8 April 2026
Beranda blog Halaman 306

Tersangkut Suap Pengisian Jabatan Desa, Bupati Pati Digelandang ke KPK

Bupati Pati Sudewo (kiri) didampingi Plt Sekda Pati. (ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif)

Jakarta, aktual.com – Komisi Pemberantasan Korupsi melakukan operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Bupati Pati, Sudewo, pada Senin, 19 Januari 2026. Operasi tersebut diduga berkaitan dengan praktik pengisian jabatan perangkat desa di wilayah Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Informasi awal menyebutkan dugaan suap atau gratifikasi dalam proses penempatan sejumlah posisi strategis di pemerintahan desa. Juru Bicara KPK Budi Prasetyo menjelaskan, perkara yang ditangani berkaitan langsung dengan jabatan perangkat desa.

“Terkait pengisian jabatan kepala urusan, kepala seksi, ataupun sekretaris desa,” ujar Budi kepada wartawan di Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Meski demikian, KPK belum menyampaikan secara rinci perkembangan penanganan perkara setelah operasi tersebut dilakukan. Dalam OTT itu, KPK tidak hanya membawa Sudewo ke Jakarta. Total ada delapan orang yang diamankan.

“Yang dibawa 8 orang,” kata Budi.

Saat dimintai penjelasan lebih lanjut, KPK belum mengungkap identitas pihak lain yang turut dibawa serta peran masing-masing dalam perkara tersebut. Berdasarkan informasi yang diterima, dugaan kasus ini mengarah pada praktik jual beli jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pati.

Salah satu pihak yang ikut diamankan diduga berperan sebagai perantara. “Koordinator kecamatan (pengepul),” ungkap Budi.

Sudewo dibawa ke Gedung Merah Putih KPK di Jakarta setelah menjalani pemeriksaan intensif oleh tim penyidik. Ia tiba di Gedung Merah Putih, KPK sekitar pukul 10.35 WIB.

Politikus Partai Gerindra itu terlihat mengenakan jaket hitam dipadu kaus putih dan memilih bungkam saat memasuki gedung, meski sejumlah pertanyaan dilontarkan awak media. KPK masih memiliki waktu satu kali 24 jam untuk menentukan status hukum para pihak yang diamankan.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Dunia di Ambang Prahara, SBY Soroti Risiko Perang Dunia Ketiga

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berjalan bersama Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono sebelum melakukan pertemuan tertutup di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Senin (30/7). Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari komunikasi politik yang dibangun kedua partai untuk Pilpres 2019. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dinamika global yang kian memanas dan berpotensi mengarah pada terjadinya Perang Dunia Ketiga. Hal tersebut disampaikan SBY melalui akun media sosial X miliknya, @SBYudhoyono, Selasa (20/1/2026).

“Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia, terlebih dinamika global dalam bulan-bulan terakhir,” tulis SBY.

SBY mengaku cemas melihat eskalasi geopolitik global. Sebagai tokoh yang puluhan tahun mendalami geopolitik, perdamaian, dan keamanan internasional, ia menilai situasi dunia saat ini memiliki kemiripan dengan kondisi menjelang Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua.

“Terus terang saya khawatir. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi jika prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga,” ujarnya.

Menurut SBY, kemungkinan terjadinya Perang Dunia Ketiga sangat nyata, meskipun ia masih meyakini skenario tersebut dapat dicegah. Namun, ruang dan waktu untuk mencegahnya dinilai semakin sempit dari hari ke hari.

Ia menyoroti munculnya pemimpin-pemimpin kuat yang agresif, pembentukan blok-blok negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran, hingga memanasnya geopolitik global sebagai tanda-tanda yang patut diwaspadai.

“Sejarah mencatat, meskipun tanda-tanda perang besar sudah nyata, sering kali kesadaran dan langkah konkret untuk mencegahnya justru tidak dilakukan,” tulisnya.

SBY menilai kemungkinan kegagalan pencegahan perang besar disebabkan oleh ketidakpedulian, ketidakberdayaan, atau ketidakmampuan negara-negara di dunia untuk bertindak bersama. Ia pun mengingatkan dampak kehancuran yang akan ditimbulkan jika perang dunia, terlebih perang nuklir, benar-benar terjadi.

“Banyak studi menyebutkan, jika perang dunia dan perang nuklir terjadi, korban jiwa bisa mencapai lebih dari 5 miliar manusia. Tidak ada peradaban yang tersisa,” ungkapnya.

Meski demikian, SBY menegaskan harapan belum sepenuhnya tertutup. Ia menyerukan perlunya langkah nyata dari komunitas internasional, bukan hanya doa.

“Tidak cukup hanya dengan doa. Tuhan tidak serta-merta mengabulkan jika manusia dan bangsa-bangsa sedunia tidak berupaya menyelamatkan dunianya,” tulisnya.

SBY pun mengusulkan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menginisiasi Sidang Umum Darurat (Emergency UN General Assembly) yang melibatkan para pemimpin dunia untuk membahas langkah konkret pencegahan krisis global dan perang besar.

“Saya tahu PBB saat ini dinilai tidak berdaya. Tetapi jangan sampai sejarah mencatat PBB melakukan pembiaran dan tidak berbuat apa-apa,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, SBY mengingatkan pesan klasik tentang bahaya pembiaran terhadap kejahatan global.

“Kalau orang-orang baik diam, maka yang jahat akan menang. If there is a will, there is a way,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Ketika Agenda Global Mengalahkan Kedaulatan Nasional: Catatan Kritis atas SDGs

Rinto Setiyawan, Ketua Umum IWPI, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan X Institute

Oleh: Rinto Setiyawan , A.Md., S.H., CTP (Ketua Umum Ikatan Wajib Pajak Indonesia, Anggota Majelis Tinggi Partai X, Wakil Direktur Sekolah Negarawan)

Jakarta, aktual.com – Dalam dua dekade terakhir, dunia seolah mencapai satu konsensus besar: bahwa persoalan umat manusia, kemiskinan, kelaparan, kesehatan, pendidikan, lingkungan, hanya bisa diselesaikan melalui agenda global. Sustainable Development Goals (SDGs), dengan 17 tujuannya, tampil sebagai wajah paling rapi dan “manusiawi” dari konsensus tersebut. Bahasa yang digunakan lembut, tujuannya tampak mulia, dan narasinya nyaris tak terbantahkan. Namun justru di sanalah letak persoalan mendasarnya.

Ketika sebuah agenda global diterima tanpa kritik, tanpa kedaulatan penafsiran, dan tanpa kontrol demokratis sejati, ia berisiko berubah dari proyek kemanusiaan menjadi arsitektur pengendalian. Bukan lagi membebaskan manusia dari penderitaan, melainkan menata manusia agar mudah dikelola.

SDGs dan Pergeseran Makna Kedaulatan

Secara konstitusional, kedaulatan suatu negara bertumpu pada rakyatnya. Rakyatlah yang menjadi sumber legitimasi kebijakan, arah pembangunan, dan prioritas nasional. Namun dalam praktik implementasi SDGs, kita menyaksikan pergeseran halus tetapi signifikan: dari kedaulatan rakyat menuju kepatuhan terhadap standar global.
Indikator, target, dan matriks capaian SDGs tidak dirumuskan oleh rakyat melalui mekanisme demokrasi nasional. Ia disusun dalam forum global yang jauh dari jangkauan kontrol publik. Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, sering kali berada pada posisi sebagai policy taker, bukan policy maker. Agenda pembangunan nasional kemudian diselaraskan, disesuaikan, bahkan dipaksa tunduk pada parameter global demi pendanaan, reputasi internasional, atau skor keberlanjutan.
Pada titik ini, pertanyaan mendasarnya bukan lagi “apakah SDGs baik atau buruk”, melainkan: siapa yang berdaulat atas makna pembangunan?

Dari Manusia sebagai Subjek ke Manusia sebagai Indikator

SDGs bekerja melalui sistem pengukuran: angka kemiskinan, indeks kesehatan, skor pendidikan, emisi karbon per kapita, konsumsi air, hingga pola mobilitas. Pengukuran memang penting, tetapi ketika angka menjadi tujuan, manusia berisiko direduksi menjadi sekadar unit statistik.

Dalam logika teknokratis, keberhasilan diukur bukan dari martabat manusia yang merdeka, melainkan dari terpenuhinya indikator. Kemiskinan “turun” secara statistik, meski ketergantungan terhadap bantuan meningkat. Akses pendidikan “naik”, meski daya kritis dan kebebasan berpikir menyempit. Lingkungan “terlindungi”, sementara masyarakat adat dan rakyat kecil tersingkir oleh regulasi konservasi.
Inilah paradoks pembangunan modern: angka membaik, tetapi kedaulatan manusia menyusut.

Etika yang Hilang dari Pembangunan

Masalah lain yang jarang dibicarakan adalah ketiadaan etika transenden dalam kerangka SDGs. Agenda ini berdiri di atas rasionalitas administratif dan moralitas prosedural, bukan pada nilai luhur yang hidup dalam kebudayaan, agama, dan tradisi bangsa-bangsa.
Akibatnya, pembangunan dipahami sebagai proses teknis, bukan pilihan moral. Apa yang “berkelanjutan” ditentukan oleh konsensus global, bukan oleh kebijaksanaan lokal. Apa yang “bertanggung jawab” diukur oleh algoritma dan laporan, bukan oleh nurani kolektif masyarakat.

Ketika etika diserahkan sepenuhnya kepada sistem, maka kekuasaan pun menjadi impersonal, dingin, dan sulit digugat. Tidak ada wajah yang bisa dimintai pertanggungjawaban, karena semua berlindung di balik “agenda global”.

Demokrasi yang Tereduksi Menjadi Kepatuhan

Dalam narasi resmi, SDGs sering dikaitkan dengan penguatan institusi dan tata kelola. Namun dalam praktiknya, demokrasi kerap direduksi menjadi sekadar kepatuhan administratif. Kritik terhadap agenda pembangunan global mudah dicap sebagai anti-kemajuan, tidak ilmiah, atau bahkan tidak manusiawi.

Padahal demokrasi sejati bukanlah keseragaman pandangan, melainkan ruang perdebatan yang hidup. Jika rakyat dan negara tidak diberi ruang untuk menafsirkan, menolak, atau menyesuaikan agenda global sesuai dengan nilai dan konstitusinya, maka demokrasi berubah menjadi formalitas.

Damai diartikan sebagai tidak ribut. Stabil dianggap lebih penting daripada adil. Ketertiban administratif mengalahkan kebenaran substantif.

Menempatkan SDGs Kembali pada Tempatnya

Kritik ini bukan ajakan untuk menolak SDGs secara membabi buta. Dunia memang menghadapi persoalan bersama yang membutuhkan kerja sama global. Namun kerja sama tidak boleh menghapus kedaulatan. Koordinasi tidak boleh berubah menjadi dominasi. Standar global tidak boleh mematikan kebijaksanaan lokal.

SDGs seharusnya diposisikan sebagai alat, bukan sebagai ideologi. Sebagai referensi, bukan dogma. Sebagai tawaran, bukan perintah.

Tanpa kedaulatan rakyat, tanpa etika transenden, dan tanpa kontrol demokratis yang sejati, SDGs berisiko menjadi sistem manajemen populasi global, rapi, efisien, dan manusiawi di permukaan, tetapi menggerus kebebasan dan martabat manusia secara perlahan.

Pembangunan untuk Siapa?

Pada akhirnya, pertanyaan paling jujur yang harus kita ajukan adalah: pembangunan ini untuk siapa, dan oleh siapa ditentukan? Jika jawabannya tidak kembali kepada rakyat sebagai pemegang kedaulatan, maka seindah apa pun narasinya, pembangunan akan selalu menyisakan kegelisahan.

Karena manusia tidak diciptakan untuk sekadar dikelola. Manusia diciptakan untuk merdeka, bermakna, dan bertanggung jawab atas masa depannya sendiri.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Geely EX2 Dirakit Lokal dengan TKDN 46,5%, Perkuat Ekosistem Mobil Listrik Indonesia

Jakarta, Aktual.com – Geely Auto Indonesia resmi memulai perakitan lokal Geely EX2 dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 46,5 persen. Langkah ini menandai penguatan komitmen produsen otomotif asal Tiongkok tersebut dalam mendukung pengembangan industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) nasional sekaligus memperluas basis manufaktur di Indonesia.

Geely EX2 menjadi model ketiga yang dirakit secara lokal setelah Starray EM-i dan Geely EX5. Proses perakitan dilakukan melalui kolaborasi strategis dengan PT Handal Indonesia Motor (HIM), dengan kapasitas produksi mencapai 60 unit per hari. Geely sebelumnya telah menyelesaikan tahap trial production pada Mei 2025 sebelum memperluas aktivitas manufaktur pada paruh kedua tahun lalu.

CEO Geely Auto Indonesia, Wu Chuxing, mengatakan respons pasar terhadap Geely EX2 cukup positif sejak program pre-booking dibuka pada November 2025.

“Sejak pre-booking dibuka, Geely EX2 telah membukukan lebih dari 1.000 surat pemesanan kendaraan (SPK). Dalam waktu dekat kami akan mengumumkan harga resmi untuk pasar Indonesia. Melalui strategi lokalisasi dengan TKDN 46,5 persen, kami siap menghadirkan produk berkualitas global yang dirakit secara lokal,” ujar Wu Chuxing dalam keterangan resminya.

Tak hanya berfokus pada perakitan, Geely juga memperkuat ekosistem industri kendaraan listrik nasional melalui kemitraan strategis dengan produsen komponen lokal. Salah satunya dengan Gotion dalam penyediaan battery cell untuk Geely EX2. Kolaborasi ini dinilai penting dalam membangun rantai nilai (value chain) industri baterai EV yang lebih kuat dan berkelanjutan di dalam negeri.

Dari sisi teknologi, Geely EX2 mengusung baterai dengan teknologi Cell-to-Pack (CTP) yang dilengkapi Geely Battery Safety System serta sistem pendingin berbasis cairan. Seluruh standar keselamatan mengacu pada protokol global Geely untuk menjamin keamanan dan keandalan kendaraan.

Di lini produksi, penguatan manufaktur dilakukan melalui pelatihan teknis intensif, knowledge sharing, dan pendampingan langsung dari tim global Geely kepada tenaga kerja lokal. Penerapan Geely Manufacturing Enterprise System (GMES) menjadi standar utama dalam menjaga konsistensi kualitas perakitan, sementara setiap unit Geely EX2 menjalani pengujian ketat, termasuk validasi sistem advanced driver assistance system (ADAS).

Secara industri, langkah Geely ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mendorong percepatan adopsi kendaraan listrik dan peningkatan TKDN. Perakitan lokal berkontribusi pada transfer teknologi, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, serta penguatan daya saing industri otomotif nasional.

Geely EX2 sendiri merupakan adaptasi dari model Geely Xingyuan yang sebelumnya dipasarkan dalam versi setir kiri (left-hand drive/LHD) di Tiongkok. Sepanjang 2025, model tersebut mencatat penjualan lebih dari 465 ribu unit di pasar domestik Tiongkok. Capaian itu menjadi indikator kuat potensi penerimaan Geely EX2 di pasar Indonesia, khususnya di segmen masyarakat urban yang membutuhkan kendaraan listrik efisien, modern, dan terjangkau.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Negara Hadir di Tengah Tragedi Pesawat ATR, Evakuasi Berjalan di Medan Sulit

Dokumentasi - Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi menjawab pertanyaan awak media. ANTARA/HO-Humas Kemenhub

Jakarta, Aktual.com – Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi memastikan negara hadir dalam upaya pencarian dan evakuasi korban pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung, Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan, Minggu (18/1/2026).

“Sudah dua hari kami melakukan operasi pencarian dan banyak kemajuan yang telah dicapai oleh rekan-rekan di lapangan,” kata Dudy di Jakarta, Senin (19/1/2026).

Menhub mengapresiasi kerja keras seluruh pihak yang terlibat dalam operasi pencarian dan evakuasi, mulai dari Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga para relawan.

Ia mengakui proses evakuasi tidak mudah karena medan yang sangat sulit, berupa jurang-jurang dalam, serta kondisi cuaca yang kurang bersahabat. Kabut tebal disebut menjadi salah satu kendala utama yang membatasi jarak pandang tim SAR gabungan di lapangan.

“Terima kasih atas kerja sama yang solid yang ditunjukkan seluruh petugas di lapangan. Ini menunjukkan negara benar-benar hadir dalam rangka melayani masyarakat untuk menemukan para korban,” tegas Dudy.

Menhub juga meninjau langsung proses pencarian dan evakuasi melalui Posko SAR Alternatif Jalur Utama (AJU) di Desa Tompo Bulu, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, Senin.

Melalui posko tersebut, Dudy menegaskan bahwa informasi resmi terkait perkembangan pencarian dan evakuasi akan disampaikan oleh Basarnas sebagai pihak yang bertindak sebagai leading sector.

“Secara teknis, pencarian sepenuhnya menjadi tanggung jawab Basarnas. Namun seluruh proses dilakukan secara terkoordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, dan unsur terkait lainnya,” ujarnya.

Menhub kembali menegaskan apresiasi pemerintah atas kolaborasi lintas sektor yang terus dilakukan demi kelancaran operasi kemanusiaan tersebut.

“Kami mengapresiasi dan berterima kasih atas kolaborasi dari seluruh pihak,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Tak Sekadar Skuter, Vespa Hadirkan Apparel Streetwear Lewat Dealer Equipment Collection

Jakarta, Aktual.com – Vespa tak hanya identik dengan kendaraan roda dua bergaya ikonik, tetapi juga berkembang sebagai simbol gaya hidup urban. Menyasar kebutuhan fashion masyarakat perkotaan yang dinamis, PT Piaggio Indonesia resmi menghadirkan Dealer Equipment Collection (DEC), koleksi apparel dan merchandise resmi Vespa dengan sentuhan streetwear modern.

PR & Communication Manager PT Piaggio Indonesia, Ayu Hapsari, mengatakan gaya selalu menjadi bagian penting dari identitas penggemar Vespa.

“Bagi penggemar Vespa, gaya adalah bagian dari identitas. Vespa hadir bukan hanya sebagai kendaraan, tetapi juga membentuk kultur, komunitas, dan inspirasi fashion. Dealer Equipment Collection menggabungkan desain Vespa dengan sentuhan streetwear modern, terinspirasi dari koleksi historis di Piaggio Museum dan detail arsitektur ikonik pabrik Piaggio,” kata Ayu, Selasa (20/1/2026).

Ayu menjelaskan, Dealer Equipment Collection dirancang untuk mendukung aktivitas harian pengguna, mulai dari riding pagi, kegiatan kantor, hingga hangout di malam hari. Koleksi ini memadukan warisan desain Vespa dengan pendekatan fashion yang praktis, bersih, dan mudah dipadukan.

PT Piaggio Indonesia menghadirkan beragam lini apparel, seperti t-shirt, polo shirt, hoodie, windbreaker, hingga baseball cap. Palet warna disusun menyerupai lifestyle moodboard dengan warna utama Black dan Origin, warna Nomad untuk polo shirt, hoodie, dan windbreaker, serta White khusus untuk t-shirt.

Untuk melengkapi gaya sehari-hari, Vespa juga menghadirkan inspirasi outfit of the day (OOTD), mulai dari windbreaker untuk aktivitas pagi, hoodie nyaman saat akhir pekan, polo shirt untuk gaya smart casual, hingga t-shirt premium untuk tampilan kasual harian. Koleksi merchandise seperti tumbler, baseball cap, dan keychain turut menjadi lifestyle essentials yang praktis sekaligus menunjang penampilan.

Kehadiran Dealer Equipment Collection menegaskan strategi Vespa dalam memperluas positioning merek dari sekadar produsen kendaraan menjadi lifestyle brand. Di tengah masyarakat urban yang semakin menempatkan kendaraan sebagai bagian dari identitas personal, apparel dan merchandise menjadi medium penting untuk memperkuat keterikatan emosional dengan konsumen.

Bagi komunitas otomotif, khususnya pengendara Vespa, fashion berfungsi sebagai simbol afiliasi dan gaya hidup. Koleksi DEC menjawab kebutuhan generasi urban yang menginginkan tampilan fungsional dan minimalis, namun tetap memiliki nilai historis serta karakter khas merek.

Sementara itu, lini merchandise tampil lebih sleek dan fungsional. Tumbler tersedia dalam warna Blade bernuansa perak, Black, dan Origin, sedangkan keychain hadir dalam pilihan Blade dan Origin, menyesuaikan karakter setiap produk.

Langkah ini juga sejalan dengan tren industri otomotif global, di mana merek kendaraan aktif mengembangkan lini lifestyle untuk menjangkau audiens yang lebih luas, memperkuat komunitas, dan menciptakan ekosistem merek yang berkelanjutan.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

Berita Lain