Perajin membuat tempe dari kedelai impor di sentra industri tempe Sanan, Malang, Jawa Timur, Senin (29/5). Perajin tempe di kawasan tersebut mengaku kewalahan memenuhi permintaan pada bulan Ramadan yang melonjak hingga dua kali lipat sehingga mereka harus melipatgandakan produksi dari 50 lonjor menjadi 110 lonjor tempe per hari. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/ama/17.

Jakarta, Aktual.com – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Aditya Alta menyatakan, pemerintah RI perlu mempertimbangkan opsi untuk diversifikasi pasar impor kedelai untuk memastikan jumlah pasokan dan kestabilan harganya.

Aditya Alta dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (22/1/2022), menyatakan diversifikasi juga penting dilakukan supaya Indonesia tidak tergantung pada satu negara manapun.

“Pembelian besar-besaran kedelai Amerika Serikat oleh China dan krisis iklim yang melanda Argentina dan Brasil mempengaruhi jumlah pasokan dan kestabilan harga kedelai di Indonesia,” katanya.

Ia mengatakan, karena pasokan kedelai Indonesia didominasi Amerika Serikat, sangat penting untuk mencari sumber pasar tambahan yang juga mampu memasok komoditas itu untuk pasar domestik.

Berdasarkan data World Atlas, lanjutnya, Brasil merupakan negara penghasil kedelai terbesar di dunia dengan jumlah produksi mencapai 124 juta metrik ton pada 2019-2020.

Posisi selanjutnya ditempati Amerika Serikat dengan produksi sebesar 96,79 juta metrik ton, dan Argentina, berada di urutan ketiga dengan 51 juta metrik ton.

China, Paraguay dan India masing-masing berada di peringat keempat, kelima dan keenam dengan jumlah produksi 18,1 juta metrik ton, 9,9 juta metrik ton dan 9,3 juta metrik ton.

“Indonesia dapat menjajaki kemungkinan untuk membuka hubungan dengan negara eksportir kedelai nontradisional. Tidak tergantungnya kita pada satu negara saja dapat membantu meminimalkan dampak gangguan pasokan dari negara pemasok utama terhadap kestabilan harga kedelai di Tanah Air,” ungkap Aditya.

Berdasarkan data dari Trademap, lebih dari 90 persen pasokan kedelai Indonesia dipenuhi oleh Amerika Serikat. Terdapat penurunan sumbangan impor kedelai dari Amerika Serikat, dari hampir 99 persen pada 2016, menjadi 90,43 persen pada 2020.

Peringkat kedua pemasok kedelai Indonesia adalah Kanada, dengan proporsi yang jauh lebih kecil namun mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada 2016, Kanada menyumbang 0,33 persen kedelai impor, dan meningkat menjadi 9,28 persen pada tahun 2020.

Sebelumnya, Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin menjelaskan alasan Indonesia masih bergantung kedelai impor dibandingkan kedelai lokal karena produksi dalam negeri yang tidak bisa memenuhi kebutuhan nasional.

“Kebutuhan kedelai kita kira-kira 3 juta ton lebih, sedangkan produksi kedelai lokal dari dulu hampir 2 juta ton, menurun, dan turun terus sampai tahun kemarin 2021 informasi yang saya terima adalah hanya 300 ribu ton produksi kedelai lokal,” kata Aip di Jakarta, Selasa (18/1).

Aip mengemukakan Indonesia pernah swasembada kedelai pada 1992 dengan produksi mencapai 1,8 juta ton per tahunnya. Jumlah produksi tersebut terus menurun setiap tahunnya.

Pada 2015 produksi kedelai dalam negeri 963,18 ribu ton, 2016 turun menjadi 859,65 ribu ton, pada 2017 kembali turun jadi 538,73 ribu ton, pada 2018 sempat naik tipis jadi 650 ribu ton, kemudian kembali turun pada 2019 menjadi 424,19 ribu ton.

Sementara produksi kedelai menurun, impor kedelai juga semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2016 impor kedelai mencapai 2,26 juta ton, 2017 sebanyak 2,67 juta ton, 2018 sebesar 2,58 juta ton, 2019 mencapai 2,67 juta ton, dan pada 2020 sebanyak 2,47 juta ton.

(Antara)

(A. Hilmi)