Direktur Syariah Banking CIMB Niaga Pandji P. Djajanegara menyampaikan sambutan di acara Diskusi Bersama CIMB Niaga Syariah di Jakarta, Jumat (28/2/2020).

Jakarta, aktual.com – Direktur Syariah Banking PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) Pandji P. Djajanegara mengatakan bahwa UU Perbankan Syariah memiliki tujuan yang mulia dengan meningkatkan pertumbuhan Bank Syariah di Indonesia akan tetapi kebijakan spin-off akan berakibat kontra produktif dengan tujuan tersebut.

“Jika kewajiban spin-off diterapkan pada 2023, maka akan lahir sekitar 21 Bank Umum Syariah [BUS] baru dengan modal cekak dan kemampuan terbatas,” kata Pandji, Senin (15/8).

Bahkan menurutnya, kebijakan tersebut akan bertentangan dengan arahan konsolidasi dari OJK.

“Hal ini tentu bertentangan dengan arahan konsolidasi perbankan dari OJK yang mendorong penguatan modal untuk menghadapi krisis finansial
di masa mendatang serta menghadapi skala bisnis lebih besar,” sambungnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kebijakan tersebut jika ditambah dengan penyesuaian pricing akan berdampak terhadap reputasi perbankan syariah.

“Apalagi bila ditambah penyesuaian pricing pembiayaan BUS hasil spin-off akan menjadi lebih tinggi karena keterbatasan likuiditas, sumber dana yang mahal dan rating bank rendah. Kondisi ini akan merugikan sekitar 6,5 juta nasabah UUS. Jika hal ini terjadi, dampak lanjutannya bisa menggerus risiko reputasi perbankan syariah,” ujarnya.

Dengan banyaknya resiko, ia menegaskan akan mendorong model bisnis UUS tetap dipertahankan karena akan memberikan kontribusi positif bagi perbankan syariah.

“Mengingat model bisnis UUS dapat memberikan kontribusi positif yang signifikan dalam langkah strategis pertumbuhan dan perkembangan perbankan syariah di Indonesia, maka kami mendorong agar model bisnis UUS dipertahankan,” pungkasnya.

(Rizky Zulkarnain)