Jakarta, Aktual.co — Direktur Eksekutif Global Future Institut (GFI) Hendrajit, menduga Kepala Staff Kepresidenan Luhut Panjaitan sebagai penumpang gelap yang dimaksud Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dalam pidatonya di kongres PDIP beberapa waktu lalu. 
Pasalnya, meskipun Megawati tak menjabarkan, penumpang gelap yang berada di gerbong justru jadi masinis atau  pengendali lokomotif pemerintahan Jokowi-JK.
“Mega sebut penumpang gelap, tapi sayangnya dia tidak jabarkan penumpang gelap ini sekedar ikut di gerbongnya atau justru mengendalikan lokomotif dari pemerintahan Jokowi-JK. Bacaan saya ke Luhut sebagai kepala staf kepresidenan,” ujar Hendrajit di Kantor GFI, Jakarta, Senin (13/4).
Hendrajit menuturkan, Megawati menyerang Jokowi tapi tidak kepada tingkat yang substansial soal permen sesneg. “Permen itu kan awalnya kontroversi dan dicabut tapi itu yang jebol, kan sesneg ini baru pertama kali, artinya ada yang salah disini, ada satu gerakan terencana sehingga Pratikno yang jebol,” katanya.
Dia menambahkan, kewenangan Menteri Luar Negeri juga seperti diambil alih Luhut dalam penyelenggaraan KAA, selain itu juga isu BUMN yang akan dilepas ke pasar.
“Ada bagian integral dari rencana besar ini, ini berarti bisa menggagalkan KAA. Kalo urusan Pertamina episentrumnya di Luhut Panjaitan, apalagi yang saya dengar koneksi dia dengan jaringan-jaringannya kuat, artinya dia jadi pemain mata rantai dari jaringan koneksi Amerika,” kata Hendrajit.
Ada pertaruhan besar di balik KAA kalau ketua pelaksananya adalah Luhut. Selain itu, banyak agenda tersembunyi yang dimainkan.
“Makanya kemarin menlu ditunggu wartawan yang sampai dikunci hanya untuk meminta menlu yang akan konpers, itu aja ada agenda yang disembunyikan. Bicara migas itu juga akan jadi agenda, ironisnya Jokowi-JK makin mengerucut ke skema itu.”
Buktinya, lanjut Hendrajit, presiden seperti tak percaya pada menteri luar negeri dan seperti diisolasi Luhut yang jadi ‘Event Organizer’ pelaksanaan KAA.

Artikel ini ditulis oleh: