, pada Selasa (4/2/2026), KPK mengonfirmasi telah melakukan operasi tangkap tangan di lingkungan Ditjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. Namun, KPK belum memerinci secara lengkap konstruksi perkara maupun pihak-pihak lain yang terlibat dalam OTT tersebut.

OTT di Ditjen Bea Cukai ini menjadi operasi tangkap tangan kelima yang dilakukan KPK sepanjang tahun 2026. Selain itu, OTT ini juga merupakan yang ketiga kalinya menyasar lingkungan Kementerian Keuangan pada tahun ini.

KPK mengawali tahun 2026 dengan OTT pada 9–10 Januari 2026 dengan mengamankan delapan orang. Selanjutnya, pada 11 Januari 2026, KPK mengungkapkan OTT terkait dugaan suap dalam pemeriksaan pajak di lingkungan Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Madya Jakarta Utara.

Dalam perkara tersebut, KPK menetapkan lima orang sebagai tersangka, yakni Kepala KPP Madya Jakarta Utara Dwi Budi (DWB), Kepala Seksi Pengawas dan Konsultasi Agus Syaifudin (AGS), Tim Penilai Askob Bahtiar (ASB), konsultan pajak Abdul Kadim Sahbudin (ABD), serta staf PT Wanatiara Persada Edy Yulianto (EY).

Selain itu, pada 4 Februari 2026, KPK juga mengumumkan OTT terhadap Kepala KPP Madya Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Mulyono. OTT tersebut berkaitan dengan dugaan korupsi dalam proses restitusi pajak pertambahan nilai (PPN) di sektor perkebunan.

Hingga kini, KPK masih terus mendalami rangkaian OTT tersebut dan belum menyampaikan secara rinci nilai total kerugian negara maupun konstruksi perkara secara menyeluruh.

Kasus Bocah Bunuh Diri, Gubernur NTT Sebut Keluarga Tak Terima Bansos

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena. Aktual/HO

Kupang, aktual.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Melki Laka Lena menyatakan keluarga bocah sekolah dasar yang meninggal dunia akibat bunuh diri di Kabupaten Ngada tidak tercatat sebagai penerima bantuan sosial dari pemerintah.

Melki menjelaskan, hal tersebut disebabkan persoalan administrasi kependudukan keluarga korban yang belum tertata dengan baik setelah berpindah domisili.

“Ini saya tahu ternyata data kependudukannya tidak ditopang. Dia pindah dari Nagekeo ke Jerebuu, ternyata administrasi kependudukannya belum diamankan,” kata Melki di Kupang, Rabu.

Pernyataan itu disampaikan Melki saat menanggapi informasi bahwa orang tua korban tidak terdaftar sebagai penerima bantuan sosial pemerintah.

Ia pun meminta pemerintah daerah setempat segera menyelesaikan persoalan administrasi tersebut. Menurutnya, masalah itu seharusnya dapat ditangani dengan cepat karena hanya menyangkut kelengkapan dokumen.

“Ini kan cuma soal kertas selembar. Segera dibereskan. Hal-hal seperti ini seharusnya tidak terjadi,” ujarnya.

Meski demikian, Melki menegaskan dirinya tidak ingin menyalahkan pihak mana pun atas tidak diterimanya bantuan sosial oleh keluarga korban. Ia lebih menekankan pentingnya pembenahan data agar kejadian serupa tidak terulang.

Ia juga memerintahkan seluruh kepala daerah di NTT untuk melakukan pendataan ulang secara menyeluruh terhadap keluarga miskin yang layak menerima bantuan sosial, tidak hanya di Kabupaten Ngada.

“Saya tidak ingin kejadian seperti ini terulang. Semua kepala daerah harus benar-benar memastikan data warga miskin yang berhak menerima bantuan itu akurat,” katanya.

Selain itu, Melki menyebut pemerintah daerah telah berdiskusi untuk memberikan bantuan lanjutan kepada keluarga korban, termasuk membangun rumah layak huni serta bantuan material lainnya.

Sebelumnya, seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, NTT, ditemukan meninggal dunia setelah mengakhiri hidupnya. Korban diketahui meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya yang berinisial MGT (47).

Dalam surat tersebut, yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan pesan perpisahan kepada sang ibu.

Korban diketahui tinggal bersama neneknya. Sementara ibundanya, yang merupakan orang tua tunggal, bekerja sebagai petani dan buruh serabutan untuk menghidupi lima orang anak, termasuk korban.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Dino Patti Djalal Tangkap Sikap Realistis Prabowo soal Board of Peace untuk Gaza

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI Dino Patti Djalal usai bertemu Prabowo di Istana Merdeka, Rabu (4/2). Aktual/BPMI-SETNEG

Jakarta, aktual.com – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI Dino Patti Djalal mengungkapkan kesannya usai berdialog dengan Presiden RI Prabowo Subianto terkait konflik Gaza. Dalam pertemuan tersebut, Dino menilai Prabowo mengedepankan pendekatan yang sangat realistis, khususnya dalam melihat Board of Peace sebagai opsi paling konkret yang saat ini tersedia untuk mendorong gencatan senjata dan perdamaian.

Hal itu disampaikan Dino usai bertemu Prabowo di Istana Merdeka, Rabu (4/2).

Menurut Dino, Prabowo berpandangan bahwa hingga saat ini Board of Peace merupakan satu-satunya solusi nyata yang berada di tingkat global. Tidak ada alternatif lain yang benar-benar dapat diandalkan untuk menghentikan konflik yang berkepanjangan di Gaza.

“Sekarang ini memang satu-satunya opsi di atas meja adalah mengenai Board of Peace. Kan tidak ada opsi lain, dan faktanya adalah Board of Peace ini yang menjadi bagian dari solusi untuk menghentikan gencatan senjata,” ujar Dino kepada wartawan.

Dino menambahkan, Prabowo juga bersikap realistis dalam memasang ekspektasi terhadap peran Board of Peace. Presiden, kata dia, menyadari adanya risiko besar, termasuk kuatnya pengaruh Israel terhadap kebijakan Amerika Serikat (AS) sebagai aktor kunci dalam dewan tersebut.

Meski demikian, Prabowo meyakini pengaruh tersebut dapat diimbangi dengan membangun kekompakan negara-negara Islam yang tergabung dalam Board of Peace.

“Dengan kata lain, kalau leverage Indonesia tidak begitu besar, misalnya, akan lebih besar karena kita selalu menjaga kekompakan dengan negara-negara Islam seperti Arab Saudi, Turki, Mesir, Yordania, dan lain sebagainya. Jadi Beliau cukup realistis, ada risikonya,” imbuh Dino.

Lebih lanjut, Dino mengungkapkan bahwa Prabowo juga menekankan pentingnya sikap kehati-hatian dalam mengikuti dinamika Board of Peace. Bahkan, Presiden disebut berulang kali menegaskan bahwa Indonesia tidak akan ragu untuk keluar dari forum tersebut apabila langkah-langkah yang diambil bertentangan dengan prinsip dan kepentingan nasional.

“Ini berkali-kali Beliau tekankan. Beliau tidak akan ragu, termasuk kalau yang lain tetap masuk. Nah ini yang saya tangkap sebagai suatu penekanan dan penegasan yang kami apresiasi,” katanya.

Dino juga menyoroti suasana diskusi dalam pertemuan tersebut yang dinilainya sangat terbuka, candid, dan berlangsung dua arah. Tidak ada pembatasan topik, termasuk pembahasan mengenai risiko, skenario terburuk, hingga potensi dampak negatif bagi Indonesia ke depan.

“Saya surprise karena suasananya totally open. Diskusinya tidak satu arah, sangat terbuka, penuh dengan masukan, kritik, risiko, dan semua itu ditampung dan direspons langsung oleh Presiden,” ujar Dino.

Dalam diskusi itu, Prabowo kembali menegaskan pendekatan realistisnya terhadap konflik Gaza. Presiden menilai Board of Peace sebagai the only game in town, tanpa adanya alternatif solusi lain yang benar-benar tersedia di tingkat global saat ini.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Berita Lain