Jakarta, Aktual.com – Pernyataan Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyebut fenomena gelombang di pesisir Teluk Jakarta yang menyebabkan banjir merupakan akibat daya tarik bulan, menuai pertanyaan dari pakar oseanografi.

Alan Frendy Koropitan, Ph.D dari Institut Pertanian Bogor (IPB) sebut pernyataan Ahok sebagai asumsi yang ‘ngawur’. Dia mencontohkan, jika fenomena akibat daya tarik bulan, apakah air di waduk juga ikut luber kemana-mana karena diterpa gravitasi bulan?

“Kenyataannya tidak seperti itu kan? Parahnya lagi Ahok sudah menyampaikan asumsi ngawur ini ke publik, ini pernyataan pembodohan yang keliru,” ujar peraih gelar Doktor dari Universitas Hokkaido, Jepang itu kepada Aktual.com, Senin (13/6).

Diingatkan Alan, dirinya dan ilmuwan kelautan yang jumlahnya hanya segelintir saja di Indonesia, memilih berhati-hati menyampaikan pendapat atas fenomena yang sedang terjadi di pesisir Jakarta.

“Saya mempelajari oseanografi sampai S3 saja berhati hati keluarkan pendapat, lah ini Pak Ahok yang tidak punya latar belakang keilmuan soal laut kok bisa ambil kesimpulan seperti itu? Apa dasarnya?” ujar dia.

Karena itu, dia mempertanyakan dasar argumen Ahok menyebut fenomena daya tarik bulan sebagai penyebab. Sebab fenomena pasang surut akibat daya tarik bulan rutin terjadi dua minggu sekali di Teluk Jakarta. Yakni saat posisi bulan-matahari-bumi berada dalam satu garis. Fenomena ini juga dikenal dengan istilah ‘Spring Tide’ atau Pasang Purnama. Pasang surut yang paling ekstrim tingginya mencapai 1,5 meter.

“Ini terjadi selalu berulang tiap dua minggu sekali kok. Jika ini proses berulang, kenapa Ahok baru sekarang menyalahkan ini sebagai penyebab banjir rob beberapa waktu lalu di pesisir Jakarta?”  baca: Di depan Warga Terdampak Reklamasi, Ahok: Hai Orang-Orang Bodoh Nurut Saja Sama Orang Pinter

Anomali, Belum Diketahui Penyebabnya

Diakui Alan, fenomena terjangan gelombang yang terjadi beberapa waktu di pesisir Teluk Jakarta dan daerah-daerah lain di pesisir Pantai Utara Jawa merupakan anomali yang masih dicari penyebabnya. “Ini jelas ada penyebab lain bukan Spring Tide. Ini yang masih kita cari tahu,” ujar dia.

Mengenai kemungkinan pemanasan global sebagai pemicu, Alan membantah. Sebab naiknya muka laut akibat pemanasan global hanya 3-7 milimeter per tahun. “Ada penyebab anomali lain. Ini yang sedang kita teliti,” ujar dia.

Sedangkan saat ditanya mengenai fenomena terjangan ombak keras yang juga terjadi di pesisir Selatan Jawa dan Bali, Alan mengatakan itu penyebabnya berbeda. Yakni akibat saat ini masuk musim Angin Timur yang terjadi tiap enam bulan sekali. Saat angin bertiup dari Australia ke Asia dan mendorong gelombang yang kemudian menghantam selatan Jawa sampai Bali. “Lebih tepatnya disebut Muson Tenggara atau South East Monsoon, tapi orang kebanyakan suka bilang musim Angin Timur,” kata dia.

()