Ilustrasi Gedung PBNU
Ilustrasi Gedung PBNU

Jakarta, Aktual.com – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Savic Ali mengatakan bahwa Forum Agama G20 atau Religion of Twenty (R20) merupakan inisiatif Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf agar agama dapat lebih proaktif mengatasi isu global.

“Forum R20 diinisiasi Gus Yahya agar agama dan pemimpin agama lebih proaktif membantu persoalan dunia, mulai dari konflik antar-pemeluk agama, penyalahgunaan politik identitas, rasialisme, dan persoalan lain. Harus kita akui, agama ikut berperan dalam sejumlah konflik di berbagai belahan dunia,” kata Savic, sebagaimana dikonfirmasi dari Jakarta, Selasa (18/10).

Sebab harus diakui, tutur Savic melanjutkan, ada kelompok Islam yang membenarkan aksi teror. Di sisi lain, Muslim dipersekusi kelompok mayoritas Hindu dan Buddha di India dan Myanmar.

Kemudian, di Amerika Serikat juga muncul sejumlah persekusi yang berbasis ras, sementara di Eropa juga terdapat Islamofobia. Di sejumlah tempat, ada politik identitas agama untuk membenci yang lain.

“Makanya, R20 mengajak pemimpin agama dan negara benar-benar berpikir bagaimana agama berperan aktif untuk memecah problem yang menghantui dunia,” tuturnya.

Karena itu, Gus Yahya, sapaan akrab Yahya Cholil Staquf, menginisiasi R20 untuk memperkuat kerja-kerja sebelumnya ketika menjadi Katib ‘Aam PBNU. Gus Yahya telah lama membangun hubungan agama dan politik dunia.

“Ini momentum NU, sebagai organisasi keagamaan dengan jumlah anggota terbesar, agar bisa meningkatkan peran internasionalnya, bisa meningkatkan kehadirannya dalam konteks mengatasi persoalan dunia,” ucap Savic.

Langkah Gus Yahya ini, kata Savic, merupakan upaya untuk menghidupkan kembali apa yang sudah dirintis oleh Ketua Umum PBNU 1984-1999, K.H. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Sebab, diakui atau tidak, peran NU di tingkat global belum begitu konkret.

R20 adalah permulaan dari forum-forum berikutnya yang mengikuti presidensi G20. Di India pada 2022, di Brazil pada 2023, di Afrika Selatan pada 2024, dan seterusnya.

Penyelenggaraan ini, Savic menegaskan, dilandasi semangat untuk mendorong perdamaian dan menciptakan peradaban baru yang lebih baik.

Savic mengatakan undangan kepada kelompok-kelompok sayap kanan memang mesti dilayangkan.

“Jika dialog tidak dibuka, maka tidak ada kemajuan. Yang ada konflik terus. Kita butuh percakapan itu sehingga bisa saling menyadari perspektif masing-masing,” kata Savic.

(Arie Saputra)