Pengamat ekonomi dari Universitas Katolik Atma Jaya Rosdiana Sijabat. IST

Jakarta, Aktual.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, pemerintah telah menyiapkan strategi dan rencana besar dalam menghadapi berbagai tantangan global pada tahun depan.

Salah satunya yakni dengan menempatkan APBN 2023 sebagai instrumen stabilitas untuk mengendalikan inflasi, instrumen perlindungan sosial, dan juga mendorong kelanjutan pemulihan ekonomi nasional.

Pengamat ekonomi dari Universitas Katolik Atma Jaya Rosdiana Sijabat mendukung strategi kebijakan Presiden Jokowi yang memfokuskan APBN 2023 untuk menjaga inflasi dan pemulihan ekonomi.

Menurutnya, perlu adanya kolaborasi lintas sektoral baik antar pemerintah pusat dan daerah dalam mengeksekusi program-program yang telah diagendakan pemerintah.

“Permasalahan yang saya kira sama-sama kita tahu di Indonesia ini koordinasi kebijakan itu tidak mudah, baik antar kementerian pada tingkat pusat atau pun antar pemerintah daerah dengan pusat. Saya kira sudah menjadi permasalahan yang cukup lama kita tahu, apalagi kalau misalkan dengan pemerintah daerah diera otonomi ini, tidak mudah juga mengkoordinasikan,” kata Rosdiana saat dihubungi, Kamis (8/12).

“Jadi memang ini yang perlu diantisipasi, tapi memang beberapa dari 6 langkah yang disampaikan oleh pak Presiden ini tentunya langkah-langkah yang mungkin bisa kita kontrol dengan baik,” sambungnya.

Padahal, jika komunikasi antara pemerintah pusat dan daerah berjalan baik maka permasalahan yang dihadapi pemerintah akan teratasi dengan baik, terutama permasalahan ancaman resesi dan inflasi tahun depan.

“Bagaimana sesama pemerintah daerah ini bisa sama-sama serempak mengikuti trend perekonomian yang melemah secara global, itu bagaimana daerah-daerah bisa fokus untuk membantu pemerintah kita,” ujarnya.

Selain pemerintah daerah, Rosdiana juga menyoroti kekhawatiran Presiden Jokowi terhadap anak buahnya yang diminta untuk mengesampingkan ego sektoral, agar kebijakan presiden untuk menyelamatkan Indonesia dari ancaman resesi dan inflasi di tahun depan.

“Kita juga harus mengantisipasi jangan sampai karena ketakutan untuk mobilitas itu nanti akan menurunkan ekonomi, sementara tidak tahu di kuartal III kemarin mobilitas ekonomi yang sudah bagus ini tercermin pertumbuhan ekonomi paling tinggi,” jelasnya.

Lebih jauh kata Rosdiana, untuk infrastruktur prioritas dan transformasi ekonomi, pemerintah harus menjaga trend positif yang dialami oleh Indonesia saat ini dengan menjaga daya beli masyarakat, agar APBN yang menjadi instrumen pengendalian inflasi bisa terealisasi.

“Pemerintah harus menjaga trend ekonomi yang positif ini, kan di sektor transportasi, kemudian industri kuliner makanan restoran perjalanan ini kan menunjukkan kita secara mobilitas kita sudah bagus, jangan sampai kondisi ini menurun,” ungkapnya.

“Menurut saya kalau misalkan presiden memberikan tanda-tanda ini kok koordinasinya tidak baik, tapi saya kira keegoannya masih dipendam. Kita mau kinerja pemerintah Jokowi di akhir masa jabatan ini bagus,“ pungkasnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa APBN menjadi instrumen pengendalian inflasi. Juga, instrumen perlindungan sosial bagi masyarakat rentan. Karena itu, untuk menjaga ekonomi dalam negeri di tengah perekonomian global yang diprediksi memburuk, pemerintah memfokuskan APBN 2023 pada enam kebijakan.

”Pertama, penguatan kualitas SDM. Kedua, akselerasi reformasi sistem perlindungan sosial. Ketiga, melanjutkan pembangunan infrastruktur prioritas, khususnya infrastruktur pendukung transformasi ekonomi,” ujar Jokowi

Untuk mengawal kebijakan-kebijakan ini, Presiden Jokowi telah menginstruksikan kepada sejumlah kementerian atau lembaga serta pemerintah daerah untuk beberapa hal penting, dantaranya mengendalikan secara detail belanja-belanja yang akan dilakukan, tidak terjebak pada belanja rutin, serta produk dalam negeri juga diutamakan dalam belanja pemerintah.

Dalam hal ini, Presiden Jokowi sedang mendorong pada efektivitas pembelanjaan pemerintah dengan mempertimbangkan pada kebutuhan belanja yang memang betul-betul dibutuhkan negara, serta yang tak kalah penting mengupayakan agar pemerintah menjadikan produk-produk dalam negeri sebagai bagian dari belanja pemerintah.

(Tino Oktaviano)