Jakarta, Aktual.co — Ketua Dewan Pakar Pengurus Daerah Persatuan Alumni  Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Giat Wahyudi, menilai pemerintah terkesan menutupi agenda yang akan dilakukan pada peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA) yang diselenggarakan pada tanggal 18-24 April mendatang.
Menurutnya, terdapat indikasi pembelokan sejarah yang terlihat secara kasat mata pada acara ini.
Giat menuturkan, beberapa waktu lalu, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi telah menjelaskan agenda pembahasan acara tersebut meliputi perumusan Misi Bandung, perumusan kerjasama bidang ekonomi dan sosial budaya, serta kerjasama pemerintah Indonesia dengan negara Asia Afrika.
“Jika perumusan poin tersebut bertentangan dengan Dasasila Bandung, ditambah dengan perumusan Misi Bandung yang diletakkan sebagai pengganti Dasasila Bandung karena dianggap kadaluarsa, maka hal tersebut akan menjadi masalah besar. Hal ini terindikasi dari seminar “Bandung Conference and Beyond 20015″ di Universitas Gajah Mada Jogjakarta yang dibuka Menlu pada tanggal 8-9 April lalu,” ujar Giat Wahyudi, di kantor Global Future Institute (GFI), Kebayoran Baru, Jakarta, Senin (13/4).
Selain itu, seminar tersebut menghadirkan pembicara dari Australia, padahal jelas KAA berasal dari negara di Asia-Afrika. Ditambah, para wartawan yang dilarang meliput dan ditempatkan dalam satu ruangan dengan dijanjikan konferensi pers setelahnya.
“Namun yang terjadi setelah selesai seminar, menlu langsung beranjak ke bandara. Bukan mustahil hasil seminar ini menjadi rujukan Misi Bandung,” katanya.
Kemudian, terdapat juga poster Nelson Mandela yang menghiasi beberapa sudut strategis kota Jakarta dan Bandung dan informasi undangan bagi para pemimpin negara peserta dari Afrika yang akan bertemakan wajah Nelson. Hal ini seolah-olah ada persepsi yang ingin dibangun, dimana KAA hidup karena Nelson.
Padahal, Nelson bukanlah salah satu peserta KAA pada 1955 maupun 1965, dan  saat KAA dilakukan pertama kali dirinya masih sangat muda. Untuk itu ia meminta segala poster dan cetak undangan segera dibatalkan, karena hal tersebut akan membalikkan sejarah.
“Menghargai Nelson bukan di sini tempatnya tapi di acara HAM Internasional,” 
“Jika hal ini diteruskan, maka sama saja pemerintah membiarkan skandal ilmiah terjadi. Dan apabila rakyat memaklumi maka sama saja dengan menerima pembodohan dan kemunafikan sejarah,” tambahnya.

Artikel ini ditulis oleh: