Jakarta, Aktual.com — Pakar Bahasa Daerah Banjar Kalimantan Selatan Prof Dr H Rustan Effendi berpendapat, masyarakat Banjar provinsi ini patut berterimakasih kepada almarhum Datok Mangku Adat (DMA) H Adjim Arijadi.

Pendapat Guru Besar Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) Banjarmasin itu pada bedah “Kitab Pantun Bahas Banjar” karya MDA H Adjim Arijadi BSc, di Balai/Taman Budaya Kalimantan Selatan (Kalsel), Rabu (10/02).

Karena, menurut alumnus program doktor pada Unitersiti Utara Malaysia, kelahiran Limpasu Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Kalsel itu, almarhun Adjim semasa hidupnya banyak membuat pantun dalam bahasa daerah Banjar.

“Bahkan almarhum Adjim yang sempat meraih gelar BSc itu menjadikan pantun sebagai media. Dan media ini cakupan dan pengertiannya cukup luas,” lanjut Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unlam tersebut.

Menurut dia, cukup beralasan kalau almarhum Adjim menjadikan pantun sebagai media. Karena walau pantun produk sastra lama tapi mampu hidup dan berkembang hingga era modern.

“Bandingkan saja pantun dengan syair, mantra, peribahasa dan lainnya dalam bentuk kesusastraan lama. Syair, mantra dan peribahasa itu belakangan hampir lenyap, sedangkan pantun terus berkembang,” tuturnya.

Dosen Bahasa Indonesia Sastra Daerah Banjar pada FKIP Unlam itu menilai almarhum Adjim tergolong berani dalam melakukan terobosan, yaitu membuat bentuk pantun bertema.

Karena dalam sastra Indonesia, bentuk pantun bertema itu tidak lazim. Sebab sejumlah pantun yang bait-baitnya mengacu pada tema yang ditentukan, demikian Rustam Effendi.

Sementara itu, dosen bahasa/sastra Indonesia pada Universitas Indonesia (UI) Jakarta Dr Maman S. Mahayana, M.Hum mengapresiasi terhadap almarhum Adjim dengan berbagai karya pantun.

Karena menurut dia, pantun merupakan kekhasan sastra Indpnesia yang tiada duanya dalam dunia sastra.

Oleh sebab itu, tidak heran hampir semua daerah di Indonesia mengenal pantun, seperti di masyarakat Banjar Kalsel, Betawi, Minang Sumatera Barat, dan Papua.

“Hanya saja suansa dari pantun tersebut bebeda dari masing-masing daerah. Tapi pantun juga menjadi media komunikasi,” demikian Maman.

()