13 April 2026
Beranda blog Halaman 61

Kejagung Tetapkan Samin Tan Tersangka Korupsi Tambang PT AKT

Pemilik PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT), Samin Tan duduk di dalam mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Kejaksaan Agung, Jakarta, Sabtu (28/3/2026). Kejaksaan Agung menetapkan pemilik PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT), Samin Tan sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi penyimpangan dalam pengelolaan pertambangan batu bara di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah karena tetap melakukan penambangan dan penjualan hasil tambang meskipun izin telah dicabut sejak 2017. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/wpa./pri.
Pemilik PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT), Samin Tan duduk di dalam mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Kejaksaan Agung, Jakarta, Sabtu (28/3/2026). Kejaksaan Agung menetapkan pemilik PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT), Samin Tan sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi penyimpangan dalam pengelolaan pertambangan batu bara di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah karena tetap melakukan penambangan dan penjualan hasil tambang meskipun izin telah dicabut sejak 2017. ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/wpa./pri.

Jakarta, aktual.com — Kejaksaan Agung Republik Indonesia menetapkan satu tersangka dalam kasus dugaan korupsi penyimpangan pengelolaan pertambangan di PT Asmin Koalindo Tuhup (AKT), Murung Raya, Kalimantan Tengah. Tersangka tersebut adalah pemilik manfaat (beneficial owner) PT AKT, Samin Tan.

“Menetapkan 1 orang tersangka yakni ST,” ujar Direktur Penyidikan Jampidsus, Syarief Sulaeman Nahdi, dalam konferensi pers, Sabtu (28/3/2026).

Penetapan ini dilakukan setelah penyidik mengantongi bukti yang cukup melalui serangkaian proses, mulai dari pemeriksaan saksi hingga penggeledahan di sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

“Penggeledahan masih berlangsung terutama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan,” kata Syarief.

Samin Tan diketahui sebagai beneficial owner PT AKT, perusahaan kontraktor tambang batu bara yang sebelumnya beroperasi berdasarkan perjanjian PKP2B, namun izinnya telah dicabut sejak 2017.

Meski izin telah dicabut, PT AKT diduga tetap menjalankan aktivitas penambangan dan penjualan batu bara secara ilegal hingga tahun 2025.

“Tersangka ST melalui PT AKT dan afiliasinya secara melawan hukum tetap melakukan pertambangan dan penjualan dengan menggunakan dokumen perizinan yang tidak sah dengan bekerja sama dengan penyelenggara negara yang bertugas melakukan tugas pengawasan terhadap kegiatan pertambangan sehingga merugikan keuangan negara dan/atau perekonomian negara,” lanjut Syarief.

Kerugian negara akibat kasus ini masih dalam proses perhitungan oleh auditor. Sementara itu, tersangka dijerat dengan sejumlah pasal berlapis terkait tindak pidana korupsi dan ketentuan dalam KUHP terbaru.

“ST ditahan selama 20 hari ke depan di Rutan Salemba Cabang Kejaksaan Agung,” sambungnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Media AS Sebut Strategi Militer Negaranya Terjebak Pola Lama Sebabkan Konflik Berkepanjangan, Analisis Rusia: Iran Lebih Cerdik

Rudal balistik darat ke darat dengan jangkauan 2.000 km bernama Khaibar dipamerkan di Tehran, Iran, Kamis (25/3/2023). /ANTARA FOTO/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS/foc.
Rudal balistik darat ke darat dengan jangkauan 2.000 km bernama Khaibar dipamerkan di Tehran, Iran, Kamis (25/3/2023). /ANTARA FOTO/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS/foc.

Jakarta, aktual.com – Strategi militer Amerika Serikat (AS) yang kembali mengandalkan superioritas udara dinilai berisiko mengulang pola lama, yakni janji kemenangan cepat yang berujung konflik berkepanjangan.

Mengacu pada analisis The Guardian, pendekatan ini bukan hal baru. Akar pemikirannya dapat ditelusuri hingga 1921 melalui teori Jenderal Italia Giulio Douhet dalam bukunya The Command of the Air.

Douhet meyakini kemenangan perang bisa diraih lewat pemboman besar-besaran, termasuk terhadap infrastruktur sipil, guna melumpuhkan moral musuh.

“Jauh lebih penting menghancurkan logistik dan infrastruktur dibanding menyerang garis depan,” tulis Douhet dalam teorinya, dikutip The Guardian, Jumat (27/3/2026), sebagaimana dilansir dari CNBC Indonesia.

Pemikiran tersebut kemudian memengaruhi berbagai strategi militer modern, termasuk dalam perang-perang besar yang melibatkan AS. Dalam konteks terkini, retorika agresif Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth terkait operasi udara terhadap Iran dinilai mencerminkan pola serupa.

Hegseth bahkan menyebut serangan udara sebagai pendekatan paling mematikan dan presisi dalam sejarah. “Kuantitas memiliki kualitas tersendiri… ini akan menjadi volume serangan tertinggi yang pernah dilakukan Amerika,” ujarnya.

Namun, menurut analis pertahanan Winslow Wheeler, klaim tersebut lebih banyak soal gaya komunikasi ketimbang substansi strategi baru.

“Yang tidak mereka hargai adalah bahwa sifat manusia tidak berubah,” kata Wheeler.

Ia menilai pemboman justru kerap memicu perlawanan, bukan menyerah. “Serangan Jerman terhadap Inggris tidak melemahkan tekad, justru menyatukan mereka,” katanya.

Sejarah Buktikan Serangan Udara Tak Selalu Efektif

Sejarah pun mencatat, dominasi udara kerap gagal memberikan kemenangan mutlak. Dalam Perang Vietnam, misalnya, teknologi sensor canggih AS untuk memutus jalur logistik Ho Chi Minh berhasil diakali dengan cara sederhana, termasuk penggunaan air kencing hewan untuk mengelabui detektor.

Sementara itu, dalam Perang Teluk 1991, klaim keberhasilan tinggi dari pesawat siluman F-117A terbukti dilebih-lebihkan. Studi Kantor Akuntabilitas Pemerintah AS (GAO) menemukan tingkat keberhasilan hanya sekitar 41%-60%, jauh dari klaim awal 80%.

Kampanye udara NATO di Kosovo pada 1999 juga menunjukkan keterbatasan serupa. Berdasarkan laporan yang dikutip The Guardian, ribuan serangan hanya berhasil merusak sebagian kecil target militer Serbia.

Fenomena ini berlanjut dalam invasi Irak 2003 melalui strategi “shock and awe”. Meski diawali dengan ribuan bom presisi, serangan udara gagal menggulingkan rezim Saddam Hussein tanpa intervensi darat.

Analisis The Guardian menekankan, klaim teknologi canggih, termasuk penggunaan kecerdasan buatan (AI), tidak serta-merta mengubah hasil perang. Meski Hegseth menyebut sistem otonom dan AI kini terintegrasi dalam operasi militer, efektivitasnya tetap dipertanyakan.

“Teknologi semakin canggih, tetapi tidak mengubah bagaimana manusia bereaksi di medan perang,” ujar Wheeler.

Dengan demikian, ketergantungan pada kekuatan udara dinilai berpotensi menjadi ilusi lama yang terus berulang.

Alih-alih menghadirkan kemenangan cepat, strategi ini justru berisiko menyeret AS ke konflik yang lebih kompleks dan berkepanjangan.

Serangan Udara AS-Zionis Israel Ancam Stabilitas Global, Iran Lebih Cerdik

Sebelumnya, Murad Sadygzade, Presiden Pusat Studi Timur Tengah, sekaligus Dosen Tamu di HSE University Moskow menyampaikan, serangan udara besar-besaran yang diluncurkan AS dan Zionis dan Israel ke jantung pertahanan Iran yang awalnya diprediksi sebagai operasi kilat dan menentukan, kini justru mengancam stabilitas dunia.

Operasi yang dirancang untuk melumpuhkan pusat saraf Teheran ini berisiko menyeret lebih banyak negara ke dalam pusaran konflik yang tak berkesudahan.

Sadygzade menganalisis, pada jam-jam pertama serangan, Washington (AS) dan Yerusalem Barat (Zionis Israel) membangun narasi strategis tentang kontrol penuh yang bersifat psikologis dan menentukan.

“Logika yang disimpulkan oleh banyak analis dari pola pembukaan serangan ini bukan sekadar merusak fasilitas, melainkan untuk memutuskan sistem saraf negara Iran, menyerang tulang punggung komando, otak koordinasi, dan simbol-simbol yang mengikat otoritas militer dan politik dalam satu rantai,” ujar Sadygzade dalam tulisannya di Russia Today (RT) dikutip CNBC Indonesia, Selasa (10/3/2026).

Laporan media, termasuk akun detail dari outlet utama Inggris, menggambarkan gelombang pertama sebagai aksi gabungan AS-Zionis Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran serta sejumlah besar tokoh militer senior. Hasil ini sesuai dengan templat serangan dekapitasi (pemenggalan kepemimpinan), meskipun detail operasionalnya masih diperdebatkan di publik.

Namun, Sadygzade menekankan, blitzkrieg atau perang kilat tidak ditentukan oleh bagaimana ia dimulai, melainkan seberapa cepat ia berakhir sesuai keinginan penyerang. Dalam kasus ini, koreografi tersebut hancur berantakan karena Iran memilih untuk memberikan perlawanan yang tersebar secara geografis.

“Iran, alih-alih memilih syok strategis atau protes ritual, tampaknya telah mengambil keputusan yang lebih berbahaya untuk menjawab secara berkelanjutan dan terdistribusi, mengubah konfrontasi dari satu teater menjadi uji tekan seluruh wilayah terhadap pertahanan udara, perlindungan angkatan laut, keamanan pangkalan, dan kohesi politik,” tuturnya.

Efek politik dari alarm yang terus-menerus, gangguan lalu lintas, dan dampak serangan yang berulang memiliki kekuatan korosif. Hal ini memaksa setiap pemerintah di wilayah tersebut untuk mempertanyakan berapa lama pasar, warga negara, dan koalisi internal mereka dapat bertahan sebelum akhirnya retak.

Sadygzade juga menilai, ketika perang menjadi kontes ketahanan, fokusnya bukan lagi hanya pada platform dan amunisi, melainkan pada stok, anggaran, logistik, dan kesediaan mitra untuk tetap membuka pintu. Hal inilah yang membuat front diplomatik kini menjadi sama pentingnya dengan front kinetik di medan perang.

“Itulah sebabnya front diplomatik mulai menjadi sepenting front kinetik. Jika ekspektasi awal adalah kampanye singkat dengan dampak politik terbatas, kenyataan saat ini terlihat lebih dekat pada perjuangan di mana Washington dan Zionis Israel membutuhkan jalan keluar yang tidak menyerupai kekalahan,” kata Sadygzade.

Dalam situasi terjepit, insting untuk memperlebar lingkaran partisipan menjadi sangat kuat guna mendapatkan lebih banyak opsi pangkalan, rute pengisian ulang, dan perlindungan diplomatik.

Namun, upaya perekrutan ini menabrak dinding penolakan keras, bahkan dari dalam kamp Barat sendiri, seperti yang ditunjukkan oleh Spanyol.

“Spanyol muncul sebagai contoh Eropa yang paling jelas dalam menarik garis kebijakan publik. Perdana Menteri Pedro Sanchez menolak penggunaan pangkalan Spanyol untuk serangan terhadap Iran, membingkai sikap Spanyol sebagai penolakan untuk menjadi kaki tangan dalam eskalasi,” jelas Sadygzade.

Tindakan Madrid ini diikuti oleh relokasi pesawat AS dari Spanyol selatan, yang menandakan posisi Madrid memiliki bobot operasional yang nyata. Respons Washington sendiri bergeser cepat ke bahasa tekanan, di mana Presiden Donald Trump secara terbuka mengancam konsekuensi perdagangan sebagai hukuman atas ketidakpatuhan tersebut.

Sadygzade juga menyoroti posisi London yang lebih kompleks namun mengungkapkan adanya keretakan internal. Pemerintah Inggris menekankan tidak terlibat dalam serangan awal, meski memperluas penyebaran pertahanan seiring meluasnya pembalasan Iran ke negara-negara yang tidak ikut serta dalam serangan pembuka.

“Media melaporkan bentrokan politik di mana Trump mengkritik Perdana Menteri Inggris Keir Starmer karena penolakan awal untuk mengizinkan penggunaan pangkalan Inggris bagi tindakan ofensif. Laporan Inggris menggambarkan resistensi kabinet internal yang membatasi ruang gerak Starmer hingga postur bergeser ke arah pertahanan,” tambahnya.

Di tingkat regional, dampaknya jauh lebih sensitif. Mitra tradisional AS di Teluk membangun stabilitas domestik mereka di atas janji keamanan dan ekspor yang dapat diandalkan. Perang yang berkepanjangan menghancurkan kedua pilar tersebut, terutama dengan lumpuhnya Selat Hormuz yang merupakan jantung ekonomi kawasan.

“Jika Hormuz secara efektif tidak dapat digunakan, narasi investasi goyah, biaya asuransi melonjak, kontrak pasokan terganggu, dan citra Teluk sebagai simpul aman dalam perdagangan global mulai terlihat seperti mitos yang rapuh. Dampaknya tidak hanya memukul ekonomi lokal tetapi juga konsumen besar seperti China,” papar Sadygzade.

Ketegangan mencapai puncaknya saat infrastruktur energi seperti fasilitas Ras Tanura di Arab Saudi dan kompleks industri Ras Laffan di Qatar menjadi sasaran.

QatarEnergy bahkan secara resmi menghentikan produksi LNG setelah serangan militer terhadap fasilitas operasi mereka. Hal ini memicu perdebatan mengenai siapa yang sebenarnya diuntungkan dari persepsi bahwa Iran menyerang tetangganya.

“Pertanyaan strategisnya bukan hanya siapa yang bisa memukul target tersebut, tapi siapa yang diuntungkan dari persepsi bahwa Iran bersedia memukul mereka. Jika Teheran mencoba mencegah negara-negara Teluk menjadi kombatan aktif, maka memukul garis hidup ekonomi tetangga yang ragu-ragu terlihat merugikan diri sendiri,” ulasnya.

Muncul dugaan adanya operasi bendera palsu (false flag) atau sabotase yang dirancang untuk memaksa monarki Teluk turun tangan.

Sadygzade mencatat adanya laporan penangkapan individu yang diduga terkait intelijen Zionis Israel di Arab Saudi dan Qatar, meski basis buktinya masih beragam dan penuh klaim yang saling bertentangan.

Kekacauan ini semakin parah dengan insiden di perbatasan utara, termasuk pencegahan amunisi balistik di wilayah Turki dan serangan drone di dekat sekolah di Azerbaijan.

Meskipun tuduhan mengarah ke Teheran, Iran secara konsisten membantah keterlibatan mereka dan menuding Zionis Israel sebagai provokator untuk menciptakan musuh baru bagi Iran.

“Ini sebabnya motif Washington dan Zionis Israel dalam perluasan koalisi tampak lebih koheren secara struktural daripada ide bahwa Iran sengaja mencoba mengumpulkan musuh regional baru. Jika peserta baru ditarik ke sisi Barat, tekanan pada Iran meningkat dan narasi dapat diubah dari agresi sepihak menjadi pertahanan kolektif,” tegas Sadygzade.

Ia pun memperingatkan, jika Washington dan Zionis Israel gagal merekrut dukungan yang berarti, kredibilitas jaminan keamanan AS akan hancur.

Di dalam negeri AS sendiri, perang yang berkepanjangan menjadi ujian keberlanjutan politik, terutama dengan adanya manuver Kongres untuk membatasi kekuasaan perang presiden.

“Bahaya yang lebih dalam bukan hanya rasa malu politik, melainkan ledakan regional. Begitu infrastruktur energi dan titik sumbat pelayaran menjadi target berulang, perang memperoleh logika penularan. Kematian pemimpin tertinggi Iran bukan hanya peristiwa militer, tapi serangan terhadap pusat gravitasi politik-agama,” kata Sadygzade menutup analisisnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eroby Jawi Fahmi

Penyerangan dengan Air Keras: Pemulihan Aktivis KontraS Andrie Yunus Diperkirakan Hingga Dua Tahun

Foto dua terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus ditampilkan pada konferensi pers di Jakarta, Rabu (18/3/2026). ANTARA/Ilham Kausar/aa.
Foto dua terduga pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) Andrie Yunus ditampilkan pada konferensi pers di Jakarta, Rabu (18/3/2026). ANTARA/Ilham Kausar/aa.

Jakarta, aktual.com — Aktivis KontraS, Andrie Yunus, masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit akibat penyerangan dengan air keras. Proses pemulihannya diperkirakan berlangsung panjang dan memerlukan penanganan medis berkelanjutan.

Hal ini disampaikan oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) setelah menerima laporan medis lengkap dari tim dokter RSCM Jakarta. Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah, bersama komisioner lainnya juga telah meninjau langsung kondisi korban.

“Informasinya sangat mendalam sesuai dengan yang dibutuhkan Komnas HAM terkait dampak medis dan juga dampak psikologis,” kata Anis, dikutip Antara, Kamis (26/3).

Berdasarkan data medis, korban mengalami iskemia atau berkurangnya aliran darah pada sekitar 40 persen area sklera mata kanan, yang menyebabkan penipisan jaringan serta inflamasi yang masih berlangsung.

Tim medis telah melakukan serangkaian tindakan terpadu yang melibatkan dokter spesialis mata dan bedah plastik. Prosedur tersebut mencakup pemindahan jaringan intraokular, pemasangan membran amnion, hingga penanganan luka bakar melalui debridement dan cangkok kulit di beberapa bagian tubuh. Penanganan juga difokuskan pada upaya mempertahankan fungsi bola mata kanan serta mengendalikan peradangan dengan pemantauan intensif.

Komnas HAM menilai bahwa pemulihan korban membutuhkan waktu panjang, termasuk operasi lanjutan dan perawatan berkelanjutan. Hingga saat ini, perkembangan kondisi mata masih dalam tahap analisis sehingga belum dapat disimpulkan secara final.

Komisioner Mediasi Komnas HAM, Pramono Ubaid Tanthowi, menjelaskan bahwa pendalaman dilakukan untuk memastikan kondisi korban sejak awal dirawat hingga rencana pemulihan ke depan.

“Kami mendapatkan informasi terkait kondisi Saudara AY sejak dari awal masuk rumah sakit sampai penanganan terakhir,” ujar Pramono.

Ia juga menambahkan bahwa Komnas HAM mendalami dampak zat kimia tersebut, baik dalam jangka pendek maupun panjang, mencakup aspek fisik dan psikologis. Menurutnya, langkah medis yang dilakukan sudah berjalan secara intensif dan terukur.

“Tindakan medis sejauh ini kami melihat sudah sangat baik, sangat intensif,” ujarnya.

Sementara itu, Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM, Saurlin P Siagian, mengungkapkan bahwa luka yang dialami korban dikategorikan sebagai luka bakar akibat paparan zat kimia asam kuat.

“Operasi masih terus berlanjut dan akan berlangsung enam bulan sampai dua tahun ke depan untuk pemulihan,” ujar Saurlin, dikutip Antara, Jumat (27/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa enam bulan pertama merupakan fase krusial dalam menentukan arah pemulihan, khususnya untuk melihat stabilitas luka dan respons tubuh terhadap tindakan medis lanjutan.

Komnas HAM juga menekankan pentingnya penggunaan istilah medis yang lebih akurat dalam kasus ini, menggantikan istilah populer yang selama ini digunakan.

“Pertama, luka bakar akibat disiram zat kimia asam kuat. Jadi mungkin ini adalah istilah yang bisa resmi kita pakai bersama-sama untuk publik,” ujar Saurlin.

Menurutnya, penggunaan istilah berbasis medis penting untuk memastikan pemahaman yang tepat terkait karakter luka, sekaligus menjadi dasar dalam penanganan hukum dan medis.

Ia juga menambahkan bahwa luka bakar dengan tingkat di atas 20 persen membutuhkan waktu pemulihan yang panjang, bahkan bisa mencapai dua tahun.

“Operasi masih terus berlanjut dan masih akan terus berlanjut operasinya dan akan berlangsung enam bulan sampai dua tahun ke depan untuk pemulihan 20 persen luka bakar,” kata Saurlin.

Komnas HAM memastikan bahwa pembiayaan pengobatan korban telah mendapat dukungan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), guna menjamin keberlanjutan proses perawatan.

“Kemudian kami mendapat konfirmasi bahwa pembiayaan alhamdulillah di-cover oleh LPSK,” ujar Saurlin.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

DPR Apresiasi Mundurnya Kabais TNI Pasca Penyerangan Aktivis KontraS, Tekankan Penegakan Hukum Tetap Dilanjutkan

Jakarta, Aktual.com – Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, mengapresiasi mundurnya Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI, Letnan Jenderal TNI Yudi Abrimantyo, terkait kasus penyerangan air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus. Ia menilai keputusan itu menjadi contoh tanggung jawab moral yang baik.

“Ini menjadi contoh yang baik dan semoga bisa ditiru oleh kita semua,” ujar TB Hasanuddin dalam keterangan tertulis, Sabtu (28/03/2026).

Politikus PDI Perjuangan itu memuji sikap Yudi Abrimantyo yang mengambil tanggung jawab atas pelanggaran yang dilakukan bawahannya, sekaligus menunjukkan integritas dan akuntabilitas dalam menjalankan tugas.

Meski demikian, TB Hasanuddin menegaskan bahwa pengunduran diri Kabais tidak boleh menghentikan proses penegakan hukum. Ia menambahkan bahwa pengusutan perlu mencakup tidak hanya pelaku di lapangan, tetapi juga aktor yang merancang atau berada di balik peristiwa tersebut.

“Ini penting agar tidak menimbulkan pertanyaan dan kekecewaan di tengah masyarakat,” tegasnya.

Politikus senior itu juga menekankan peran DPR dalam pengawasan, termasuk melalui tim atau mekanisme pengawasan intelijen, untuk memastikan kasus ini jelas dan terbuka bagi publik.

Sebelumnya, Markas Besar TNI menyampaikan bahwa jabatan Kabais yang dijabat Letjen TNI Yudi Abrimantyo telah diserahkan. Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI, Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah, mengatakan,

“Sebagai bentuk pertanggungjawaban hari ini telah dilaksanakan penyerahan jabatan Kabais.” Namun, pihak TNI belum menjelaskan secara rinci pengganti Kabais yang baru maupun detail lainnya terkait kasus tersebut.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi

AS Tunggu Respons Iran atas Proposal 15 Poin Gencatan Senjata di Tengah Ketegangan Global

Ilustrasi - Warga menghadiri unjuk rasa menentang serangan AS-Israel terhadap Iran di luar Balai Kota Los Angeles di California, Amerika Serikat, 7 Maret 2026. ANTARA/XInhua/Qiu Chen.
Ilustrasi - Warga menghadiri unjuk rasa menentang serangan AS-Israel terhadap Iran di luar Balai Kota Los Angeles di California, Amerika Serikat, 7 Maret 2026. ANTARA/XInhua/Qiu Chen.

Washington, aktual.com – Gedung Putih memperkirakan akan menerima tanggapan Iran via pihak perantara pada Jumat (27/3) malam waktu setempat terkait rencana 15 poin yang diajukan Amerika Serikat (AS) untuk kemungkinan gencatan senjata guna mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran, demikian menurut laporan CBS News.

Presiden AS Donald Trump dan para pejabat tinggi Gedung Putih telah diberi tahu bahwa proposal balasan Iran kemungkinan akan tiba pada Jumat via pihak perantara, ungkap dua sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Steve Witkoff, utusan khusus AS, pada Kamis (26/3) di Gedung Putih mengatakan bahwa pemerintahan Trump telah menyampaikan rencana tersebut kepada Iran melalui Pakistan.

The Wall Street Journal sebelumnya melaporkan bahwa rencana tersebut menyerukan Iran untuk membongkar tiga fasilitas nuklir utamanya dan menghentikan segala bentuk pengayaan uranium di wilayah Iran, menangguhkan program rudal balistiknya, membatasi dukungan untuk kelompok-kelompok proksi, serta membuka kembali Selat Hormuz secara penuh.

Gedung Putih berupaya mengatur pertemuan di Pakistan pada akhir pekan ini untuk membahas jalan keluar dari perang AS-Israel dengan Iran, lapor CNN pada Rabu (25/3), mengutip dua pejabat senior AS.

AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap Iran pada 28 Februari, yang mengganggu pelayaran global, mendorong lonjakan harga minyak, serta mengguncang perekonomian dunia.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Membongkar Makna “Syawal

Umat muslim menunggu waktu berbuka puasa pada hari pertama Ramadhan di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (1/3/2025). Masjid Istiqlal menyediakan 4.000 porsi makanan gratis untuk berbuka puasa yang diberikan kepada warga setiap hari selama bulan Ramadhan. Aktual/TINO OKTAVIANO

Oleh: Dona Romdhona, Pondok Pesantren Singa Buntu, Pedes, Karawang

Jakarta, aktual.com – Hayo ngaku, siapa di sini yang tiap tahun ngerayain Idul Fitri, puasa Syawal, dan masih nggak pernah kepikiran “sebenernya kenapa sih bulan ini namanya Syawal?”

Ternyata seru juga ceritanya!
Maknanya ada kaitannya sama unta, ekor, susu, sampe dosa-dosa yang diangkat.

Udah mulai penasaran kan?
Yuk kita bahas…

Pertama: Arti Dasarnya

Sebelum kita bahas kenapa bulan ini dinamain Syawal, kita harus tau dulu akar katanya. Ibn Faris, seorang ahli bahasa ternama, bilang gini di kitab Maqayis al-Lughah:

الشين والواو واللام أصلٌ واحد يدلُّ على الارتفاع

Artinya: “Huruf syin, waw, lam itu satu akar kata yang cuma punya satu makna: naik atau terangkat.”

Nah, dari akar kata ini, lahir berbagai kata yang semuanya ada hubungannya sama “naik”:

Syala al-mizan: timbangan naik (salah satu piringnya terangkat)
Asyaltu asy-syai’a: aku mengangkat sesuatu
Asy-Syawl: unta yang susunya naik
Asy-Syawwal: unta betina yang ngangkat ekornya

Gampang kan? Intinya mah semua tentang “naik”. Nah, bulan Syawal ini nama-nya diambil dari akar kata yang sama juga.

Kedua: Maknanya dari Unta yang Ngangkat Ekor?

Dulu, orang Arab namain bulan ini Syawal karena bertepatan dengan musim unta betina yang lagi pada ngangkat-ngangkat ekornya. Biasanya ini terjadi pas musim kawin atau pas unta lagi bunting.

Al-Jahiz, seorang ulama besar yang juga penulis Al-Bayan wa At-Tabyin, ngejelasin dengan gaya khasnya:

وإنما سمي شوّال شوّالا لأن النوق شالت بأذنابها فيه

“Dinamain Syawal itu karena para unta betina ngangkat ekornya di bulan ini.”

Terus beliau juga ngasih analogi menarik. Katanya, mungkin saja sekarang bulan Syawal jatuhnya nggak pas sama musim unta ngangkat ekor lagi. Dan yah… nama itu tetap melekat, kayak nama Ramadhan yang tetep dipake meskipun nggak selalu terjadi di musim panas. Namanya udah jadi “cap” atau tanda saja gitu.

Ash-Shahib ibn Abbad di kitab Al-Muhith fi al-Lughah juga bilang:

وسمي شوال -اسم شهر-لأنه وافق الوقت الذي تشول فيه الإبل

“Dinamain Syawal (nama bulan) karena bertepatan dengan waktu ketika unta betina ngangkat ekornya.”

Al-Jawaliqi di Syarh Adab al-Katib malah ngasih dua kemungkinan sekaligus:

وشوال سمي بذلك لأن الإبل كانت تقل ألبانها فيه يقال ناقة شائلةٌ بالهاء والجمع شول وقيل كانت تشول فيه الإبل أي تحمل فتشول بأذنابها

“Syawal dinamain gitu karena dua hal: ada yang bilang karena susu unta mulai berkurang di bulan ini (makanya unta disebut syā’ilah), ada juga yang bilang karena unta lagi hamil jadi ngangkat-ngangkat ekornya.”

Seru kan? Dua-duanya masih berkaitan sama “naik”. Bisa naiknya ekor atau soal susu yang berkurang (yang juga pakai istilah “naik” dalam arti hilang/menguap).

Ketiga: Ada Juga yang Bilang Susu Unta Berkurang

Nah, soal susu unta ini, ada penjelasan lebih lanjut. Beberapa ulama bilang bahwa di bulan Syawal, susu unta justru berkurang. Kok bisa? Karena kata syalat (شالت) yang artinya “naik” itu kadang dipakai buat sesuatu yang “naik” lalu hilang, kayak air yang menguap.

Ibn al-Jauzi di kitab At-Tabsyirah ngejelasin:

وسمي شوال لأَنَّ الأَلْبَانَ كَانَتْ تَشُولُ فِيهِ أَيْ تَذْهَبُ وتقل

“Dinamain Syawal karena pada bulan ini susu-susu unta ‘naik’, maksudnya hilang dan berkurang.”

Al-Jawaliqi juga nyebutin hal yang sama. Jadi, meskipun akar katanya “naik”, nanun ya gitu deh, dalam konteks susu unta di bulan Syawal, yang dimaksud adalah susunya berkurang.

Keempat: Maknanya Juga berkaitan dengan Mengangkat Dosa?

Di kitab Fadha’il Syahri Rajab karya Al-Khallal, disebutin dengan jelas:

سُمِّيَ شوال لأنه يشول الذنوب كما تشول الناقة ذنبها

“Dinamain Syawal karena ia mengangkat dosa-dosa, sebagaimana unta betina ngangkat ekornya.”

Penjelasan ini juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas, salah satu sahabat yang paling pinter. Dalam kitab Tartib al-Amali al-Khamisiyyah, ada cerita panjang tentang seorang Yahudi yang nanya-nanya ke Ibnu Abbas soal nama-nama bulan. Pas nyampe ke Syawal, Ibnu Abbas jawab:

وَأَمَّا شَوَّالٌ فَإِنَّمَا سُمِّيَ شَوَّالًا، لِأَنَّهُ يَشُولُ بِذُنُوبِ بَنِي آدَمَ عِنْدَ انْسِلَاخِ رَمَضَانَ

“Adapun Syawal, ia dinamain Syawal karena ia mengangkat dosa-dosa anak Adam saat berakhirnya bulan Ramadan.”

Nah, nyambung kan sama puasa Ramadan dan Idul Fitri? Kita puasa sebulan penuh buat bersihin diri, berjuang melawan hawa nafsu, terus pas masuk Syawal, dosa-dosa kita diangkat. Makanya Idul Fitri juga disebut sebagai hari kembali ke fitrah, kembali suci, bersih dari dosa, masih nyambung dengan makna ini juga ternyata.

Ini juga kenapa kita disunnahin puasa Syawal. Setelah dosa diangkat, kita kasih “tanda tangan” dengan ibadah lagi. Kayak habis mandi besar terus wudhu lagi biar tambah “bersih”, gitu mah kira-kira.

Kelima: Keutamaan Bulan Syawal yang Sering Dilupakan

Nah, setelah tau asal-usul nama, kita juga perlu tau nih keutamaan bulan Syawal. Jangan sampe cuma tau nama doang namun pahalanya nggak keambil!

1. Puasa 6 Hari Syawal

Ini yang paling terkenal. Rasulullah bersabda:

مَن صامَ رمضانَ، ثمَّ أتْبَعَهُ ستًّا مِن شوَّالٍ، كانَ كصيامِ الدَّهرِ

“Barang siapa puasa Ramadan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti puasa setahun penuh.”

Modal puasa wajib sebulan plus puasa sunnah 6 hari, kita udah dapet pahala setahun penuh. Hitung-hitungannya begini: satu kebaikan dibalas 10 kali lipat. Puasa Ramadan 30 hari = 300 hari. Puasa Syawal 6 hari = 60 hari. Total 360 hari = setahun penuh. Mantap!

2. Ada yang Puasa Sebulan Penuh!

Ternyata ada juga riwayat yang nyebutin bahwa beberapa sahabat puasa sebulan penuh di bulan Syawal.

وخرج ابن ماجه بإسناد منقطع، أن أسامة بن زيد كان يصوم أشهر الحرم، فقال له رسول الله – ﷺ -: «صم شوالا»، فترك أشهر الحرم ثم لم يزل يصوم شوالا حتى مات

“Ibnu Majah meriwayatkan dengan sanad yang terputus, bahwa Usamah bin Zaid biasa berpuasa pada bulan-bulan haram. Maka Rasulullah bersabda kepadanya: ‘Berpuasalah di bulan Syawal.’ Maka beliau pun meninggalkan puasa bulan-bulan haram, dan terus berpuasa di bulan Syawal hingga wafatnya.”

Riwayat lain (dengan sanad bersambung):

وخرجه أبو يعلى الموصلي بإسناد متصل: عن أسامة؛ قال: كنت أصوم شهرا من السنة، فقال لي النبي – ﷺ -: «أين أنت من شوال؟». فكان أسامة رضي الله عنه إذا أفطر رمضان؛ أصبح الغد صائما من شوال حتى يأتى على آخره

“Dan Abu Ya’la Al-Mushili meriwayatkan dengan sanad yang bersambung: dari Usamah, ia berkata: ‘Aku biasa berpuasa satu bulan dalam setahun. Maka Nabi SAW bersabda kepadaku: ‘Bagaimana dengan puasa Syawal?’ Maka Usamah radhiyallahu ‘anhu, jika telah selesai Ramadan, beliau berpuasa sejak pagi hari berikutnya di bulan Syawal hingga akhir bulan.”

Riwayat ini sanadnya muttashil (bersambung), lebih kuat dari riwayat pertama. Perlu dicatat juga ya, tanggal 1 Syawal tetep haram berpuasa.

3. Tanda Diterimanya Amalan Ramadan

Para ulama bilang, salah satu tanda diterimanya puasa Ramadan adalah seseorang diberi taufik untuk puasa sunnah setelahnya. Iya, kalau kita mampu puasa Syawal, itu bisa jadi pertanda kalau puasa Ramadan kita diterima Allah.

Ibn Rajab Al-Hanbali di kitab Latha’if al-Ma’arif ngejelasin:

إنما جعل الله تعالى صيام ستة أيام من شوال بمنزلة السنّة للصلاة

“Allah menjadikan puasa enam hari Syawal sebagai sunnah yang mengiringi puasa Ramadan, sebagaimana shalat sunnah mengiringi shalat wajib.”

Kayak kita shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat wajib, itu tanda kalau shalat wajib kita diterima dan jadi penyempurna. Begitu juga puasa Syawal, jadi penyempurna dan penanda diterimanya puasa Ramadan.

4. Ada Perbedaan Pendapat Ulama

Perlu diketahui juga, nggak semua ulama sepakat soal puasa Syawal. Ibnu Rajab di kitab yang sama ngasih ringkasan perbedaan pendapat yang menarik:

Yang mensunnahkan:

Ibnu Abbas, Thawus, Asy-Syabi, Maimun bin Mihran
Ibnul Mubarak, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Ishaq bin Rahuyah

Yang memakruhkan:

Imam Ats-Tsauri, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Imam Malik

وكَرِهَها الثَّوْرِيُّ وأبو حَنِيفَةَ وأبو يوسُفَ، وعَلَّلَ أصحابُهُما ذلكَ بمشابهةِ أهلِ الكتاب؛ يعنون: في الزيادة في صيامهم المفروض عليهم ما ليس منه

“Dan memakruhkan puasa ini adalah Ats-Tsauri, Abu Hanifah, dan Abu Yusuf. Para pengikut mereka beralasan karena menyerupai ahli kitab. Maksudnya? Dalam hal menambah-nambah puasa yang difardhukan kepada mereka dengan puasa yang bukan bagian darinya.”

Namun, Imam Malik sendiri katanya puasa Syawal di rumah, cuma nggak menampakkannya di depan umum. Jadi bukan berarti nggak puasa, tapi lebih ke cara menyikapi biar nggak menimbulkan fitnah.

Ibnu Rajab menulis:

وكرهها أيضا مالك، وذكر في «الموطأ» أنه لم ير أحدا من أهل العلم والفقه يصومها، قال: ولم يبلغني ذلك عن أحد من السلف، وإن أهل العلم يكرهون ذلك ويخافون بدعته وأن يلحق برمضان ما ليس منه أهل الجهالة لو رأوا أحدا من أهل العلم يفعل ذلك

“Dan memakruhkan puasa ini juga Imam Malik. Beliau menyebutkan dalam Al-Muwaththa’ bahwa beliau tidak melihat seorang pun dari ahli ilmu dan fiqih yang melakukannya. Beliau berkata: ‘Dan belum sampai kepadaku (riwayat) tentang hal itu dari seorang pun dari kalangan salaf. Sesungguhnya para ulama memakruhkan hal itu dan khawatir akan terjadinya bid’ah, serta dikhawatirkan orang-orang awam akan menambahkan sesuatu yang bukan bagian dari Ramadan jika mereka melihat ada ulama yang melakukannya.'”

Cara puasanya juga beda-beda:

Ada yang bilang harus 6 hari berturut-turut setelah Idul Fitri (Imam Syafi’i, Ibnul Mubarak)
Ada yang bilang boleh berturut atau terpisah, sama saja (Imam Ahmad, Waki’)
Ada yang bilang jangan langsung setelah Idul Fitri

Yang jelas, mayoritas ulama bilang puasa Syawal itu sunnah dan pahalanya luar biasa. Jadi jangan sampai kelewatan ya!

5. Syawal Juga Bulan Silaturahmi di Nusantara

Selain puasa, Syawal juga identik dengan silaturahmi. Habis Idul Fitri, kita pada saling mengunjungi, saling maaf-memaafkan. Ini juga bentuk ibadah yang luar biasa.

Nah, momen Syawal ini jadi waktu yang pas buat memperbaiki tali silaturahmi yang mungkin sempat renggang. Apalagi setelah sebulan penuh kita latihan nahan diri di Ramadan, pas Syawal kita aplikasikan dengan memperbaiki hubungan sama sesama manusia.

Makna Filosofis: Syawal Itu Soal “Naik”

Kalau kita tarik benang merah dari semua penjelasan di atas, Syawal punya makna yang indah:

1. Dari sisi bahasa, Syawal berarti “naik” atau “terangkat”.
2. Dari sisi historis, ada unta yang ngangkat ekor, atau susu unta yang berkurang (tetap pakai istilah “naik” juga).
3. Dari sisi spiritual, Syawal adalah bulan di mana dosa-dosa “diangkat” setelah kita berjuang di Ramadan.
4. Dari sisi ibadah, kita diajak untuk “naik” lagi levelnya dengan puasa sunnah, biar pahala kita makin “naik” kayak setahun penuh.
5. Dari sisi sosial, kita “naik” level silaturahminya, memperbaiki hubungan yang sempat turun.

Jadi, Syawal itu bukan cuma bulan biasa ya. Ini bulan kemenangan, bulan pengangkatan dosa, bulan peningkatan pahala, dan bulan untuk memperkuat hubungan.

Penutup, Yuk Manfaatin Syawal!

Nah, setelah tau cerita panjang lebar tentang Syawal, jangan cuma jadi pengetahuan doang ya. Yuk kita manfaatkan:

– Kalau belum puasa Syawal, masih ada waktu. Nggak harus berturut-turut kok, yang penting 6 hari di bulan Syawal.
– Perbanyak silaturahmi. Lebaran memang cuma sehari, tapi momen silaturahmi bisa sepanjang Syawal.
– Jangan lupa, dosa-dosa udah diangkat. Namun ya GITU, tetep jaga diri, jangan sampai balik lagi ke kebiasaan buruk.
– Kalau ada yang belum sempat minta maaf, masih ada kesempatan. Syawal masih panjang!

Selamat menikmati bulan Syawal, semoga kita semua termasuk orang-orang yang dosanya diangkat, amalnya diterima, dan diberi kesempatan untuk bertemu Ramadan tahun depan. Aamiin!

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain

Berita Lain