Ilustrasi (pixabay)

Jakarta, Aktual.com – Tema kali ini dilansir dari kitab “Minnahu Attssaniyah” sebuah kitab klasik yang dikarang oleh abdul Wahab Syaroni (989 H) yang menjadi salah satu peganggangan bagi para mutashiwwifin (orang yang sedang menjalan laku tasawuf) didalam menjalankan perilaku sufitik secara teoritis, khususnya di Bab Zikir.

Setiap sufi mempunyai pengalaman spritual sendiri-sendiri dan berbeda termasuk Imam Abd Al-Wahhab al-Sya’rani yang mempunyai pengalaman spritual yang unik, yakni ketika ia terjatuh di sungai Nil, ia diselamatkan oleh seekor buaya. Walaupun pada umumnya buaya akan menerkam setiap apa saja yang mendekatinya, namun berbeda dengan beliau yang sebaliknya di selamatkan oleh buaya. Jika kita coba untuk menghubungkan secara rasional, mungkin diantara kita pasti tidak menerima hal tersebut, tapi seperti itulah keistemewaan beliau.

Untuk tarekat yang diikuti oleh beliau kami masih belum bisa menentukan walaupun ada diantara guru beliau yang seorang pengikut tarekat Syadziliyah, tapi beliau sendiri mempunyai kesenangan belajar tarekat tersebut tapi dalam karya-karya beliau tidak  ada yang menyebutkan kalau beliau menganut ikut tarekat Syadziliyah. Beliau adalah seorang ahli sufi dan fikih. Terlihat dari karya-karya beliau yang banyak menerangkan tentang dua bidang keilmuan tersebut.‎

Nama lengkap beliau adalah Abdul Wahab bin Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Musa Asy-Sya’rani Al-Anshari Asy-Syafi’i Asy-Syadzili Al-Mishri. Abdul Wahab Asy-Sya’rani terkenal dengan panggilan Imam Asy-Sya’rani, yaitu salah seorang sufi terkenal yang diakui sebagai wali quthub pada zamannya yang memperoleh gelar sufistik Imamul Muhaqqiqin wa Zudwatul Arifin (pemuka ahli kebenaran dan teladan orang-orang makrifat). Beliau dilahirkan di desa Qalqasandah – Mesir pada tanggal 27 Ramadhan 989 H. / 12 Juli 1493 M.

Disebutkan didalam kitab tersebut bahwa jika lupa satu tarikan nafas saja bagi arif billah maka itu merupakan sebuah kesyirikan. Karena titik poinnya adalah menyangkut kesadaran diri. Sedangkan bagi bagi si Salik (orang yang lagi berjala menuju Allah) ingat dengan zikir itu menunjukkan ke tinggian derajat. Dan jika lupa berzikir bearti turun derajatnya.

Bagi orang awam, zikir itu merupakan sebuah rangkain ibadah tapi bagi Salik tujuannya li makrifah melakukan (mengenal Allah SWT)

Disitu dianjurkan agar Salik benar-benar mabuk dengan zikirnya, bahkan dianjurkan sampai dicap seperti seolah-olah dianggap orang gila. Tidak mengapa. Hal ini juga pernah dialami oleh para guru-guru sufi seperti seikh sidi Abdulah bin Muhammad Siddiq al Ghumari dari Maroko yang dicap gila gara-gara berzikir saat pulang kerumah menuju tempat ia belajar dimana jaraknya kurang lebih 500 meter.

Disebutkan juga bahwa ciri-ciri ahli surga kalau dia tidak lagi zikir hatinya akan merasa menyesal. Sama dengan Hizib bahwa bahwa zikir itu membentengi diri dari gangguan syaiton (minnahu saniyah).

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam ibnu Hibban disebutkan :

   أَكْثِرُوا ذِكْرَ اللَّهِ ، حَتَّى يَقُولُوا مَجْنُونٌ

“Perbanyaklah dzikrullah sampai orang-orang mengatakan anda gila”

Manusia paling senang mencari sesuatu yang tak terlihat dan yang tak di kenal, setelah terlihat dan kenal kemudian ia bosan. itu sudah tabiat alami manusia sehingga banyak manusia mengejar Hajat dan karomah, dapat melihat hal-hal ghaib.

Semoga bermanfaat

(Ahmad Himawan)

(A. Hilmi)