Saudaraku, kanvas kesalahan itu adalah warna dasar kita semua. Bila diri tak berlumur noda, mana mungkin kita tunjukan keasyikan luar biasa dalam menyaksikan noda orang lain.

Noda diri juga cenderung hanya berani mengungkap kesalahan-korupsi ringan untuk menutupi kesalahan-korupsi besar.

Kesenangan melihat orang lain bersalah atau menutupi kejahatan besar adalah proyeksi dari cahaya kegelapan di langit jiwa kita sendiri. Dalam warna dasar kegelapan itu, pepohonan tua berbuah hampa; tunas-tunas muda layu sebelum berkembang. Bagai menegakkan batang terendam, setiap percobaan kebangunan, jatuh kembali ke kemunduran.

Kita ingin sarapan pagi dengan harapan, tapi tak banyak orang yang menyalakan cahaya jiwa. Bagaimana bisa mengubah dunia, jika tidak bisa mengubah diri sendiri? Jalaluddin Rumi berkata, “Kemarin aku merasa pintar, karenanya aku ingin mengubah dunia. Sekarang aku lebih bijaksana, maka aku mulai mengubah diriku sendiri.”

Setelah mampu memimpin diri, bolehlah orang mengembangkan harmoni keluar dengan menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, antara kebebasan dan tanggung jawab. Pemimpin bukan hanya mengikuti kemauan rakyat, tapi juga mendidik rakyat meraih kematangan pribadi.

Dalam istilah Bung Karno, pemimpin harus dapat ”mengaktivir kepada perbuatan”: mengaktivir bangsa yang ia pimpin kepada perbuatan. Kalau cuma menyerukan perbuatan, tetapi dalam kenyataan tak mampu mengaktivir rakyat kepada perbuatan, buat apa bermimpi jadi pemimpin.

Belajar Merunduk, Yudi Latif

(Antara)

(As'ad Syamsul Abidin)