Warga beraktivitas di area permukiman di kawasan Luar Batang, Jakarta, Senin (28/3). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menertibkan permukiman warga di atas tanggul, badan air laut, dan saluran kali di kawasan Luar Batang dalam rangka revitalisasi kawasan wisata Sunda Kelapa, Museum Bahari, dan kawasan Luar Batang. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/kye/16

Jakarta, Aktual.com – Berkaitan dengan rencana Pemprov DKI yang ingin menggusur sebagian wilayah KampungLuar Batang untuk pembangunan jalan Inspeksi dan pemasangan tanggul.

Peneliti Senior Asia Research Institute, Dr Rita Padawangi mengatakan, bahwa Pemprov dalam hal ini tidak bersyukur memiliki sebuah kampung sejarah yang masih terdapat penduduknya.

“Jakarta ini harusnya bersyukur masih punya kota tua yang ada penduduknya seperti Luar Batang. Kota tua yang ada penduduknya di dunia itu susah banget ditemuin, apalagi di kota-kota kolonial,” ucapnya kepada Aktual.com saat dihubungi, Jakarta, Rabu (6/1).

Menurut Rita, kawasan bersejarah paling bernilai adalah kawasan yang masih memiliki keterikatan antara kota dan penduduknya, dimana hal itu menjadikan kehidupan kota tersebut menjadi dinamis, “Antar generasinya tersambung, regenerasi budayanya ada,” ujar Rita yang juga mengajar di National University of Singapore (NUS) itu.

“Dan mereka (pendatang) yang masuk ke dalam akan berproses menjadi bagian dalam kampung itu, dan bukan menendang orang kampungnya keluar,” imbuh dia.

Ia juga mengkritik alasan Gubernur DKI Jakarta yang mengatakan alasan menggusur pemukiman adalah untuk mempercantik bangunan bersejarah di kampung tersebut, Masjid Luar Batang. Baginya, yang terpenting adalah keterikatan antara bangunan dan penduduknya.

“Kawasan bersejarah itu gak perlu cantik, kok. Venesia itu gak cantik, rumah-rumahnya lumutan lagi, tapi kenapa bisa dipandang indah? Karena ada suatu koherensi antara masyarakatnya dengan tempat bersejarah itu. Antara bangunan dan orang-orangnya itu ada kesinambungan,” tutur Rita yang juga anggot Senior Research Fellow Asian Urbanisme Cluster.

Senada dengan Rita, Ketua Umum Sunda Kelapa Heritage, Mansur Amin mengatakan, bahwasanya Kampung Luar Batang dan Masjid Luar Batang adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Yang mana, secara langsung warga sekitaran masjid adalah pengurus masjid itu sendiri. Mereka secara bersama menghidupi dan memakmurkan Masjid Luar Batang.

“Kalau tiba-tiba kita dipindahin ke Marunda, terus yang tinggal di pinggir masjid itu yang di apartment, apa iya mereka bakal memakmurkan masjid? Apa gak kayak Masjid Kubah Emas itu yang di Depok Cuma jadi tempat foto-foto selfie doang? Kan bukan begitu menghidupi masjid,” katanya.

Artikel ini ditulis oleh: