Setiap hari ribuan kapal melintasi perairan Indonesia, dari Selat Malaka hingga Selat Lombok. Namun, meski berada di jalur utama perdagangan dunia, Indonesia kerap hanya menjadi penonton. Di tengah pembangunan pelabuhan dan reformasi logistik yang terus digencarkan, muncul satu pertanyaan krusial: apakah Indonesia benar-benar siap naik kelas menjadi pusat perdagangan global, atau kembali melewatkan peluang emasnya?

Oleh: Dr. Arya I.P. Palguna
(IEPR/Institute of Economic and Political Resources)

Jakarta, Aktual.com — Indonesia berada tepat di jantung jalur perdagangan dunia. Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan nadi utama arus barang global. Namun, selama puluhan tahun keunggulan geografis ini belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi keunggulan ekonomi. Indonesia lebih sering menjadi “penonton” arus logistik internasional, sementara nilai tambah justru dinikmati oleh negara-negara hub pelabuhan di kawasan.

Situasi ini mulai berubah ketika pengembangan Tanjung Priok Tahap II, operasional Pelabuhan Patimban, serta percepatan digitalisasi logistik menandai keseriusan Indonesia untuk naik kelas, dari sekadar negara transit menjadi hub pelabuhan internasional. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah mungkin, melainkan seberapa besar dampaknya terhadap ekonomi nasional.

Dari sudut pandang ekonomi makro, dampaknya signifikan. Saat ini sektor perdagangan dan transportasi menyumbang sekitar 15 persen Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, atau sekitar 210 miliar dolar AS dari total PDB Indonesia yang berada di kisaran 1,4 triliun dolar AS. Jika Indonesia berhasil memposisikan diri sebagai hub pelabuhan global, peningkatan aktivitas bongkar muat, transshipment, pergudangan, dan jasa logistik bernilai tambah dapat mendorong lonjakan kontribusi sektor ini secara substansial.

Dalam skenario realistis, tambahan nilai ekonomi dari sektor perdagangan dan transportasi diperkirakan mencapai sekitar 63 miliar dolar AS. Estimasi ini merupakan simulasi penulis yang didasarkan pada data PDB Indonesia serta struktur kontribusi sektor perdagangan dan transportasi Badan Pusat Statistik (BPS), termasuk asumsi peningkatan aktivitas logistik yang lazim digunakan dalam sejumlah studi, baik oleh World Bank maupun OECD, terkait pengembangan hub pelabuhan.

Dengan tambahan tersebut, PDB nasional berpotensi meningkat menjadi sekitar 1,46 triliun dolar AS hanya dari satu klaster sektor. Dalam skenario optimistis, dengan efisiensi logistik tinggi dan arus perdagangan internasional yang masif, tambahan PDB dapat mencapai sekitar 95 miliar dolar AS. Sementara dalam skenario pesimistis, potensi tambahan tetap berada di atas 30 miliar dolar AS. Dengan demikian, kontribusi sektor perdagangan dan transportasi terhadap PDB nasional dapat meningkat dari sekitar 15 persen menjadi 17 hingga 21 persen.

Lebih dari sekadar kenaikan angka makroekonomi, pergeseran ini akan memperkuat daya tarik investasi asing, memperluas penciptaan lapangan kerja, dan menurunkan biaya logistik nasional yang selama ini menjadi salah satu hambatan utama daya saing industri. Kota-kota pelabuhan berpotensi berkembang menjadi pusat ekonomi regional baru, tempat bertemunya aktivitas manufaktur, jasa, dan perdagangan bernilai tambah tinggi. Dalam kerangka ini, penguatan sektor pelabuhan tidak hanya memberikan dampak langsung, tetapi juga memicu multiplier effect yang menyebar ke ekonomi lokal dan nasional sehingga memperkuat struktur pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Peluang besar ini tidak akan terwujud secara otomatis. Pemerintah memerlukan pendekatan kebijakan yang terintegrasi. Pertama, peningkatan kapasitas pelabuhan harus diiringi konektivitas darat dan laut yang andal dengan dukungan pembiayaan kreatif melalui skema Public–Private Partnership (PPP). Kedua, reformasi birokrasi kepabeanan dan harmonisasi regulasi antara pusat dan daerah mutlak diperlukan agar arus barang bergerak cepat dan pasti. Ketiga, insentif fiskal serta pengembangan kawasan perdagangan bebas di sekitar pelabuhan akan menentukan daya tarik Indonesia dalam peta logistik global.

Tidak kalah penting, pembangunan sumber daya manusia dan pengelolaan dampak lingkungan harus menjadi bagian dari strategi. Hub pelabuhan modern menuntut tenaga kerja terampil, sistem digital canggih, serta praktik berkelanjutan agar pertumbuhan tidak mengorbankan lingkungan dan masyarakat pesisir.

Singkatnya, menjadikan Indonesia sebagai hub pelabuhan global bukan semata proyek infrastruktur, melainkan strategi transformasi ekonomi. Jika dikelola dengan visi kebijakan yang tepat, pelabuhan dapat menjadi mesin pertumbuhan baru yang mendorong Indonesia tidak hanya sebagai produsen barang, tetapi juga sebagai simpul logistik strategis dalam perdagangan dunia.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka Permadhi