Jakarta, Aktual.co — Pakar Psikologi Politik UI, Dewi Haroen menuturkan aksi gerakan rakyat dan mahasiswa yang mulai muncul merupakan gejala menakutkan. 
Pasalnya, sejumlah mahasiswa telah lakukan konsolidasi dan aksi massa menuju aksi ‘Mei Menggugat’ pada tanggal 20 Mei mendatang.
“Masyarakat mendukung gerakan yang muncul melalui sosial media, ini gejala menakutkan karena kondisi ini tidak menguntungkan semuanya,” ujar Dewi, di Jakarta, Selasa (14/4).
Ada kelompok tertentu  yang tidakpuas akan pemerintahan sekarang, yang berada di belakang layar dan mengakomodir massa aksi tersebut.
“Saya melihat ada tangan-tangan bermain disini karena ketidakpuasan. Akibatnya masyarakat bertemu dengan kepentingan kelompok ini, dan ini bahaya,” katanya.
Selain itu, lanjut Dewi, kondisi ekonomi dan politik negara yang semakin carut marut semakin mempengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan partai politik yang kemudian dimanfaatkan kelompok-kelompok di belakang layar tadi.
“Semua partai jelek, hati-hati dengan kondisi ini, partai wong cilik sudah korupsi, publik sudah tak percaya partai politik. Kondisi-kondisi ini menyebabakan orang tak percya DPR, partai dan pemerintah,” ungkapnya.
Dewi menuturkan, demokrasi saat ini diambang pertanyaan, sebab demokrasi 17 tahun tidak membuat masyarakat sejahtera.
“Adanya perebutan kekuasaan, ketidakpuasan semakin menggunung, akhirnya masyarakat bertanya-tanya di 20 Mei ada apa?,”
“Saya melihat tidak sampai ke rezim 98 terulang, tapi gerakan ini tentunya berbahaya, jangan sampai kita kembali ke masa sebelum demokrasi,” tambahnya.

Artikel ini ditulis oleh: