Bendera Saudi Arabia
Bendera Saudi Arabia

Oleh: Rez Karim – Global Research

Jakarta, aktual.com – Menyadari sifat kontroversial dari topik ini, artikel dua bagian ini hanya mengandalkan perjanjian resmi, traktat, dan bukti sumber primer untuk menyusun penjelasan yang secara historis akurat mengenai berdirinya Arab Saudi serta bagaimana keluarga Al Saud menjadi “keluarga kerajaan”.

Sebagai seorang Muslim yang tumbuh di negara mayoritas Muslim, saya menghabiskan sebagian besar Jumat sore di masjid untuk menghadiri salat Jumat. Bagian pertama dari salat Jumat biasanya diisi dengan khutbah oleh imam — semacam ceramah mingguan. Dalam salah satu khutbah itulah, ketika masih sangat muda, saya pertama kali mengetahui tentang penderitaan rakyat Palestina.

Memang merupakan praktik umum bagi para imam di seluruh dunia untuk membahas persoalan Palestina di masjid, terutama dalam khutbah Jumat, serta mendoakan rakyat Palestina. Dalam doa dan diskusi tersebut, nama Israel hampir selalu disebut. Penindasan Israel terhadap Palestina dalam pemikiran Islam tidak memiliki ambiguitas. Karena itu, kecaman terhadap Israel muncul secara alami di kalangan Muslim di seluruh dunia.

Namun, ada sesuatu yang hampir selalu luput dari perhatian umat Islam: hubungan antara Israel dan Arab Saudi. Sementara umat Islam sangat keras mengkritik Israel atas berbagai kekejamannya, mereka sering kali menghormati Arab Saudi sebagai penjaga dua kota suci Islam; sambil sepenuhnya mengabaikan peran kerajaan tersebut dalam pembentukan negara Zionis Israel sejak awal.

Ketiadaan kritik terhadap kerajaan Saudi, dibandingkan dengan kritik terhadap Israel, bukanlah semata-mata karena bias. Justru, hal itu berakar pada kurangnya pengetahuan. Baik di kalangan generasi Muslim saat ini maupun masyarakat dunia secara umum, pengetahuan mengenai bagaimana Arab Saudi dan pendirinya, Abdel Aziz Ibn Saud, memainkan peran penting dalam terbentuknya negara Zionis Israel sangatlah minim.

Singkatnya, ketidaktahuan mengenai salah satu periode paling penting dalam sejarah dunia ini terasa tidak normal. Dunia, khususnya dunia Muslim, seolah-olah dibiarkan berada dalam kegelapan mengenai bab penting dalam sejarah Timur Tengah ini. Propaganda dan penghilangan fakta banyak terjadi dalam penulisan sejarah periode tersebut.

Sumber resmi Saudi seperti situs House of Saud, misalnya, tidak menyebutkan peran Inggris dalam pendirian Kerajaan Saudi. Walaupun penghilangan ini mungkin dapat dipahami, menarik untuk dicatat bahwa bahkan media arus utama seperti BBC dan sejarawan terkenal seperti Profesor Eugene Rogan sering menggambarkan Ibn Saud seolah-olah bertindak secara independen selama Perang Dunia I, bukan sebagai instrumen dari Kekaisaran Inggris.

Karena itu, untuk menghindari menjadi sekadar “sudut pandang” lain, artikel ini hanya menggunakan bukti sumber primer dan empat dokumen resmi berikut untuk menyusun gambaran historis mengenai peristiwa tersebut:

  • Korespondensi McMahon–Hussein
  • Perjanjian Darin
  • Perjanjian Sykes–Picot
  • Deklarasi Balfour

Bagian I

1. Korespondensi McMahon–Hussein

Untuk memahami peristiwa yang akhirnya mengarah pada terbentuknya Israel dan Arab Saudi, kita perlu kembali ke Timur Tengah pada awal 1900-an.

Pada awal Perang Dunia I, Sir Henry McMahon, Komisaris Tinggi Inggris di Mesir, menawarkan kepada Hussein bin Ali, Syarif Hijaz (penguasa wilayah Hijaz yang meliputi Mekkah dan Madinah), pembentukan negara Arab merdeka jika ia membantu Inggris melawan Kekaisaran Ottoman.

Kepentingan Hussein untuk melepaskan diri dari kekuasaan Turki sejalan dengan tujuan Inggris untuk mengalahkan Ottoman.

Dalam suratnya tanggal 14 Juli 1915, Hussein menyatakan salah satu tuntutannya:

“Inggris akan mengakui kemerdekaan negara-negara Arab … dan menyetujui proklamasi Khalifah Arab Islam.”

McMahon kemudian menjawab pada 24 Oktober 1915:

“Dengan modifikasi tersebut … kami menerima batas-batas itu.”

Sepanjang sejarah kemudian muncul perdebatan apakah janji Inggris ini mencakup Palestina atau tidak. Banyak pihak berpendapat bahwa Palestina secara implisit termasuk dalam wilayah yang dijanjikan.

Namun kemudian Inggris menyangkalnya dan bahkan menunda publikasi surat-surat tersebut hingga tahun 1939.

Sharif Hussein pada saat itu percaya pada janji tersebut dan kemudian memimpin Pemberontakan Arab (Arab Revolt) tahun 1916 yang membantu Inggris mengalahkan Ottoman.

2. Perjanjian Darin

Pada 26 Desember 1915, Inggris menandatangani Perjanjian Darin dengan Abdel Aziz Ibn Saud.

Perjanjian ini menjadikan wilayah Ibn Saud sebagai protektorat Inggris.

Ibn Saud menerima:

  • subsidi £5000 per bulan
  • bantuan senjata
  • dukungan militer Inggris

Ia juga berjanji membantu Inggris melawan Ottoman.

Namun perjanjian ini bertentangan dengan janji Inggris kepada Sharif Hussein karena tidak melarang Ibn Saud menyerang wilayah Hijaz.

3. Perjanjian Sykes–Picot

Pada 1916, Inggris dan Prancis membuat perjanjian rahasia untuk membagi wilayah Arab bekas Ottoman.

Perjanjian ini:

  • membagi Timur Tengah ke dalam wilayah pengaruh Inggris dan Prancis
  • mengabaikan aspirasi nasionalisme Arab

Dampaknya masih terasa hingga hari ini. Banyak konflik Timur Tengah dianggap sebagai konsekuensi dari perjanjian ini.

Bagian II

4. Deklarasi Balfour

Pada 2 November 1917, Menteri Luar Negeri Inggris Arthur Balfour menulis surat kepada Lord Rothschild:

“Pemerintah Yang Mulia memandang dengan baik pembentukan tanah air nasional bagi bangsa Yahudi di Palestina…”

Deklarasi ini kemudian dimasukkan ke dalam Mandat Inggris atas Palestina.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa keputusan ini dipengaruhi oleh tokoh-tokoh Zionis yang memiliki pengaruh besar dalam politik Inggris saat itu.

Peran Ibn Saud

Menurut penelitian Dr. Askar H. al-Enazy (2010):

Inggris menghadapi masalah karena Sharif Hussein menolak:

  • pembagian wilayah Arab
  • proyek Zionisme di Palestina

Karena itu Inggris mendukung Ibn Saud.

Ibn Saud diberi:

  • senjata
  • uang
  • dukungan militer

Pada 1921, Ibn Saud menaklukkan wilayah Ha’il.

Kemudian pada 1924–1925 ia menyerang Hijaz.

Ia menaklukkan:

  • Ta’if
  • Mekkah
  • Jeddah

Sharif Hussein akhirnya turun dari kekuasaan dan diasingkan.

Inggris kemudian mengakui Ibn Saud sebagai Raja Hijaz pada 1926.

Pada 1932, negara baru tersebut dinamai:

Kerajaan Arab Saudi (Kingdom of Saudi Arabia).

Kesimpulan Penulis

Penulis berargumen bahwa:

  • Kekaisaran Inggris mengkhianati janji kepada bangsa Arab.
  • Ibn Saud berperan sebagai sekutu Inggris dalam mewujudkan rencana imperial dan Zionis.
  • Penaklukan Hijaz membuka jalan bagi berdirinya kerajaan Saudi.

Menurut penulis, ironinya adalah bahwa:

dua kota suci Islam kini berada di bawah kekuasaan keluarga Saudi, yang menurut narasi ini bersekutu dengan Inggris pada masa Perang Dunia I.

Artikel ini ditulis oleh:

Rizky Zulkarnain