Kuasa Hukum KH Muhammad Al Khaththath, Kapitra didampingi Pembina GNPF MUI Jakarta, KH Abdul Rasyid dan Anggota Tim Pengacara Muslim (TPM), Achmad Michdan saat konferensi pers "Bebaskan KH Muhammad Al Khaththath" di AQL Islamic Center Jalan Tebet Utara, Jakarta Selatan, Senin (3/4). Pimpinan GNPF MUI, Pimpinan Ormas dan Tokoh Masyarakat menyerukan aparat kepolisian agar membebaskan KH Muhammad Al Khaththath dari tahanan dan tuduhan makar. Karena selaku pimpinan aksi 313 sekaligus Sekjen FUI dengan tuduhan makar merupakan bentuk penggunaan hukum instrumen of power, yang sama sekali tidak berkeadilan. AKTUAL/Tino Oktaviano
Kuasa Hukum KH Muhammad Al Khaththath, Kapitra didampingi Pembina GNPF MUI Jakarta, KH Abdul Rasyid menunjukan surat kesepakatan bersama saat konferensi pers "Bebaskan KH Muhammad Al Khaththath" di AQL Islamic Center Jalan Tebet Utara, Jakarta Selatan, Senin (3/4). Pimpinan GNPF MUI, Pimpinan Ormas dan Tokoh Masyarakat menyerukan aparat kepolisian agar membebaskan KH Muhammad Al Khaththath dari tahanan dan tuduhan makar. Karena selaku pimpinan aksi 313 sekaligus Sekjen FUI dengan tuduhan makar merupakan bentuk penggunaan hukum instrumen of power, yang sama sekali tidak berkeadilan. AKTUAL/Tino Oktaviano

Jakarta, Aktual.com – KH Abdul Rasyid Abdullah Syafi’ie menilai, penangkapan yang dilakukan polisi terghadap KH Muhammad Al Khattat selaku pimpinan aksi 313 sekaligus Sekjen FUI dengan tuduhan makar merupakan bentuk penggunaan hukum instrumen of power, yang sama sekali tidak berkeadilan.

“Ini jelas sekali termaktub dalam pembukaan UUD 1945 maupun batang tubuhnya. Arti dari negara hukum yang berkeadilan adalah menjadikan hukum sebagai panglima, bukan kekuasaan sebagai panglima dan menegakkan hukum dengan adil adalah hukum diteggakan bukan hanya ditunjukan kepada kelompok tertentu saja atau kepada umat Islam atau tokoh Islam saja dan mencari kesalahan umat Islam,” ujar dia dalam keterangan persnya yang diterima redaksi, Senin (3/4).

Dia menilai, apa yang dilakukan umat Islam pada aksi 313 merupakan hak sebagai warga negara yang telah dijamin oleh konstitusi dan UU. Aksi 313 kemarin, lanjut dia, bukan merupakan upaya pemufakatan untuk melakukan makar seperti yang dituduhkan pihak kepolisian.

“Justeru aksi 313 adalah bentuk meminta agar pemerintah menegakkan hukum terhadap terdawka (Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok) yang terlibat kasus penistaan agama.”

“Aksi 3131 adalah bentuk meminta agar pejabat publik di negara ini patuh terhadap hukum agar seorang terdakwa (Ahok) tidak menjabat sebagai pejabat publik karena tidak dibenarkan menurut hukum, yang berlaku di republik ini, yaitu UU tentang pemerintahan daerah.”

Artikel ini ditulis oleh:

Wisnu