Buruh tani membawa padi hasil panen di areal persawahan Desa Nagasari, Karawang, Jawa Barat

Jakarta, Aktual.com – Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan pemantauan kondisi pertanaman dan luas panen dengan menggunakan metode citra satelit. Metode ini merupakan sistem informasi Standing Crop (SIS Crop) untuk menghitung kondisi secara real time.

Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Standarisasi Instrumen Pertanian (BSIP Kementan), Husnain menjelaskan bahwa sistem kerja citra satelit mampu mengkomunikasikan kondisi di lapangan dengan kombinasi model optik dan star yang menembus awan menggunakan sensor radar.

“Kemudian pada Tahun 2020 kita mulai membangun SAR (synthetic aperture radar) yang bisa menembus awan dan tidak terpengaruh pengambilan citra di saat siang ataupun malam. Dan di tahun 2021 kita sudah menambahkan fitur provitas padi,” kata Husnain dalam keterangannya, Jumat, (30/12).

Husnain mengatakan, citra satelit yang beroperasi bisa berputar mengelilingi bumi dengan sangat baik sehingga informasi yang didapatkan merupakan informasi utuh. Sebagai gambaran, sistem ini telah memotret kondisi pertanaman padi di Kabupaten Karawang, Indramayu bahkan sampai di luar pulau Jawa.

“Dan setiap tanggal 16 atau paling lambat tanggal 2 setiap bulan itu data sudah diperbarui. Misalnya untuk warna biru itu ternyata sedang pengenangan, warna hijau muda itu masa vegetatif 1 jadi tanah tertutup oleh tanaman, kemudian yang hijau lebih pekat vegetatif 2, kemudian mulai menguning generatif 1 dan kuning pekat generatif 2, setelah itu dipanen dan tanahnya kosong itu kita tampilkan dalam bentuk berbagai warna,” katanya.

Sementara untuk satelit sentinel 1 yang digunakan sebagai dasar dari sistem informasi standing crop 2.0 ini, Kementan telah menggunakan sensor SAR yang bebas dari tutupan awan dan tidak terkendala waktu pengambilan sehingga hasil potret dalam kondisi bagus.

“Resolusi tempuralnya adalah 10 sampai 15 hari. Jadi kita mengupdate setelah 15 hari ini sudah real time, kemudian resolusi spasial 10 meter jadi 1 pixel mewakili 10×10. Nah yang kita dapatkan dari SIS Crop ini yang pertama monitor standing crop fase tanaman yang kita bagi atas 6 fase,” katanya.

Dari fase tersebut, kata Husnain, masa panen raya diprediksi akan berlangsung pada bulan Februari, Maret dan April sehingga tidak ada kekhawatiran dengan kondisi beras nasional selama beberapa bulan ke depan.

“Kita di Kementan bertanggung jawab menyediakan pangan untuk 270 juta penduduk. Apalagi kita perlu memiliki data real time dan upaya peningkatan produktivitas. Kami juga melakukan penghitungan melalui beberapa tahapan. Termasuk semua tahapan yang dilakukan BPS mengenai sample ubinan. Yang pasti data yang kita rujuk tetap menggunakan data BPS. Tetapi Kementan sebagai kementerian teknis harus memiliki informasi real time terutama dalam informasi kebutuhan produksi,” jelasnya.

Saat dikonfirmasi terpisah, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Harvick Hasnul Qolbi mengatakan pemanfaatan instrumen teknologi satelit sangat membantu dalam memantau kondisi lahan pertanian secara berkala.

Meski begitu, kebijakan turun langsung ke lapangan untuk mamastikan ketersediaan pangan juga terus dilakukan.

“Karena itu kebijakan Kementan saat ini adalah terjun langsung ke lapangan dan memastikan pangan Indonesia selalu aman tersedia. Apalagi sektor pertanian adalah sektor kunci yang menopang ekonomi,” ujar Wamentan Harvick.

(A. Hilmi)