Washington, Aktual.com – Kenaikan harga pangan di Amerika Serikat (AS) mulai memengaruhi pola konsumsi warga, seiring eskalasi konflik militer antara AS dan Iran. Pemimpin Minoritas Senat AS, Chuck Schumer, menyoroti dampak langsung kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump terhadap kesejahteraan rakyat.
“Warga Amerika sudah melewatkan makan akibat perang sembrono di Iran yang sengaja dipilih oleh Presiden Trump. Ini contoh nyata bagaimana kekacauan yang ia ciptakan membuat rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan pokok,” tulis Schumer di platform X, dikutip Jumat (27/03/2026).
Laporan media menunjukkan warga AS kini menekan belanja makanan untuk menutupi biaya bahan bakar yang melonjak setelah Iran memblokade Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Konflik ini bermula saat AS dan Israel menyerang sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran, pada 28 Februari, menimbulkan kerusakan fisik dan korban jiwa sipil. Iran membalas dengan serangan terhadap fasilitas militer AS dan wilayah Israel di Timur Tengah. Eskalasi itu menyebabkan gangguan produksi dan ekspor minyak di kawasan, mendorong kenaikan harga energi, yang secara langsung berdampak pada biaya hidup warga.
Survei AP-NORC yang dilakukan 19-23 Maret terhadap 1.150 orang dewasa menunjukkan 59 persen warga menilai aksi militer AS di Iran telah melampaui batas. Pandangan ini dominan di kalangan Demokrat, sekitar 9 dari 10 responden, dan independen, sekitar 6 dari 10.
Sekitar 4 dari 10 menilai mencegah Iran mengancam Israel sebagai prioritas kebijakan luar negeri, sementara hanya 3 dari 10 menilai penggantian pemerintahan Iran penting. Persetujuan publik terhadap kebijakan luar negeri Presiden Trump tetap rendah, sebesar 34 persen, hampir sama dengan bulan sebelumnya (36 persen).
Dampak sosial pun muncul, terutama di kelompok berpendapatan menengah ke bawah. Banyak warga menunda atau mengurangi konsumsi bahan makanan, memilih alternatif lebih murah, atau melewatkan beberapa kali makan. Risiko ini menambah tekanan sosial dan ekonomi di tengah inflasi yang dipicu konflik geopolitik.
Menurut Schumer, situasi ini menunjukkan bahwa keputusan politik dan militer memiliki efek langsung pada kehidupan sehari-hari warga, termasuk akses terhadap kebutuhan dasar. Ia menyerukan agar kebijakan luar negeri mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi secara lebih matang.
Blokade Selat Hormuz dan kenaikan harga energi di pasar global diprediksi akan terus memengaruhi inflasi pangan di AS, memunculkan tantangan bagi rumah tangga, terutama bagi kelompok rentan yang paling terdampak oleh naiknya biaya hidup.
Artikel ini ditulis oleh:
Eka Permadhi
















