Jakarta, Aktual.com – Dana Kependudukan Perserikatan Bangsa Bangsa (UNFPA) di Turki dan Asosiasi Solidaritas Pencari Suaka dan Migran (SGDD-ASAM) meluncurkan proyek untuk meningkatkan akses pengungsi penyandang disabilitas dan orang-orang pendukung mereka di Turki ke layanan perlindungan.

Proyek ini akan didanai oleh Uni Eropa (UE).

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Rabu, UNFPA Turki mengatakan negara itu menampung 4 juta pengungsi, termasuk 3,6 juta warga Suriah, lebih banyak dari negara mana pun di dunia.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Organisasi PBB untuk Migrasi (IOM) pada 2017, satu dari setiap 10 rumah tangga pengungsi memiliki anggota penyandang disabilitas.

“Disabilitas membuat pengungsi lebih rentan di banyak bidang seperti pekerjaan, atau mengakses pendidikan dan layanan kesehatan, dan dapat menyebabkan masalah sosial psikologis karena harga diri yang rendah dan perasaan dikucilkan dari masyarakat,” kata UNFPA Turki.

Sebuah survei dari UNFPA Turki menunjukkan bahwa pengungsi penyandang disabilitas seringkali membutuhkan bantuan kesehatan karena setengah dari mereka membutuhkan pembedahan dan pengobatan, sedangkan sepertiga membutuhkan prostetik dan perangkat ortopedi.

Lebih dari 50 persen pengungsi yang berpartisipasi dalam survei melaporkan kesulitan dalam mengakses layanan kesehatan karena tantangan seperti transportasi, kesulitan keuangan, dan kendala bahasa.

Proyek Peningkatan Akses Pengungsi dengan Disabilitas ke Layanan Perlindungan di Turki, yang diluncurkan oleh UNFPA dalam kemitraan dengan SGDD-ASAM dengan dukungan keuangan dari Bantuan Kemanusiaan Uni Eropa, bertujuan untuk berkontribusi pada solusi masalah ini.

“Dalam lingkup proyek ini, pengungsi dan migran yang hidup dengan disabilitas, serta orang-orang pendukung mereka diberikan layanan perlindungan termasuk konsultasi, informasi, dukungan psiko-sosial, layanan pencegahan dan tanggapan kekerasan berbasis gender, serta rujukan dan dukungan untuk mengakses layanan lain melalui dua unit layanan di Ankara dan İzmir,” kata UNFPA Turki.

(Arie Saputra)