Jakarta, Aktual.com – Pakar Komunikasi Dr. Mohammad Lutfi, M.I.Kom, M.I.Kom meminta jurnalis Muslim menerapkan jurnalisme profetik atau kenabian dalam menjalankan profesi jurnalis dengan meneladani sikap Rosulullah SAW yang sidiq, amanah, tablig, dan fatanah dalam berdakwah.

Seorang jurnalis mestilah sidiq yaitu benar dalam memberitakan peristiwa, lalu amanah, kemudian tablig atau menyampaikan kebenaran.
Selanjutnya, fatanah atau cerdas dalam berkomunikasi, kata Lutfi pada Munas III Persaudaraan Jurnalis Muslim Indonesia (PJMI) di Jakarta, Kamis (4/8).
Wakil Dekan Pasca Sarjana Universitas Juanda Bogor itu juga mengutip Al Quran surat Al Hujarat ayat 6 yang menjadi panduan bahwa seorang jurnalis harus faktual dan sering melakukan check and recheck sebelum berita disebarluaskan.
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu,” katanya mengutip terjemahan surat itu.
Oleh karena itu, ia mengingatkan, etika paling mendasar dari jurnalis adalah soal faktualitas sehingga data menjadi faktor penting agar tidak terjebak pada berita hoaks. “Prinsip ini bisa meminimalisasi munculnya berita hoaks,” tuturnya.
Sementara pada kesempatan yang sama, Ketua Umum PB Al Washliyah Dr. KH Mashuri Khamis SH MH mengatakan Jurnalis Muslim sebagai warga negara mempunyai tanggung jawab menjaga moral bangsa dengan berani mengangkat berita yang berkeadilan dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Menurut dia, Jurnalis Muslim juga seorang juru dakwah dimana tahapan-nya tidak hanya menyampaikan kabar dan pesan secara lisan dan tulisan tetapi juga harus mampu mengimplementasikan pesan moral yang disampaikan dalam perilaku dirinya sehari-hari.

Baca juga: Parni Hadi luncurkan buku Jurnalisme Profetik

Baca juga: Media massa mengemban tugas kenabian

“Tahapan-nya tidak hanya lisan, tulisan dan juga af’al (keselarasan kata dan perbuatan) dimana jurnalis Muslim harus mampu mengimplementasikan pesan moral itu dalam bentuk sikap dan perilaku yang melekat pada dirinya,” kata Mashuri yang juga Ketua Pusat Dakwah dan Perbaikan Akhlak Bangsa Majelis Ulama Indonesia (PD PAB MUI).
Sementara Awalil Rizky, pakar ekonomi yang hadir sebagai pembicara ketiga meminta agar jurnalis Muslim mengambil peran mengadvokasi UMKM untuk bisa berkembang di era digital karena saat ini UMKM menjadi salah satu penopang ekonomi nasional.
“Dua penopang Indonesia sehingga secara ekonomi masih bertahan adalah petani yang mampu menghasilkan produk pertanian murah dan TKI dengan remitansi yang menghasilkan devisa,” katanya.
Pada acara Munas yang dihadiri sekitar sekitar 50 orang dari berbagai daerah itu kemudian secara aklamasi menetapkan Ketua dan Sekjen Ketua PJMI periode 2022-2025 yaitu Ismail Lutan dan W Supratman.
Muhammad Anthoni, mantan Ketua Umum PJMI periode pertama yang memimpin jalannya pemilihan itu mengatakan, tradisi dalam PJMI adalah suara bulat untuk menunjuk Ketua dan Sekjen yang selanjutnya akan membentuk kepengurusan.
“Siapa pun yang hadir hari ini harus siap menjadi pengurus di pusat dan daerah karena organisasi ini dibangun bersama secara kekeluargaan,” ujar mantan wartawan LKBN ANTARA itu.

(Antara)

(As'ad Syamsul Abidin)