Indeks Hasil Saham Gabungan dan Rupiah

Jakarta, Aktual.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah pada awal perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis (24/3). Demikian juga dengan rupiah yang melemah pada perdagangan pasar spot.

Melansir data RTI, pukul 09.05 WIB, IHSG berada pada level 6.983,08 atau turun 13,03 poin (0,19 persen) dibanding penutupan sebelumnya pada level 6.996,11.

Sebanyak 193 saham melaju di zona hijau dan 135 saham di zona merah. Sedangkan 216 saham lainnya stagnan. Adapun nilai transaksi hingga saat ini mencapai Rp 1,07 triliun dengan volume 1,8 miliar saham.

Bursa Asia mayoritas merah dengan penurunan Nikkei 0,9 persen, Hang Seng Hong Kong 0,3 persen, dan Shanghai Komposit 0,6 persen. Sementara itu, Strait Times menguat 0,6 persen.

Wall Street pagi ini ditutup merah dengan penurunan Dow Jones Industrial Average (DJIA) 1,29 persen, S&P 500 melemah 1,23 persen, dan Nasdaq Komposit turun 1,3 persen.

Sebelumnya, Research Analyst Artha Sekuritas Indonesia Dennies Christoper mengatakan, secara teknikal candlestick, indeks membentuk higher high dan higher low dengan volume yang masih cukup tinggi mengindikasikan trend bullish masih cukup kuat.

“IHSG berpotensi menguat. Dari dalam negeri masih akan minim sentimen terutama dari data ekonomi. Dari global investor masih akan mencermati perkembangan konfik Rusia-Ukraina serta mencermati rilis data ekonomi dari AS,” kata Dennies dalam rekomendasinya.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot pagi ini melemah. Melansir Bloomberg, pukul 09.03 WIB rupiah bergerak pada level Rp 14.371 per dollar AS, atau turun 24 poin (0,17 persen) dibanding penutupan sebelumnya di level Rp 14.346 per dollar AS.

Pengamat pasar uang Ariston Tjendra mengatakan, pelemahan rupiah terjadi karena kekhawatiran pasar terhadap kenaikan inflasi global.

“Nilai tukar rupiah masih berpeluang mengalami tekanan terhadap dollar AS hari ini karena kekhawatiran pasar terhadap kenaikan inflasi global,” kata Ariston kepada Kompas.com.

Kekhawatiran tersebut dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah karena kerusakan jalur pipa distribusi minyak mentah dari Kazakstan di laut hitam Rusia akibat Badai.

Sementara itu, perbaikan bisa memakan waktu 2 bulan. Jalur pipa ini mengalirkan minyak sebanyak 1,2 juta barel per hari. Kerusakan ini tentu saja akan menurunkan suplai minyak mentah dunia.

“Di sisi lain, optimisme pemulihan ekonomi dalam negri bisa menahan pelemahan nilai tukar rupiah,” ungkap dia.

Ariston memprediksi rupiah hari ini akan bergerak pada kisaran Rp 14.380 per dollar AS sampai dengan Rp 14.330 per dollar AS.

 

(Arie Saputra)