5 April 2026
Beranda blog Halaman 329

GREAT Institute: Pertumbuhan Ekonomi 2026 Bisa 5,6 Persen Jika Tiga Syarat Terpenuhi

Jakarta, Aktual.com – Peneliti GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berpeluang mencapai 5,6 persen di tengah tekanan ketidakpastian global. Proyeksi tersebut bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga konsumsi, mengoptimalkan belanja negara, dan mempercepat reformasi struktural.

“Pertumbuhan itu mungkin dicapai, tetapi ada prasyarat yang harus benar-benar dijalankan pemerintah,” ujarnya dalam Forum Economic Outlook 2026 oleh GREAT Institute, di Jakarta, Sabtu (10/1/2026).

Ia menjelaskan konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026. “Tanpa stimulus yang menjaga daya beli kelas menengah, konsumsi hanya akan bertahan, bukan menjadi penggerak pertumbuhan,” kata Adrian.

Selain konsumsi, belanja pemerintah dinilai memiliki peran strategis meski kontribusinya terhadap PDB relatif kecil. Ekonom tersebut menilai pengeluaran negara yang dilakukan lebih awal dan berkualitas akan memperkuat permintaan domestik.

Dari sisi investasi, ia melihat pola pertumbuhan yang masih fluktuatif akibat ketidakpastian global dan hambatan struktural di dalam negeri. “Investasi sulit tumbuh stabil jika iklim usaha belum direformasi secara serius,” tuturnya.

Ia juga menilai sektor perdagangan tidak dapat lagi menjadi mesin utama pertumbuhan pada 2026 karena fragmentasi global dan normalisasi komoditas. Namun demikian, ia mencatat adanya perbaikan di sektor manufaktur yang tercermin dari ekspansi indeks Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan peningkatan impor bahan baku.

Berdasarkan kajian GREAT Institute, pertumbuhan ekonomi 2026 diperkirakan berada di kisaran 5,3–5,6 persen dengan catatan tiga prasyarat dijalankan secara konsisten.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Ekonomi Rakyat Jadi Poros, Pemerintahan Prabowo Dorong Pemerataan Nyata

Jakarta, Aktual.com – Pemerintahan Prabowo Subianto menjadikan ekonomi rakyat sebagai poros utama kebijakan pembangunan nasional di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Langkah ini diambil untuk memastikan pemerataan kesejahteraan benar-benar dirasakan hingga ke pelosok desa.

Direktur Eksekutif GREAT Institute, Anto Sudarto, menilai Indonesia tetap berada dalam kondisi stabil dan optimistis meski dunia menghadapi tekanan ekonomi dan berbagai bencana. Hal tersebut, menurutnya, tidak terlepas dari kepemimpinan nasional yang kuat.

“Situasi global memang penuh ketidakpastian, ditambah berbagai bencana di sejumlah negara. Namun Indonesia masih relatif stabil dan optimis untuk terus maju karena kepemimpinan Presiden Prabowo yang kuat dan fokus pada kepentingan rakyat,” ujarnya dalam Forum Economic Outlook 2026 oleh GREAT Institute, di Jakarta, Sabtu (10/1/2026).

Lebih lanjut, pemerataan kesejahteraan menjadi benang merah kebijakan ekonomi pemerintahan Prabowo sejak tahun pertama. Hal ini dibuktikan melalui berbagai program kerakyatan prioritas yang langsung menyentuh masyarakat bawah.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah menjangkau lebih dari 53 juta penerima tidak hanya meningkatkan kualitas gizi, tetapi juga menggerakkan ekonomi rakyat dari petani, UMKM, hingga distribusi lokal.
Di sektor pendidikan, pemerintah mendorong pemerataan akses melalui pembangunan dan perbaikan sekolah rakyat serta menargetkan pembangunan sekitar 300 ribu jembatan penghubung menuju sekolah di seluruh Indonesia.

“Jembatan-jembatan ini sederhana, tapi dampaknya besar. Anak-anak SD di desa bisa berangkat sekolah dengan aman, tidak harus menyeberang sungai atau kehujanan, ini bentuk kehadiran negara yang nyata,” kata Anto.

Selain pendidikan, penguatan ekonomi desa dilakukan lewat pengembangan koperasi desa yang ditargetkan menjangkau puluhan ribu unit. Kebijakan tersebut membuat desa mulai berperan sebagai penggerak ekonomi lokal, bukan sekadar penerima bantuan.

Di sektor industri, pengembangan mobil nasional dinilai mendukung pemerataan melalui penciptaan lapangan kerja baru di daerah. Ia berharap arah kebijakan pemerintahan Prabowo menunjukkan keberpihakan pada ekonomi rakyat.

“Ideologi ekonomi rakyatan itu kini tidak lagi sebatas wacana, tetapi mulai diwujudkan,” tuturnya.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Operasi Subuh Mentan Amran Gagalkan Masuknya 6 Ribu Karung Bawang Bombai Ilegal di Semarang

Jakarta, aktual.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkap kronologi pengamanan ribuan karung bawang bombai ilegal yang digagalkan masuk melalui Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (10/1/2026). Total bawang bombai ilegal yang diamankan mencapai 6.172 karung atau sekitar 133,5 ton.

Amran menjelaskan, informasi terkait masuknya bawang bombai ilegal tersebut ia peroleh melalui kanal pengaduan Lapor Pak Amran. Begitu laporan diterima, ia langsung bergerak cepat dengan menghubungi Komandan Distrik Militer (Dandim) setempat untuk melakukan penindakan.

“Kami telepon langsung, ‘Pak Dandim tolong ada barang, ada barang masuk ilegal.’ Ini harus kita tindak tegas, siapapun [pelakunya],” jelas Amran kepada wartawan usai meninjau langsung lokasi pengamanan.

Pantauan di lapangan, ribuan karung bawang bombai tersebut ditumpuk hingga menjulang tinggi, bahkan melebihi tinggi orang dewasa. Seluruh karung telah dipasangi garis police line berwarna kuning. Selain itu, enam unit truk pengangkut bawang bombai ilegal juga tampak disegel.

Amran mengungkapkan, koordinasi awal dilakukan sejak dini hari. Ia pertama kali menghubungi Dandim sekitar pukul 04.30 WIB. Selang satu jam kemudian, sekitar pukul 05.30 WIB, Amran kembali menghubungi Polisi Militer (PM) untuk memperkuat pengamanan.

Ia menyebutkan, bawang bombai ilegal tersebut diduga akan masuk melalui Pelabuhan Semarang sehingga perlu segera dihentikan.

“Aku telepon karena jangan sampai lolos,” kata Amran.
“Pak, tolong dijaga ketat ini ada yang mau masuk,” bebernya mengulang percakapannya dengan Dandim.

Selain melibatkan TNI dan Polisi Militer, Amran juga menghubungi Polrestabes Semarang agar penindakan dilakukan secara kolaboratif. Setelah koordinasi awal, Amran langsung bertolak ke Semarang dan tiba di lokasi sekitar pukul 11.45 WIB, saat seluruh bawang bombai ilegal tersebut telah berhasil diamankan.

Operasi pengamanan yang berlangsung sekitar enam jam itu melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI AD, Polisi Militer, Polrestabes Semarang, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, hingga Badan Karantina Indonesia (Barantin).

Amran menegaskan, bawang bombai ilegal tersebut akan dimusnahkan karena berpotensi membawa organisme pengganggu dan penyakit yang berbahaya bagi pertanian nasional.

“Ini membawa penyakit. Bakteri ini bisa pindah, jamur, dan sebagainya. [Penyakit] itu tidak ada di Indonesia,” tegas Amran.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

PDIP Tegaskan Dukung Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung

Jakarta, aktual.com – Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah, Ganjar Pranowo menegaskan partainya medukung pemilihan kepala daerah secara langsung.

“Kita kan sudah jelas ya, beberapa kawan-kawan sudah menyampaikan,” Ganjar saat ditemui sebelum kegiatan Rakernas PDI Perjuangan dan HUT ke-53 PDI Perjuangan di gedung Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1).

Menurut Ganjar, isu pemilihan kepala daerah melalui DPRD sudah bergulir sejak lama, tepatnya sebelum reformasi.

Namun demikian, tuntunan masyarakat pasca reformasi untuk memilih langsung pemimpin daerahnya secara langsung semakin kuat.

Pemerintah pun pada akhirnya memberlakukan pemilihan kepala daerah secara langsung.

Karenanya, Ganjar menilai upaya untuk mengubah mekanisme pilkada langsung berpotensi mengulang perdebatan lama yang sudah diselesaikan secara konstitusional.

“Jadi sikap PDI perjuangan sangat jelas. Kita dukung pemilihan kepala daerah secara langsung,” kata dia.

Dengan pemilihan secara langsung, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan hak memilih sebaik mungkin dalam menentukan pemimpin daerah masa depan.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

SPPG Pandeglang Klarifikasi Video MBG Berbungkus Plastik, BGN Tegaskan Wajib Ikuti SOP

Ilustrasi - Sejumlah siswa menyantap makan bergizi gratis (MBG) di SDN Cipulir 01 Pagi, Jakarta Selatan, Rabu (12/2/2025). ANTARA/Luthfia Miranda Putri
Ilustrasi - Sejumlah siswa menyantap makan bergizi gratis (MBG) di SDN Cipulir 01 Pagi, Jakarta Selatan, Rabu (12/2/2025). ANTARA/Luthfia Miranda Putri

Jakarta, aktual.com – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG Karyasari) Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Pandeglang, Banten, memberikan penjelasan terkait beredarnya video viral makan bergizi gratis (MBG) yang disajikan dalam kantong plastik. Peristiwa itu terjadi pada Kamis (8/1/2026) saat penyaluran paket makanan untuk kelompok penerima manfaat 3B, yakni ibu hamil (bumil), ibu menyusui (busui), dan balita.

Kepala SPPG Karyasari Dimas Dhika Alpiyan menjelaskan, pada hari tersebut seluruh makanan telah dikemas menggunakan ompreng dan didistribusikan sesuai prosedur. Namun, setibanya di salah satu titik penyaluran, makanan dipindahkan dari ompreng ke kantong plastik oleh seorang kader posyandu tanpa koordinasi dengan pihak SPPG dan tidak sesuai standar operasional prosedur (SOP) Program MBG.

“Namun setelah ompreng tiba di tempat oleh ibu kader yang bersangkutan makanan yang di dalam ompreng dipindahkan dan disatukan penyajiannya di dalam kantong plastik karena ibu kader memiliki alasan spontanitas,” ujar Dimas dalam keterangan resmi, Sabtu (10/1/2026).

Dimas menambahkan, makanan yang telah dipindahkan tersebut kemudian dibagikan kepada para penerima manfaat, sementara ompreng dibawa kembali oleh sopir dalam kondisi kosong.

“Setelah itu, oleh ibu kader diberikan kepada penerima manfaat yaitu bumil, busui, dan balita. Ompreng kembali dibawa pulang oleh sopir dengan keadaan kosong,” jelasnya.

Ia menyebut, pihak SPPG baru mengetahui kejadian tersebut sehari setelah video beredar luas di media sosial. Menindaklanjuti hal itu, SPPG Karyasari memanggil para kader posyandu untuk meminta klarifikasi.

“Setelah video tersebut viral kami pihak SPPG Karyasari Sukaresmi mengundang para ibu kader untuk komunikasi lebih dalam. Ibu kader datang pada Jumat (9/1/2026), pukul 09.00. Ibu kader mengklarifikasi bahwasanya mereka memang memasukkan menu tersebut ke dalam plastik karena keadaan spontanitas yang terjadi,” kata Dimas.

Sementara itu, Koordinator Kader Posyandu Desa Pasirkadu, Kecamatan Sukaresmi, Lusi, turut memberikan penjelasan untuk meluruskan informasi yang berkembang. Ia menilai perlu pemahaman utuh atas konteks kejadian agar tidak memunculkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Menurut Lusi, kondisi makanan dalam video tidak serta-merta menunjukkan ketidaklayakan konsumsi. Pemindahan kemasan dilakukan sebagai langkah antisipasi karena faktor cuaca saat distribusi.

“Perlu kami luruskan, bukan seperti yang terlihat di video itu. Kejadiannya sangat spontan, ditambah cuaca saat itu tidak memungkinkan. Akhirnya makanan kami pindahkan dari ompreng ke plastik semata-mata karena khawatir terkena air hujan,” tegas Lusi.

Di sisi lain, Badan Gizi Nasional (BGN) kembali menegaskan bahwa seluruh proses penyajian dan penyaluran makanan dalam Program MBG wajib mengikuti SOP yang telah ditetapkan. Penggunaan ompreng sebagai wadah distribusi merupakan ketentuan utama untuk menjaga keamanan pangan dan memastikan kualitas gizi tetap terjaga bagi seluruh penerima manfaat.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

MPR Goes to Campus Perdana di 2026, Eddy Soeparno Bicara Urgensi Mitigasi Krisis Iklim

Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno. Aktual/DOK MPR RI

Jakarta, aktual.com – Wakil Ketua MPR RI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno menggelar MPR Goes to Campus perdana di tahun 2026 di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat.

Kampus Muhammadiyah Sumatera Barat menjadi kampus ke 40 dalam rangkaian acara MPR Goes to Campus yang diinisiasi Eddy sejak menjabat sebagai Pimpinan MPR pada November 2024 lalu.

Acara di Universitas Muhammadiyah Sumbar ini adalah rangkaian kunjungan kerja Eddy Soeparno setelah sehari sebelumnya Ia menyalurkan bantuan bagi korban bencana banjir di Agam, Sumatera Barat.

Dalam kesempatan dialog di kampus tersebut, Eddy menyampaikan bahwa perubahan iklim sudah sampai pada tahap krisis dan terjadi dekat dengan kita.

“Saya tidak mau lagi menggunakan istilah perubahan iklim karena yang terjadi saat ini sudah pada tahap krisis iklim. Harus ada upaya untuk mencegah jangan sampai krisis ini semakin parah dan menjadi bencana iklim,” tegasnya.

Doktor Ilmu Politik UI ini menyampaikan sepanjang tahun 2025 sudah jelas terbukti bahwa krisis iklim berdampak pada kelompok ekonomi lemah dan miskin.

“Mulai dari banjir rob, hujan ekstrem yang terjadi terus menerus hingga bencana yang menimpa saudara-saudara kita di Aceh, Sumut dan Sumbar berdampak paling besar pada rakyat miskin,”

Karena itu Eddy mendorong pemerintah untuk menjadikan tahun 2026 sebagai tahun mitigasi krisis iklim. Tanpa agenda mitigasi yang jelas dan terarah dampak krisis iklim dikhawatirkan semakin memburuk.

Sejalan dengan itu, Eddy menekankan urgensi percepatan pengesahan RUU Pengelolaan Perubahan Iklim sebagai instrumen kunci untuk mengintegrasikan agenda mitigasi krisis iklim secara nasional.

“Selama ini, kebijakan iklim Indonesia masih tersebar dalam berbagai regulasi sektoral yang belum sepenuhnya terkoordinasi. Keberadaaan RUU tersebut diharapkan menjadi payung hukum yang menyatukan perencanaan, pelaksanaan, pendanaan, serta mekanisme evaluasi kebijakan perubahan iklim lintas sektor dan lintas tingkat pemerintahan,”

“Keberadaan undang-undang khusus perubahan iklim akan memberikan kepastian arah kebijakan jangka panjang mitgasi iklim serta memperkuat akuntabilitas negara dalam memenuhi komitmen penurunan emisi,” tambahnya.

Waketum PAN ini juga mendorong agar pemerintah dan kampus bersinergi dalam mempersiapkan kebijakan mitigasi iklim agar lebih terarah dan tepat sasaran.

“Sejak awal saya terus mendorong agar kampus dilibatkan dalam penyusunan kebijakan menghadapi dampak krisis iklim ini. Hasil riset dan data-data ilmiah dari universitas sangat diperlukan untuk menyusun kebijakan yang tepat dan berdampak,” tutupnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Berita Lain