Jakarta, AKtual.com – Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Heru Purnomo, mengatakan, dana untuk bantuan kuota internet sebesar Rp7.2 triliun rupiah dipastikan tidak akan seluruhnya digunakan.

Padahal, ungkap dia, seharusnya dana itu dapat dimanfaatkan untuk membantu siswa lainnya yang mengalami kesulitan selama Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

“Tidak sampai 50 persen siswa yang memiliki nomor ponsel untuk didaftarkan. Bahkan angka ini bisa saja berkurang setelah nomor ponsel siswa diverifikasi validasi nantinya,” kata Heru, Senin (14/9).

Diketahui, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah merilis input nomor ponsel siswa di data pokok pendidikan (dapodik). Hasilnya, per 11 September 2020 sudah ada 21.7 juta dari 44 juta nomor gawai siswa yang terdaftar di Dapodik. Sedangkan ada 2.8 juta nomor dari 3,3 juta guru di Indonesia.

Sementara di tingkat perguruan tinggi sudah ada 2.7 juta nomor ponsel dari 8 juta mahasiswa, serta ada sebanyak 161 ribu nomor dosen dari 250 ribu dosen yang terdaftar di PD-Dikti.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Sekretaris Jenderal FSGI, Fahriza Marta Tanjung menilai, hal itu menunjukkan bahwa Kemendikbud dan Pemerintah Daerah tidak memiliki pemetaan yang akurat terhadap implementasi PJJ yang sudah berlangsung.

“Berapa banyak siswa yang melaksanakan PJJ Daring atau berapa banyak siswa yang melaksanakan PJJ Luring maupun campuran. Berapa banyak siswa yang punya HP atau punya jaringan internet,” ujarnya.

“Besarnya selisih antara nomor yang sudah terdaftar dengan target jumlah siswa yang akan diberikan bantuan menunjukkan implementasi PJJ tidak berlangsung sebagaimana mestinya,” tukasnya.

Sebelumnya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memberikan bantuan subsidi kuota internet gratis untuk siswa, guru, mahasiswa hingga dosen. Adapun besaran yang akan diterima yakni 35 GB untuk siswa perbulan, 42 GB untuk guru perbulannya, dan 50 GB khusus bagi mahasiswa dan dosen per bulannya.(RRI)

(Warto'i)