Jakarta, Aktual.co —Pembangunan konstruksi layang (elevated) untuk jalan moda transportasi Mass Rapid Transit (MRT) berbasis rel jenis Heavy Rail Transit di Jakarta ternyata masih terkendala masalah klasik. Yakni pembebasan lahan.
Diakui Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Benjamin Bukit, kendala pembebasan lahan ditemui di sekitar Fatmawati, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Belum bisa memastikan kapan masalah itu selesai, dia hanya berharap pembangunan MRT dapat lebih cepat dilakukan.
“Ya harapannya sama seperti sedia kala ketika perencanaan. Pembebasan lahan harus segera ditangani supaya pengerjaannya tidak ‘delay’ (terhambat),” ujar dia, di Balai Kota DKI, Senin (29/12).
Meski di sebagian titik masih ada kendala lahan, pengerjaan proyek MRT tetap berjalan di tempat lain yang sudah beres lahannya.
“Dari Pemprov DKI kami upayakan lahan yang sudah ada kesepakatan. Nanti tinggal pembayarannya,” ujarnya.
Benjamin yakin pembangunan MRT bisa mengurangi volume kendaraan pribadi di Jakarta. “Belum bisa dipastikan (jumlahnya), tapi pasti signifikanlah.”
Dilansir dari jakartamrt.com, disebutkan MRT Jakarta yang berbasis rel rencananya akan membentang kurang lebih ±110.8 km. Terdiri dari Koridor Selatan – Utara (Koridor Lebak Bulus – Kampung Bandan) sepanjang kurang lebih ±23.8 km. Dan Koridor Timur – Barat sepanjang kurang lebih ±87 km.
Penetapan jalur ini sebagai prioritas didasarkan pada pertimbangan. Jalur Selatan- Utara Jakarta bersama dengan jalur Timur-Barat dianggap sebagai jalur perekonomian yang cukup pesat untuk masa kini dan masa depan.
Sedangkan untuk pembangunan Koridor Selatan-Utara dari Lebak Bulus – Kampung Bandan dilakukan dalam 2 tahap.
Tahap I yang akan dibangun terlebih dahulu menghubungkan Lebak Bulus sampai dengan Bundaran HI sepanjang 15.7 km. Dengan 13 stasiun (7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah). Ditargetkan mulai beroperasi akhir 2016. Saat ini sedang dalam pembuatan basic design (sejak November 2009) dan ditargetkan selesai akhir tahun ini dan pembangunan fisik dimulai 2012
Sedangkan Tahap II akan melanjutkan jalur Selatan-Utara dari Bundaran HI ke Kampung Bandan (8.1 Km). Akan mulai dibangun sebelum tahap I beroperasi. Ditargetkan beroperasi paling lambat 2018 (dipercepat dari target awal 2020). Studi kelayakan untuk fase ini sudah selesai dilaksanakan
Koridor Barat-Timur saat ini sedang dalam tahap pre-feasibility study. Koridor ini ditargetkan paling lambat beroperasi pada 2024-2027. Akhir September lalu, Direktur Utama PT MRT Jakarta Dono Boestami mengatakan Pembangunan proyek MRT Tahap I jalur Lebak Bulus-Bundaran HI diperkirakan menelan dana hingga Rp15 triliun.
“Sebagian besar besar dibiayai soft loan dari JICA (Japan Indonesia Corporation Agency) dan sebagian APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) DKI,” tutur dia, dalam seminar di Mh Thamrin, Jakarta, (25/9).
Jumlah dana yang juga dibutuhkan untuk proyek MRT tahap II. Dono menerangkan, pembangunan Tahap II perlu ditangani dengan serius. Beban APBD menurutnya juga perlu ditekan seminimal mungkin.
“Dengan besarnya skala proyek pembangunan proyek MRT Tahap II, kompleksitas dan besarnya biaya yang dibutuhkan, perlu dikaji model pengembangan yang paling efisien dengan beban seminimal mungkin terhadap APBN,” ujarnya.
Artikel ini ditulis oleh:












