Jakarta, Aktual.com – Upaya pemulihan gizi penyintas bencana menjadi fokus utama PP Aisyiyah melalui edukasi intensif kepada kader dan relawan, guna memastikan kebutuhan nutrisi masyarakat tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat hingga pemulihan, seperti di wilayah Sumatera saat ini.
Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center, Budi Setiawan, menegaskan bahwa bantuan bagi korban bencana harus disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi yang tepat. Ia mengingatkan bahwa pemberian asupan yang tidak sesuai justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan penyintas.
“Kelompok rentan yang setiap harinya diberikan asupan instan seperti kental manis dapat mengalami gangguan kesehatan yang serius di masa mendatang,” ujar Budi, Minggu (12/4/2026).
Pandangan serupa disampaikan Guru Besar Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tria Astika Endah Permatasari. Ia menyoroti tingginya kandungan gula dalam produk kental manis yang berisiko jika dikonsumsi berulang, terutama oleh anak-anak.
“Kandungan gula yang mencapai 5–10 gram per 100 ml dalam sekali minum kental manis seduh sudah sangat berisiko bagi tubuh,” jelas Tria.
Ia menambahkan, kental manis kerap menjadi pilihan di lokasi bencana karena mudah diperoleh dan disajikan. Padahal, pada kondisi tersebut perhatian terhadap asupan balita justru harus lebih ditingkatkan.
Rektor Universitas ‘Aisyiyah sekaligus Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah, Warsiti, menekankan bahwa aspek gizi sering kali terabaikan dalam penanganan bencana, padahal menjadi kunci utama dalam proses pemulihan penyintas.
“Melalui kolaborasi YAICI, Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah, dan Rangkul Foundation, para kader dan relawan kini dibekali panduan penanganan gizi anak pascabencana. Ini adalah langkah nyata untuk kesehatan masyarakat,” tegasnya.
Di tengah mulai berkurangnya bantuan, kolaborasi tersebut berkomitmen untuk tetap hadir. Tidak hanya memberikan edukasi gizi bagi para ibu, program yang dijalankan juga mencakup trauma healing bagi anak-anak di lokasi terdampak.
Zaskia Adya Mecca yang aktif dalam kegiatan kerelawanan melalui Rangkul Foundation menekankan bahwa kerja di wilayah bencana tidak sebatas penyaluran bantuan.
“Masyarakat Indonesia termasuk yang cepat dalam mengumpulkan donasi. Yang sulit adalah bagaimana menyalurkannya agar tepat sasaran dan benar-benar membantu kehidupan masyarakat korban bencana,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya kesiapan relawan sebelum turun ke lapangan. “Harus siap fisik, mental, dan pengetahuan, serta memiliki keterampilan menghadapi situasi yang belum pernah dihadapi,” tambahnya.
Puluhan kader dari Aceh Tamiang, Langkat, dan Agam hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka mendapatkan pembekalan pengetahuan dan keterampilan praktis untuk memastikan kebutuhan gizi masyarakat tetap terpenuhi selama masa pemulihan. Kegiatan ini juga melibatkan sejumlah mitra, di antaranya Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia, Muhammadiyah Disaster Management Center, dan Rangkul Foundation.
Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi. Berdasarkan World Risk Report 2023, Indonesia menempati peringkat kedua, dan peringkat ketiga pada 2025.
Letak geografis di pertemuan tiga lempeng tektonik aktif serta jalur Ring of Fire menjadikan wilayah ini rentan terhadap gempa bumi, tsunami, erupsi gunung berapi, serta bencana hidrometeorologis seperti banjir dan longsor. Kondisi tersebut membuat upaya pemulihan, termasuk pemenuhan gizi masyarakat, menjadi bagian penting dalam penanganan pascabencana.
Artikel ini ditulis oleh:
Achmat
Eka Permadhi

















