9 April 2026
Beranda blog Halaman 345

Untuk Penguatan Ekonomi Warga, HNW Berkolaborasi Selenggarakan Program Pemberdayaan UMKM

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid membuka program pemberdayaan UMKM di Jakarta sebagai upaya penguatan ekonomi warga melalui pelatihan, pendampingan, dan dukungan usaha. Aktual/DOK MPR RI

Jakarta, aktual.com – Anggota Komisi VIII DPR RI dari FPKS, Hidayat Nur Wahid, kembali berkolaborasi menyelenggarakan program pemberdayaan UMKM sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan memperjuangkan aspirasi konstituen, sekaligus mendorong penguatan ekonomi warga melalui UMKM.

Program pemberdayaan ini menyasar 21 pelaku UMKM yang terseleksi dari 100 pegiat UMKM di daerah pemilihannya, Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat. Para peserta berasal dari beragam bidang usaha, mulai dari kuliner, warung sembako, fesyen, hingga jasa multimedia.

HNW, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa program yang diselenggarakan bertepatan dengan momentum awal tahun 2026 ini tidak semata memberikan bantuan modal, tetapi dirancang secara komprehensif untuk meningkatkan kapasitas dan keberlanjutan usaha para peserta.

“Karenanya, program ini juga menghadirkan pelatihan intensif, bimbingan, pendampingan, hingga penyertaan modal bagi para pelaku UMKM di Jakarta. Ditargetkan setelah kegiatan ini seluruhnya bisa berdaya dan memberdayakan, misalnya dengan membuka lapangan kerja bagi warga sekitar mereka, dengan target tahun depan masing-masing peserta sudah bisa memberdayakan satu pengusaha UMKM lain,” ujar Hidayat dalam sambutannya di Hotel Gren Alia, Jumat (9/1).

Program Pemberdayaan UMKM Berbasis Pelatihan dan Pendampingan

Pelatihan dilaksanakan secara intensif selama tiga hari dengan materi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter usaha masing-masing peserta. Setelah itu, para pelaku UMKM akan mendapatkan pendampingan bersama mentor profesional selama empat bulan, baik secara daring maupun luring.

Selain pelatihan dan pendampingan, program ini juga mencakup pengadaan perlengkapan atau peralatan usaha dengan nilai hingga Rp10 juta per orang. Bantuan diberikan dalam bentuk barang secara bertahap, menyesuaikan hasil asesmen, perkembangan usaha, serta tingkat keaktifan peserta dalam mengikuti rangkaian pelatihan.

Artikel ini ditulis oleh:

Tino Oktaviano

Sindiran Presiden, dan Pegawai Pajak yang Tak Ada Kapoknya

Ilustrasi suap pajak. Pengurangan kewajiban pembayaran pajak.

Jakarta, Aktual.com – Seperti tidak ada kapoknya, kasus korupsi yang melibatkan pegawai pajak kembali terjadi. Belum lama, Kejaksaan Agung memeriksa dugaan korupsi oleh mantan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Suryo Utomo dan Ken Dwijugiasteadi, kini giliran KPK menangkap tangan pegawai pajak di Kantor Wilayah DJP Jakarta Utara.

“Sampai saat ini, tim telah mengamankan para pihak sejumlah delapan orang, beserta barang bukti dalam bentuk uang,” kata Juru Bicara KPK Budi Prasetyo kepada wartawan di Jakarta, Sabtu (10/1/2026).

Terkait barang bukti dalam bentuk uang, Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto menjelaskan, yang disita pihaknya adalah uang ratusan juta rupiah dan valuta asing (valas).

Menurut dia, OTT tersebut terkait dugaan suap pengurangan nilai pajak. Namun, Fitroh belum menjelaskan secara perinci duduk perkara kasus tersebut.

Kasus-Kasus Korupsi Pegawai Pajak

Kasus korupsi yang melibatkan pegawai pajak bukanlah hal baru. Baru-baru ini, Kejagung resmi memeriksa mantan Dirjen Pajak, Suryo Utomo terkait dugaan suap dan manipulasi kewajiban perpajakan pada periode 2016-2020.

Selain Suryo, Kejagung juga memeriksa diperiksa mantan Dirjen Pajak Ken Dwijugiasteadi dan Kepala KPP Madya Dua Semarang, Bernadette Ning Dijah.

Kasus-kasus tersebut, mengingatkan perkara perpajakan lainnya yang menyita banyak perhatian khalayak. Di antaranya, kasus yang melibatkan Gayus Tambunan pada 2009. Gayus merupakan pegawai pajak golongan IIIA yang memiliki kekayaan sekitar Rp100 miliar. Padahal gajinya saat itu hanya Rp12,1 juta per bulan.

Kasus Gayus berawal dari laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengenai jumlah kekayaannya yang fantastis. Atas temuan PPATK tersebut, Bareskrim Polri melakukan penyidikan pada Oktober 2009.

Kasus Gayus kemudian dikembangkan lebih jauh termasuk membidik atasannya hingga orang-orang yang membantunya. Tak kurang ada 27 nama yang terseret kasus Gayus dan menegaskan banyaknya mafia pajak di DJP.

Gayus dibantu rekannya melakukan praktek makelar yakni memanipulasi laporan keuangan perusahaan agar pembayaran pajaknya lebih kecil. Kasus Gayus membuat stigma pegawai pajak sangat negatif di masyarakat.

Lalu ada nama Mantan Direktur Pemeriksaan dan Penagihan DJP 2016-2019 Angin Prayitno. Dalam kasus ini, KPK juga menetapkan Dadan Ramdani selaku Kepala Subdirektorat Kerjasama dan Dukungan Pemeriksaan, dan Alfred Simanjuntak Ketua Tim Pemeriksa pada Direktorat Pemeriksaan dan Penagihan sebagai tersangka.

Kemudian, Rafael Alun Trisambodo, Kabag Umum Kanwil Ditjen Pajak Jakarta Selatan II. Pegawai eselon III tersebut menjadi sorotan karena memiliki harta dalam jumlah yang fantastis yakni Rp56,10 miliar.

PPATK bahkan menemukan adanya dugaan tindakan pencucian uang yang massif senilai Rp500 miliar dari 40 rekening terkait dengan Rafael.

Sindiran Presiden Prabowo

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku mendapat sindiran langsung dari Presiden Prabowo Subianto terkait masih maraknya penyelewengan di Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.

Sindiran itu disampaikan Presiden saat retret Kabinet Merah Putih di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, yang menyoroti kebocoran penerimaan negara akibat praktik curang di dua institusi tersebut.

“Saya disindir lagi dalam pertemuan kemarin dengan presiden di Hambalang, dia bilang ‘apakah kita akan mau dikibulin terus oleh pajak dan bea cukai?’ itu pesan ke saya dari presiden walaupun dia ga ngeliat ke saya,” kata Purbaya usai konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Kamis (8/1/2026).

Purbaya mengungkapkan, sindiran tersebut mencerminkan keprihatinan Presiden terhadap masih maraknya praktik under invoicing dan penghindaran pajak yang melibatkan oknum pegawai di lingkungan Pajak dan Bea Cukai. Menurutnya, banyak transaksi yang tidak terdeteksi sehingga berpotensi menimbulkan kebocoran penerimaan negara dalam jumlah besar.

“Ada praktek under invoicing yang masih besar, yang ga terdeteksi di pajak dan bea cukai,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, Kementerian Keuangan telah menemukan sedikitnya 10 perusahaan kelapa sawit yang melakukan under invoicing hingga sekitar 50 persen dari total volume ekspor. Praktik tersebut menyebabkan nilai ekspor yang dilaporkan jauh lebih rendah dari nilai sebenarnya.

Selain itu, Purbaya juga menyoroti praktik penghindaran pajak oleh perusahaan asing. Ia mengaku menemukan perusahaan baja asal China yang beroperasi secara ilegal di Indonesia dan luput dari pengawasan otoritas pajak dan bea cukai.

“Kalau pajak saja dari orang yang sudah insaf itu setahun bisa 4 triliun lebih, jadi besar. banyak perusahaan. tapi yang saya heran adalah ada perusahaan yang familiar, perusahaan dari asing bisa beroperasi di sini, sementara orang pajak selama ini seperti agak tutup mata. kalau saya tahu kan mereka pasti lebih tahu dari saya, yang bea cukai seperti itu juga,” pungkasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi

GREAT Institute: Pertumbuhan Ekonomi 2026 Bisa 5,6 Persen Jika Tiga Syarat Terpenuhi

Jakarta, Aktual.com – Peneliti GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berpeluang mencapai 5,6 persen di tengah tekanan ketidakpastian global. Proyeksi tersebut bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga konsumsi, mengoptimalkan belanja negara, dan mempercepat reformasi struktural.

“Pertumbuhan itu mungkin dicapai, tetapi ada prasyarat yang harus benar-benar dijalankan pemerintah,” ujarnya dalam Forum Economic Outlook 2026 oleh GREAT Institute, di Jakarta, Sabtu (10/1/2026).

Ia menjelaskan konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026. “Tanpa stimulus yang menjaga daya beli kelas menengah, konsumsi hanya akan bertahan, bukan menjadi penggerak pertumbuhan,” kata Adrian.

Selain konsumsi, belanja pemerintah dinilai memiliki peran strategis meski kontribusinya terhadap PDB relatif kecil. Ekonom tersebut menilai pengeluaran negara yang dilakukan lebih awal dan berkualitas akan memperkuat permintaan domestik.

Dari sisi investasi, ia melihat pola pertumbuhan yang masih fluktuatif akibat ketidakpastian global dan hambatan struktural di dalam negeri. “Investasi sulit tumbuh stabil jika iklim usaha belum direformasi secara serius,” tuturnya.

Ia juga menilai sektor perdagangan tidak dapat lagi menjadi mesin utama pertumbuhan pada 2026 karena fragmentasi global dan normalisasi komoditas. Namun demikian, ia mencatat adanya perbaikan di sektor manufaktur yang tercermin dari ekspansi indeks Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan peningkatan impor bahan baku.

Berdasarkan kajian GREAT Institute, pertumbuhan ekonomi 2026 diperkirakan berada di kisaran 5,3–5,6 persen dengan catatan tiga prasyarat dijalankan secara konsisten.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Ekonomi Rakyat Jadi Poros, Pemerintahan Prabowo Dorong Pemerataan Nyata

Jakarta, Aktual.com – Pemerintahan Prabowo Subianto menjadikan ekonomi rakyat sebagai poros utama kebijakan pembangunan nasional di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian. Langkah ini diambil untuk memastikan pemerataan kesejahteraan benar-benar dirasakan hingga ke pelosok desa.

Direktur Eksekutif GREAT Institute, Anto Sudarto, menilai Indonesia tetap berada dalam kondisi stabil dan optimistis meski dunia menghadapi tekanan ekonomi dan berbagai bencana. Hal tersebut, menurutnya, tidak terlepas dari kepemimpinan nasional yang kuat.

“Situasi global memang penuh ketidakpastian, ditambah berbagai bencana di sejumlah negara. Namun Indonesia masih relatif stabil dan optimis untuk terus maju karena kepemimpinan Presiden Prabowo yang kuat dan fokus pada kepentingan rakyat,” ujarnya dalam Forum Economic Outlook 2026 oleh GREAT Institute, di Jakarta, Sabtu (10/1/2026).

Lebih lanjut, pemerataan kesejahteraan menjadi benang merah kebijakan ekonomi pemerintahan Prabowo sejak tahun pertama. Hal ini dibuktikan melalui berbagai program kerakyatan prioritas yang langsung menyentuh masyarakat bawah.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah menjangkau lebih dari 53 juta penerima tidak hanya meningkatkan kualitas gizi, tetapi juga menggerakkan ekonomi rakyat dari petani, UMKM, hingga distribusi lokal.
Di sektor pendidikan, pemerintah mendorong pemerataan akses melalui pembangunan dan perbaikan sekolah rakyat serta menargetkan pembangunan sekitar 300 ribu jembatan penghubung menuju sekolah di seluruh Indonesia.

“Jembatan-jembatan ini sederhana, tapi dampaknya besar. Anak-anak SD di desa bisa berangkat sekolah dengan aman, tidak harus menyeberang sungai atau kehujanan, ini bentuk kehadiran negara yang nyata,” kata Anto.

Selain pendidikan, penguatan ekonomi desa dilakukan lewat pengembangan koperasi desa yang ditargetkan menjangkau puluhan ribu unit. Kebijakan tersebut membuat desa mulai berperan sebagai penggerak ekonomi lokal, bukan sekadar penerima bantuan.

Di sektor industri, pengembangan mobil nasional dinilai mendukung pemerataan melalui penciptaan lapangan kerja baru di daerah. Ia berharap arah kebijakan pemerintahan Prabowo menunjukkan keberpihakan pada ekonomi rakyat.

“Ideologi ekonomi rakyatan itu kini tidak lagi sebatas wacana, tetapi mulai diwujudkan,” tuturnya.

(Nur Aida Nasution)

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Operasi Subuh Mentan Amran Gagalkan Masuknya 6 Ribu Karung Bawang Bombai Ilegal di Semarang

Jakarta, aktual.com – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkap kronologi pengamanan ribuan karung bawang bombai ilegal yang digagalkan masuk melalui Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (10/1/2026). Total bawang bombai ilegal yang diamankan mencapai 6.172 karung atau sekitar 133,5 ton.

Amran menjelaskan, informasi terkait masuknya bawang bombai ilegal tersebut ia peroleh melalui kanal pengaduan Lapor Pak Amran. Begitu laporan diterima, ia langsung bergerak cepat dengan menghubungi Komandan Distrik Militer (Dandim) setempat untuk melakukan penindakan.

“Kami telepon langsung, ‘Pak Dandim tolong ada barang, ada barang masuk ilegal.’ Ini harus kita tindak tegas, siapapun [pelakunya],” jelas Amran kepada wartawan usai meninjau langsung lokasi pengamanan.

Pantauan di lapangan, ribuan karung bawang bombai tersebut ditumpuk hingga menjulang tinggi, bahkan melebihi tinggi orang dewasa. Seluruh karung telah dipasangi garis police line berwarna kuning. Selain itu, enam unit truk pengangkut bawang bombai ilegal juga tampak disegel.

Amran mengungkapkan, koordinasi awal dilakukan sejak dini hari. Ia pertama kali menghubungi Dandim sekitar pukul 04.30 WIB. Selang satu jam kemudian, sekitar pukul 05.30 WIB, Amran kembali menghubungi Polisi Militer (PM) untuk memperkuat pengamanan.

Ia menyebutkan, bawang bombai ilegal tersebut diduga akan masuk melalui Pelabuhan Semarang sehingga perlu segera dihentikan.

“Aku telepon karena jangan sampai lolos,” kata Amran.
“Pak, tolong dijaga ketat ini ada yang mau masuk,” bebernya mengulang percakapannya dengan Dandim.

Selain melibatkan TNI dan Polisi Militer, Amran juga menghubungi Polrestabes Semarang agar penindakan dilakukan secara kolaboratif. Setelah koordinasi awal, Amran langsung bertolak ke Semarang dan tiba di lokasi sekitar pukul 11.45 WIB, saat seluruh bawang bombai ilegal tersebut telah berhasil diamankan.

Operasi pengamanan yang berlangsung sekitar enam jam itu melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI AD, Polisi Militer, Polrestabes Semarang, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, hingga Badan Karantina Indonesia (Barantin).

Amran menegaskan, bawang bombai ilegal tersebut akan dimusnahkan karena berpotensi membawa organisme pengganggu dan penyakit yang berbahaya bagi pertanian nasional.

“Ini membawa penyakit. Bakteri ini bisa pindah, jamur, dan sebagainya. [Penyakit] itu tidak ada di Indonesia,” tegas Amran.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

PDIP Tegaskan Dukung Pemilihan Kepala Daerah Secara Langsung

Jakarta, aktual.com – Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah, Ganjar Pranowo menegaskan partainya medukung pemilihan kepala daerah secara langsung.

“Kita kan sudah jelas ya, beberapa kawan-kawan sudah menyampaikan,” Ganjar saat ditemui sebelum kegiatan Rakernas PDI Perjuangan dan HUT ke-53 PDI Perjuangan di gedung Beach City International Stadium, Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (10/1).

Menurut Ganjar, isu pemilihan kepala daerah melalui DPRD sudah bergulir sejak lama, tepatnya sebelum reformasi.

Namun demikian, tuntunan masyarakat pasca reformasi untuk memilih langsung pemimpin daerahnya secara langsung semakin kuat.

Pemerintah pun pada akhirnya memberlakukan pemilihan kepala daerah secara langsung.

Karenanya, Ganjar menilai upaya untuk mengubah mekanisme pilkada langsung berpotensi mengulang perdebatan lama yang sudah diselesaikan secara konstitusional.

“Jadi sikap PDI perjuangan sangat jelas. Kita dukung pemilihan kepala daerah secara langsung,” kata dia.

Dengan pemilihan secara langsung, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan hak memilih sebaik mungkin dalam menentukan pemimpin daerah masa depan.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain