Jakarta, Aktual.co —Penumpang Metromini dari kalangan pelajar dan mahasiswa keberatan dengan naiknya tarif angkutan umum di DKI Jakarta Rp1.000 yang mulai diberlakukan hari ini, Selasa (25/11).
Ridwan (18), mahasiswa dari Universitas Bung Karno (UBK) Jakarta, mengaku kalau kenaikan itu lumayan berat bagi mereka.
“Belum kebutuhan yang lain pada ikut naik, kasihan kawan-kawan yang ngekost kebutuhan logistiknya jadi naik semua,” ujarnya, di Jakarta (25/11).
Mahasiswa asal Bekasi itu pun mempertimbangkan untuk membawa motor saja ke kampus, sehingga mengeluarkan ongkos lebih murah. 
“Ribet kalau naik angkutan umum, udah ongkosnya naik, macet, lama lagi di jalan. Ya mending saya naik motor.”
Evi (15) seorang pelajar dari salah satu SMP Negeri juga mengaku keberatan dengan naiknya ongkos angkutan umum. Biasanya hanya membayar Rp2.000 sekarang Rp3.000 cukup memberatkan.
“Uang jajan saya aja nggak naik, tapi angkot naik lumayan Rp1.000, mau ga mau harus irit-irit,” ungkapnya.
Diketahui hari ini, Selasa (25/11), tarif baru angkutan umum di DKI Jakarta yang naik Rp1.000, mulai diberlakukan.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi DKI Jakarta Saefullah mengatakan Peraturan Gubernur (Pergub) terkait perubahan tarif angkutan umum sudah disahkan oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
“Pergub itu sudah ditandatangani oleh Pak Gubernur. Kenaikan tarif hanya berlaku untuk kendaraan-kendaraan ekonomi saja,” ujarnya di Balaikota DKI, kemarin.
Kata dia, kenaikan tarif sesuai dengan usulan dari Dinas Perhubungan DKI, Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI dan Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ), yaitu sebesar Rp1.000.
“Kenaikan tarif yang sudah disetujui adalah Rp1.000 atau menjadi Rp4.000 untuk semua jenis angkutan ekonomi. Di antaranya mikrolet, KWK, bus sedang dan bus besar. Sementara itu, tarif untuk pelajar juga ditetapkan Rp1.000,” ujar Saefullah.
Selanjutnya, dia menuturkan sampai dengan saat ini, untuk tarif angkutan umum non ekonomi yang baru masih belum ditetapkan karena pihak Organda DKI belum menyampaikan usulan.
“Kenaikan tarif angkutan non ekonomi, seperti Kopaja AC dan Angkutan Perbatasan Terintegrasi Bus Transjakarta (APTB) masih menggunakan tarif lama, karena Organda DKI belum mengajukan besaran kenaikan,” tutur Saefullah.
Dalam Pergub yang ditandatangani itu tidak dibahas mengenai kenaikan tarif angkutan massal bus Transjakarta.
“Karena bus Transjakarta sudah mendapatkan subsidi dari Pemprov DKI. Disamping itu, bus Transjakarta kan tidak pakai Bahan Bakar Minyak (BBM), tapi Bahan Bakar Gas (BBG), sehingga tidak terlalu berpengaruh,” ucapnya.

()