Jakarta, Aktual.co — Pembentukan watak mental kader partai yang berintegritas, jujur, berbudi pekerti luhur dan mengutamakan kepentingan rakyat, bangsa, dan negara jauh lebih penting daripada penggelontoran dana bantuan untuk operasional dan pembinaan partai politik.
“Dalam sistem politik saat ini, suka atau tidak, partai merupakan kawah candradimuka untuk melahirkan pemimpin negeri ini,” kata pengamat politik sekaligus peneliti Indonesia Public Institute, Karyono Wibowo, di Jakarta, Selasa (10/3).
Karyono mengatakan, partai politik harus mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Karena itu, sistem dan materi kaderisasi memiliki peranan penting untuk mencetak kader yang tidak sekadar loyal kepada partai.
“Kader partai politik tidak boleh hanya loyal kepada ‘big bos’ dan ideologi partai, tetapi harus memiliki integritas nasional dan komitmen yang kuat terhadap kemajuan bangsa dan tetap memegang teguh prinsip Pancasila, UUD 1945, dan NKRI,” tuturnya.
Dana untuk partai politik dari APBN tetap perlu, tetapi tidak sebesar Rp1 triliun. Partai politik juga harus bersedia diaudit dan setiap tahun mengumumkan laporan keuangan kepada publik.
“Selama ini dana partai politik memang sudah digelontorkan berdasarkan jumlah perolehan suara. Tetapi secara periodik belum ada akuntabilitas publik,” katanya.
Karyono menambahkan, dana untuk partai politik dari negara tidak boleh rata, melainkan bergantung pada perolehan suara dalam pemilu. Bila dibuat rata, dikhawatirkan orang akan berlomba-lomba mendirikan partai untuk mendapatkan dana.
“Syarat ‘electoral threshold’ juga harus dinaikkan lebih tinggi lagi,” ujarnya.
Artikel ini ditulis oleh:














