Jakarta, Aktual.com – Ketua Bidang Ekonomi Keuangan Industri Teknologi (Ekuintek) DPP PKS Memed Sosiawan, menginginkan kebijakan pemerintah dapat mengatasi dampak dari fenomena kenaikan harga minyak dunia pada awal 2018 ini.

“Pada akhir Januari 2018 terjadi tren kenaikan harga minyak, yang disebabkan oleh datangnya musim dingin ekstrem selama Januari 2018 dan tercapainya kesepakatan antara negara OPEC dan non-OPEC untuk mengurangi pasokan minyak di pasar dunia, terutama kesepakatan dengan Amerika Serikat yang berhasil untuk pertama-kalinya mencapai lifting,” kata Memed Sosiawan dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, ditulis Sabtu (3/2).

Memed memaparkan, memasuki 2018, suasana perekonomian global terasa kondusif dengan mulai meningkatnya pertumbuhan di China, India, dan Uni Eropa.

Namun, ia menyebut terjadi kenaikan harga minyak di pasar dunia sehingga mencapai harga USD 70 per barel, kenaikan harga minyak tersebut naik sekitar 46 persen.

Bahkan, lanjutnya, diperkirakan harga minyak akan terus naik mencapai USD 80 per barel selama 2018, atau naik sekitar 67 persen.

Sementara asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam APBN 2018 sebesar USD 48 per barel dan di sisi lain harga gas di pasar dunia cenderung tetap bahkan menurun.

“Dalam kondisi lemahnya daya beli masyarakat dewasa ini, maka kenaikan harga minyak sekitar 46 – 67 persen akan mengerek harga premium,” ucapnya.

Menurut dia, tanpa intervensi tambahan subsidi energi pemerintah, kenaikan harga minyak sebesar itu akan semakin memukul daya beli masyarakat serta juga bakal berdampak kepada meningkatnya inflasi yang berpotensi melonjakkan angka kemiskinan.

Untuk itu, Memed mengemukakan ada dua opsi yang dapat dipertimbangkan pemerintah dalam menambah alokasi anggaran subsidi energi tersebut, yaitu menambah utang baru atau mengurangi anggaran belanja pemerintah.

Sebagaimana dikutip kantor berita Xinhua, harga minyak dunia menguat pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB, 2/2), karena dolar AS yang lebih lemah membuat komoditas-komoditas yang dihargakan dalam dolar AS lebih menarik bagi investor.

Sebelumnya, Kepala Ekonom Bank Danamon Anton Hendranata menilai pemerintah tidak perlu merasa “tabu” untuk merevisi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam APBN 2018 mengingat harga minyak mentah dunia yang kini menembus 70 dolar AS per barel.

“Kan ada kesempatan, kalau agak jauh dari asumsi ada APBN-P. Kalau memang harga minyak jauh dari asumsi APBN, kan harus realistis juga. Tidak tabu revisi itu karena kaitannya asumsi situasinya dinamis apalagi harga minyak tidak mudah diprediksi. Bukan tidak kredibel, kalau harus diubah ya diubah,” ujar Anton saat diskusi dengan awak media di Jakarta, Rabu (31/1).

Anton memprediksi harga ICP sepanjang tahun ini akan mencapai 60-65 dolar AS per barel.

Menurut dia, kenaikan harga minyak merupakan hal yang wajar mengingat perekonomian global juga mulai meningkat.

 

Ant.

Artikel ini ditulis oleh: