11 April 2026
Beranda blog Halaman 289

Peta Jalan Dekarbonisasi Transportasi Difinalkan

Jakarta, Aktual.com – Pemerintah terus memperkuat percepatan dekarbonisasi sektor transportasi nasional sejalan dengan target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). Subsektor transportasi ditargetkan berkontribusi sebesar 5 persen terhadap penurunan emisi GRK sektor energi nasional pada 2030.

Untuk mendukung target tersebut, Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Kemenko Infrastruktur) menggelar Town Hall Meeting: Dekarbonisasi Transportasi Indonesia di Jakarta, Senin (26/1).

Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Rachmat Kaimuddin, mengatakan forum ini penting untuk menyatukan arah kebijakan lintas sektor.

“Dekarbonisasi transportasi harus dikerjakan bersama, tidak bisa parsial,” ujarnya.

Kegiatan ini menjadi wadah untuk menjaring masukan dari para pemangku kepentingan terkait penyusunan Peta Jalan Dekarbonisasi Transportasi yang tengah disiapkan oleh Kementerian Perhubungan. Peta jalan tersebut disusun dengan pendekatan teknokratik dan mencakup strategi pengurangan emisi terintegrasi di seluruh subsektor transportasi, mulai dari darat, perkeretaapian, laut, hingga udara.

“Pendekatannya menyeluruh agar dampaknya nyata,” kata Rachmat.

Saat ini, peta jalan untuk subsektor transportasi darat dan perkeretaapian telah memasuki tahap finalisasi. Pemerintah menilai kedua moda tersebut memiliki potensi besar dalam menekan emisi, terutama melalui peralihan ke kendaraan rendah emisi serta peningkatan angkutan massal berbasis rel.

Selain itu, Kemenko Infrastruktur mendorong penguatan dekarbonisasi transportasi udara melalui pembentukan Tim Nasional Pengembangan Industri Bahan Bakar Penerbangan Berkelanjutan (Sustainable Aviation Fuel/SAF). Rachmat menegaskan pengembangan SAF menjadi salah satu prioritas. “Transportasi udara perlu solusi transisi yang realistis,” ujarnya.

Town Hall Meeting ini juga membuka ruang dialog dan konsultasi interaktif lintas kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, badan usaha, serta organisasi penelitian dan asosiasi. Forum ini dimanfaatkan untuk menyosialisasikan arah kebijakan transportasi berkelanjutan nasional sekaligus menginisiasi proyek-proyek hijau sektor transportasi yang berpotensi memperoleh dukungan insentif fiskal, nonfiskal, serta pembiayaan hijau.

Untuk memperkuat koordinasi, kegiatan ini dihadiri perwakilan Kementerian Keuangan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perhubungan, Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bank Indonesia, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, serta BUMN, BUMD, dan pelaku sektor swasta. Pemerintah berharap sinergi tersebut dapat mempercepat pencapaian target penurunan emisi sektor transportasi secara terukur dan berkelanjutan.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Menhan Temui Prabowo di Hambalang, Pastikan Stabilitas Nasional Aman dan Tugas Strategis TNI Berjalan

Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI) Sjafrie Sjamsoeddin menghadiri pertemuan yang dipimpin Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bersama sejumlah anggota Kabinet Merah Putih di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada Minggu (25/1/2026). Aktual/BPMI-SETNEG

Jakarta, aktual.com – Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin mengungkap isi pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto di Hambalang, Jawa Barat, Minggu (25/1/2026) malam. Pertemuan tersebut membahas laporan situasi nasional serta pelaksanaan tugas-tugas strategis Tentara Nasional Indonesia (TNI) selama Presiden melakukan kunjungan kerja ke luar negeri.

Sjafrie mengatakan, dirinya bersama Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menghadap Presiden untuk melaporkan kondisi keamanan nasional. Laporan itu mencakup situasi selama Prabowo melakukan lawatan ke Inggris, Swiss, dan Prancis.

“Saya laporkan bahwa situasi nasional yang terjadi pada saat beliau ke luar negeri aman, terjaga, dan terkendali. Tidak ada hal-hal yang ganjil yang terjadi, yang mengganggu stabilitas negara,” ujar Sjafrie saat ditemui di Jakarta, Senin (26/1/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan kesiapsiagaan TNI dan aparat keamanan dalam menjaga stabilitas nasional meskipun Presiden berada di luar negeri untuk menjalankan tugas kenegaraan.

Selain membahas situasi keamanan, Menhan juga melaporkan pelaksanaan sejumlah tugas strategis TNI, salah satunya terkait Satgas Kuala. Satgas ini bertugas memperdalam sedimentasi dari muara hingga hulu Sungai Tamiang sebagai bagian dari upaya penanganan pascabencana.

“Ini berjalan sejak tanggal 14 Januari, dan nanti pada bulan Februari ini lumpur yang berada di muara itu akan disedot ke tongkang,” jelas Sjafrie.

Ia menambahkan, lumpur yang disedot tersebut selanjutnya akan diperiksa untuk memastikan tidak mengandung unsur-unsur yang memerlukan perhatian atau penanganan khusus.

Sjafrie juga melaporkan kepada Presiden mengenai tugas-tugas dinamis yang saat ini dijalankan oleh TNI Angkatan Darat di berbagai wilayah Indonesia, baik yang berkaitan dengan penanganan bencana, pengamanan wilayah, maupun dukungan terhadap pemerintah daerah.

Dalam kesempatan yang sama, Menhan turut menyampaikan perkembangan operasi penanganan isu keamanan di Papua. Ia menilai, operasi tersebut menunjukkan peningkatan keberhasilan dan perkembangan yang positif dalam menjaga stabilitas keamanan di wilayah tersebut.

“Perkembangan di Papua menunjukkan tren yang semakin baik dalam menjaga stabilitas wilayah,” ungkapnya.

Seusai menerima laporan, Presiden Prabowo Subianto memberikan sejumlah arahan penting. Salah satunya agar TNI terus mengedepankan prinsip efisiensi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran negara.

Presiden juga menekankan pentingnya pendekatan hukum terhadap setiap bentuk penyelewengan serta meminta para kepala staf di masing-masing matra TNI untuk menjaga transparansi dan integritas seluruh personel.

“Beliau menekankan agar efisiensi, akuntabilitas, dan integritas terus dijaga. Setiap penyimpangan harus ditangani dengan pendekatan hukum yang tegas,” kata Sjafrie.

Arahan tersebut, lanjut Menhan, menjadi penguatan komitmen pemerintah dalam memastikan profesionalisme TNI, sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap institusi pertahanan negara.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Dari Davos ke Ruang Gelap Diplomasi: Kedekatan Prabowo Israel dan Krisis Transparansi

Presiden Prabowo Subianto bersalaman dengan Presiden AS Donald Trump seusai penandatanganan dokumen Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian Gaza di sela WEF di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026). Aktual/Youtube White House.

Oleh: Achmad Nur Hidayat (Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta)

Jakarta, aktual.com – Lawatan Presiden Prabowo dijual sebagai diplomasi ekonomi, tetapi di dalamnya terselip penandatanganan Board of Peace (BoP) Trump soal Gaza tanpa wacana domestik yang memadai.

Inilah krisis transparansi: publik diajak bicara investasi, namun tidak diajak menimbang implikasi politik luar negeri, termasuk normalisasi dan pengakuan Israel Raya.

Ketika amanat Pembukaan UUD 1945 menolak penjajahan, keputusan sepihak semacam ini pantas diuji DPR. Namun apakah DPR masih berfungsi dihadapan Prabowo?

Narasi Pro Penjajahan Berbulu Perdamaian dan Ekonomi

Apakah lawatan luar negeri Presiden Prabowo pada Januari 2026 benar benar soal ekonomi dan investasi, atau justru menjadi kemasan yang menutupi keputusan politik luar negeri yang sangat sensitif?

Masalahnya ada pada dua lapis.

Lapis pertama adalah narasi resmi yang dipromosikan sebagai “perkuat kemitraan global” dan “bawa pulang kerja sama konkret”, termasuk komitmen investasi dari Inggris.

Lapis kedua, yang jauh lebih berat, adalah tindakan menandatangani Board of Peace (BoP) Charter di Davos yang dipimpin Presiden AS Donald Trump, sebuah inisiatif yang sejak awal memantik kontroversi global karena mandatnya melebar dan dianggap bisa menyaingi peran PBB, plus ada skema “kursi permanen” yang dikaitkan dengan kontribusi US$1 miliar.

Di titik ini, kritik yang paling jernih bukan sekadar “setuju atau tidak setuju” dengan perjalanan luar negeri.

Kritik utamanya adalah tata kelola: apakah publik diberi ruang untuk tahu, menimbang, dan mengawasi keputusan yang dapat menggeser arah politik luar negeri Indonesia dalam isu Palestina?

Saya melihat jawabannya tidak. Bahkan sesaat setelah tiba di tanah air. Prabowo tidak membicarakan isu iuran 1 miliar USD dalam perdamaian itu.

Diplomasi ekonomi yang berubah menjadi diplomasi persepsi

Diplomasi ekonomi itu seperti memasarkan masa depan.

Ia menuntut keyakinan publik bahwa setiap pertemuan dan setiap forum bisnis punya ujung yang konkret: investasi yang benar benar masuk, teknologi yang benar benar ditransfer, pendidikan yang benar benar menguat, dan pasar ekspor yang benar benar terbuka.

Tapi diplomasi ekonomi juga punya satu risiko klasik: ketika agenda ekonomi dipakai sebagai payung, keputusan politik yang kontroversial bisa ikut lolos tanpa disorot.

BoP Charter adalah contoh paling telanjang dari risiko itu.

Piagam ini bukan sekadar dokumen simbolik. Banyak laporan media kredibel menjelaskan bahwa keanggotaan bersifat tiga tahunan bila tanpa kontribusi, sementara kursi permanen dikaitkan dengan kontribusi US$1 miliar.

Dalam bahasa kebijakan publik, ini adalah inisiatif dengan konsekuensi reputasi, konsekuensi komitmen, dan potensi konsekuensi fiskal.

Masalahnya, keputusan seperti ini muncul tiba tiba dalam rangkaian yang dikomunikasikan ke publik sebagai “lawatan ekonomi”.

Di sinilah saya menyebutnya misleading, bukan karena ekonomi tidak penting, tetapi karena kemasan ekonomi membuat publik tidak siap menilai bobot politik BoP.

Ketika negara mengambil langkah yang menyentuh isu Palestina, transparansi seharusnya naik, bukan turun.

BoP dan kebijakan luar negeri yang tidak didialogkan, Sinyal Ruang Gelap?

Isu Palestina itu bukan isu pinggiran bagi Indonesia. Ia adalah inti identitas moral kebijakan luar negeri kita, sejalan dengan Pembukaan UUD 1945 yang menegaskan penjajahan harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Maka, setiap keterlibatan Indonesia dalam arsitektur “perdamaian” untuk Gaza seharusnya melalui komunikasi publik yang memadai, minimal menjawab pertanyaan dasar: apa mandat BoP, apa posisi Indonesia di dalamnya, apa prasyarat Indonesia, dan apa garis merahnya.

Namun yang terjadi, publik mengetahui BoP lebih dulu sebagai fakta tanda tangan, bukan sebagai wacana yang dibahas sebelum keputusan.

Ini problem top of mind pemimpin. Jika transparansi dan deliberasi bukan prioritas, maka kebijakan luar negeri akan terasa seperti urusan elite, padahal dampaknya menempel pada legitimasi negara di mata rakyat.

Lebih jauh, sejumlah laporan menyebut BoP melibatkan Israel sebagai bagian dari ekosistem inisiatif ini.

Di sinilah persoalan konstitusional dan moral menjadi lebih tajam: ketika Indonesia masuk ke forum yang menempatkan Israel sebagai pihak yang duduk di meja “rekonstruksi” dan “keamanan”, publik mudah membaca itu sebagai normalisasi, bahkan pengakuan de facto secara politik, walau bukan pengakuan diplomatik formal.

Dalam politik internasional, sinyal sering lebih keras daripada kalimat.

Uang Rp16,9 triliun: biaya yang tidak pernah dijelaskan

Ada isu yang tidak boleh lewat begitu saja: angka Rp16,9 triliun yang ramai dibicarakan sebagai padanan dari US$1 miliar, yakni biaya untuk kursi permanen BoP.

Media melaporkan adanya skema US$1 miliar untuk keanggotaan permanen.

Jika benar Indonesia diarahkan atau didorong menuju skema ini, maka itu bukan sekadar angka, itu adalah keputusan fiskal dan moral. Rp16,9 triliun setara ruang napas yang amat dibutuhkan daerah untuk menopang Transfer ke Daerah, menjaga layanan dasar, dan menutup kebutuhan rutin seperti pembayaran pegawai non ASN di banyak pemerintah daerah yang selama ini kerap menjadi titik rawan sosial.

Masalahnya, pemerintah memang menyatakan versi “keanggotaan sementara” tidak dipungut biaya.

Tetapi justru karena ada dua narasi, “ada fee US$1 miliar” dan “Indonesia tidak bayar”, maka transparansi wajib ditingkatkan, bukan dibiarkan menggantung.

Publik berhak tahu, apakah Indonesia masuk sebagai anggota tiga tahunan tanpa kewajiban finansial, apakah ada komitmen pendanaan di masa depan, dan apakah ada bentuk kontribusi lain yang pada akhirnya tetap menggunakan uang publik.

Konstitusi, anti penjajahan, dan jebakan “keamanan” yang timpang

Pembukaan UUD 1945 bukan dekorasi. Ia adalah fondasi moral negara.

Oleh Karena itu, ketika Indonesia bergabung dalam suatu inisiatif “perdamaian” yang memuat unsur pengamanan dan penataan pascakonflik, pertanyaan mendasarnya harus selalu sama: apakah inisiatif itu menghapus penjajahan, atau hanya menata ulang situasi agar tampak stabil tanpa menyelesaikan pendudukan?

BoP, menurut berbagai laporan, dipromosikan sebagai mekanisme yang juga menyentuh aspek keamanan dan tata kelola pascakonflik.

Kalau kerangka yang terbaca adalah “menjamin stabilitas dan keamanan” tetapi tidak tegas menempatkan pendudukan sebagai akar masalah, maka Indonesia berisiko terseret menjadi bagian dari panggung yang memutihkan ketimpangan.

Di sinilah kritik konstitusional menemukan momentumnya: yang terasa dilonggarkan bukan hanya sikap politik, tetapi nafas anti penjajahan itu sendiri.

Karena itu, saya memahami mengapa publik menilai langkah ini sebagai bentuk pengakuan Israel.

Secara hukum diplomatik, pengakuan negara itu punya prosedur dan bentuk.

Tetapi secara politik, ikut duduk dalam desain yang mengakui Israel sebagai pihak sah dalam arsitektur “perdamaian Gaza” bisa terbaca sebagai normalisasi.

Dan normalisasi, dalam isu Palestina, adalah jalan licin yang sering dimulai dari langkah yang disebut “pragmatis dan pengkhianatan”.

Mengapa DPR harus memanggil, bukan sekadar mengkritik di media

Jika keputusan BoP ini dibiarkan berlalu sebagai “bagian dari lawatan”, maka check and balance kita sedang dipreteli pelan pelan.

DPR perlu memanggil Presiden dan terutama pemerintah terkait, minimal untuk tiga hal: membuka isi dan konsekuensi piagam, menjelaskan status keanggotaan Indonesia dan potensi kewajiban pendanaan, serta menegaskan posisi Indonesia apakah keterlibatan ini tidak menggeser doktrin anti penjajahan.

Pemanggilan DPR bukan tindakan politis murahan.

Ini mekanisme menjaga agar kebijakan luar negeri tidak menjadi tafsir sepihak eksekutif, apalagi menyangkut isu dengan bobot konstitusional dan sensitivitas publik yang tinggi.

Ketika ada skema US$1 miliar untuk kursi permanen, pertanyaan tentang sumber dana dan akuntabilitas tidak boleh dianggap remeh.

Penutup: buktikan dengan keterbukaan

Pemerintah bisa saja berargumen bahwa BoP adalah jalan menuju perdamaian Gaza.

Tapi dalam negara demokrasi, argumen tidak cukup.

Yang dibutuhkan adalah keterbukaan. Tanpa itu, kebijakan luar negeri berubah menjadi urusan yang jauh dari rakyat, padahal mandat moralnya justru lahir dari sejarah perjuangan bangsa.

Jika Prabowo ingin menutup kesan misleading, maka jalannya tidak rumit: jelaskan BoP secara rinci kepada publik, hadir di hadapan DPR untuk menerangkan garis kebijakan luar negeri, dan pastikan tidak ada satu rupiah pun uang publik dikeluarkan tanpa dasar, tanpa debat, dan tanpa persetujuan yang akuntabel.

Kalau memang tidak ada biaya dan tidak ada komitmen pendanaan, nyatakan secara tegas dengan dokumen dan mekanisme pengawasan.

Jika ada kemungkinan diarahkan ke “kursi permanen” berbiaya US$1 miliar, nyatakan sejak awal agar publik dan DPR bisa menilai dengan jernih.

Diplomasi ekonomi yang sehat memperbesar kesejahteraan.

Diplomasi yang tidak transparan justru memperbesar kecurigaan. Dan dalam isu Palestina, kecurigaan itu bukan paranoia, melainkan alarm konstitusional yang mengingatkan kita: Indonesia lahir dari perlawanan terhadap penjajahan, maka kebijakan luar negeri pun harus bernapas dari prinsip yang sama.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Tim SAR Evakuasi 29 Jenazah Korban Longsor Cisarua, Puluhan Lainnya Masih Tertimbun

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Mohammad Syafii saat diwawancarai di Cisarua, Kabupaten Bandung pada Senin (26/1/2026). ANTARA/Ilham Nugraha
Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Mohammad Syafii saat diwawancarai di Cisarua, Kabupaten Bandung pada Senin (26/1/2026). ANTARA/Ilham Nugraha

Bandung, aktual.com – Tim SAR gabungan menyebut telah mengevakuasi 29 jenazah korban longsor Cisarua dan menyerahkannya kepada tim Disaster Victim Identification (DVI) pada pencarian korban longsor di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Mohammad Syafii di Bandung, Senin (26/1), mengatakan dalam operasi pencarian hari ini telah ditemukan empat jenazah hingga pukul 13.00 WIB dan sekitar 61 korban lainnya diperkirakan masih tertimbun.

“Jumlah korban yang berhasil dievakuasi hari ini sebanyak empat jenazah, sehingga total korban yang diserahkan berjumlah 29 sejak pertama kali operasi SAR dilaksanakan,” katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa sebanyak 17 jenazah telah berhasil diidentifikasi dan proses lainnya masih terus berlangsung oleh aparat kepolisian.

“Untuk jumlah korban yang telah teridentifikasi, kewenangan secara hukum berada pada pihak Polri. Informasi terakhir yang saya terima, 17 korban telah teridentifikasi dan diserahkan kepada keluarga,” tambahnya.

Mohammad Syafii juga menjelaskan pihaknya pada hari ini kembali melanjutkan proses pencarian dan evakuasi korban longsor Cisarua dengan mengerahkan personel gabungan serta sembilan alat berat di sejumlah titik terdampak.

Ia menambahkan bahwa upaya pencarian juga diperkuat dengan dukungan unsur udara untuk menjangkau area yang sulit diakses melalui jalur darat.

“Untuk unsur udara, hari ini dioperasikan tiga pesawat helikopter, masing-masing dari TNI Angkatan Udara, TNI Angkatan Darat, dan TNI Angkatan Laut. Selain itu drone juga dioperasikan,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut Ia menjelaskan bahwa keterbatasan akses jalan menuju lokasi longsor menjadi salah satu hambatan proses evakuasi.

“Hari ini dan sejak kemarin alat berat sudah dapat dikerahkan. Namun karena keterbatasan ruang jalan, hanya alat berat berukuran kecil dan sedang yang dapat dioperasikan,” ucapnya.

Ia menjelaskan longsor di wilayah Cisarua memiliki skala yang cukup besar dan kompleks, sehingga menyulitkan proses pencarian korban di lapangan dengan perkiraan panjang lidah longsor mencapai 2.009 meter dan lebar 140 meter.

“Berdasarkan pengukuran, diketahui terdapat dua mahkota longsor. Panjang dari mahkota hingga lidah longsoran diperkirakan mencapai 2.009 meter, dengan lebar terluas sekitar 140 meter. Namun angka ini bersifat perkiraan karena longsoran melebar ke kiri dan kanan,” jelasnya.

Ia menambahkan pelaksanaan operasi pencarian dan pertolongan akan terus disesuaikan dengan hasil evaluasi serta kondisi di lapangan, termasuk aspek keselamatan personel.

“Operasi SAR akan dievaluasi pada hari ketujuh. Namun pemerintah daerah melalui BPBD telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari,” ucap Kepala Basarnas Mohammad Syafii.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Israel Setujui Pembukaan Terbatas Penyeberangan Rafah dalam Rencana Perdamaian Trump

Ilustrasi - Truk-truk pengangkut bantuan kemanusiaan memasuki Gaza dari sisi Mesir di perbatasan Rafah pada 12 Oktober 2025. (ANTARA/Xinhua/Ali Mostafa.)
Ilustrasi - Truk-truk pengangkut bantuan kemanusiaan memasuki Gaza dari sisi Mesir di perbatasan Rafah pada 12 Oktober 2025. (ANTARA/Xinhua/Ali Mostafa.)

Istanbul, aktual.com – Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pada Ahad malam bahwa Israel menyetujui pembukaan kembali secara terbatas Penyeberangan Rafah sebagai bagian dari rencana perdamaian 20 poin Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk Gaza.

“Sebagai bagian dari rencana 20 poin Presiden Trump, Israel telah menyetujui pembukaan kembali terbatas Penyeberangan Rafah untuk lintasan pejalan kaki saja, dengan syarat mekanisme pemeriksaan penuh oleh Israel,” tulis kantor Netanyahu dalam pernyataan di platform X milik perusahaan media sosial AS.

“Pembukaan kembali penyeberangan itu dikondisikan pada pemulangan semua sandera yang masih hidup dan upaya 100 persen oleh Hamas untuk menemukan serta mengembalikan semua sandera yang telah meninggal.”

Pernyataan itu menambahkan bahwa Israel akan membuka penyeberangan tersebut setelah operasi pencarian jenazah prajurit Israel Ran Gvili selesai dilakukan.

Israel telah menutup sepenuhnya sisi Palestina dari Penyeberangan Rafah sejak Mei 2024 sebagai bagian dari ofensif dua tahunnya di Jalur Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 71.400 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, sejak Oktober 2023.

Dalam beberapa bulan terakhir, Israel mengaitkan pembukaan kembali sisi Palestina dengan pemulangan jenazah sandera terakhirnya dari Gaza.

Penyeberangan Rafah, yang menghubungkan Gaza dan Mesir, semula dijadwalkan dibuka kembali pada Oktober dalam fase pertama perjanjian gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober, tetapi Israel tidak mematuhi kesepakatan tersebut.

Sejak fase pertama gencatan senjata, faksi-faksi Palestina telah membebaskan 20 sandera Israel dalam keadaan hidup dan mengembalikan jenazah 27 lainnya. Jenazah Gvili masih belum ditemukan.

Sejak perjanjian gencatan senjata berlaku, militer Israel telah melakukan ratusan pelanggaran, menewaskan sedikitnya 484 warga Palestina dan melukai 1.321 lainnya, ungkap Kementerian Kesehatan.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Kemenkeu Tawarkan ORI029 Kupon Tetap Hingga 5,80 Persen

Nasabah melakukan pembelian Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI 021 menggunakan Super App OCTO Mobile dari CIMB Niaga di Jakarta, Senin (31/1/2022). 

Jakarta, Aktual.com – Pemerintah resmi menerbitkan Obligasi Negara Ritel (ORI) perdana tahun ini, yakni seri ORI029, dengan target indikatif awal senilai Rp25 triliun. ORI029 ditawarkan dalam dua tenor, yaitu tenor tiga tahun (ORI029T3) dan tenor enam tahun (ORI029T6).

Pelaksana Tugas Direktur Surat Utang Negara (SUN) Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan Novi Puspita Wardani, mengatakan pemerintah sengaja menyediakan dua pilihan tenor untuk menyesuaikan kebutuhan investor.

“Kami menawarkan dua tenor sekaligus. Investor yang ingin tenor lebih panjang dengan kupon lebih tinggi silakan, atau yang memilih tenor lebih pendek juga tersedia,” ujar Novi di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (26/1/2026).

ORI029 menawarkan kupon bersifat tetap (fixed rate), masing-masing sebesar 5,45 persen untuk tenor tiga tahun dan 5,80 persen untuk tenor enam tahun. Penawaran dilakukan secara daring melalui sistem e-SBN mulai Senin (26/1/2026).

Instrumen ini ditujukan sebagai alternatif investasi masyarakat dengan imbal hasil tetap, sekaligus mendukung pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Novi menjelaskan, dana yang dihimpun dari SBN ritel akan kembali ke masyarakat melalui belanja pembangunan. “SBN ini memiliki dua manfaat, yaitu memberikan keuntungan bagi investor dan mendukung pembiayaan APBN,” katanya.

ORI029 merupakan surat berharga negara yang diterbitkan khusus untuk investor individu domestik dengan tingkat risiko relatif rendah. Pemerintah menilai SBN ritel sebagai instrumen investasi yang aman, menguntungkan, dan terjangkau bagi berbagai lapisan masyarakat.

Masa penawaran ORI029 berlangsung hingga 19 Februari 2026. Investor sudah dapat melakukan pemesanan sejak hari pertama penawaran. “Tepat pukul 09.00 WIB, investor sudah bisa membeli ORI029,” ujar Novi.

Pemerintah menetapkan batas minimum pemesanan sebesar Rp1 juta dengan kelipatan Rp1 juta. Adapun batas maksimum pembelian ditetapkan Rp5 miliar untuk tenor tiga tahun dan Rp10 miliar untuk tenor enam tahun.

Selain itu, ORI029 bersifat tradable atau dapat diperdagangkan di pasar sekunder setelah satu kali pembayaran kupon. Hal ini memberikan fleksibilitas bagi investor dalam mengelola likuiditas.

Pembelian ORI029 dapat dilakukan melalui 28 mitra distribusi resmi, yang terdiri dari bank umum dan perusahaan efek. Proses pembelian meliputi registrasi, pemesanan, pembayaran, serta setelmen atau konfirmasi kepemilikan.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Berita Lain