Jakarta, Aktual.co — Pendiri lembaga Eagle Wildlife Law Enforcement,  Ofir Drori menilai penjualan gading gajah dari negara-negara di Afrika Timur melibatkan jaringan internasional.

“Lupakan tentang pemburu. Ini bukan hanya perdagangan di benua Afrika, tapi perdagangan internasional,” tegas Ofir, dilansir dari AFP, Senin (26/1).

Pria yang berkecimpung dalam organisasi yang anti terhadap eskploitasi satwa dilindungi tersebut menyatakan bahwa, pejabat pemerintah setempat juga punya andil dalam perdagangan gading gajah.

Menurutnya,  para politisi punya peran penting untuk memuluskan jalur perdagangan ilegal tersebut sebelum dikirim keluar Afrika. Namun, dia mengaku masih sulit untuk membuktikan keterlibatan politisi negara setempat.

“Politisi berpengaruh sebagai pelicin jalan. Tujuannya adalah untuk melindungi sindikat penjualan gading gajah,” bebernya.

“Sangat sulit untuk membuktikan ada campur tangan pemerintah. Itu karena mereka membayar orang lain untuk melakukan pekerjaan itu,” keluhnya.

Namun demikian, dia masih yakin jika upaya eklpolitasi itu bisa dihentikan. Syaratnya yaitu, dengan kerjasama yang dilakukan oleh lembaga-lembaga terkait.

“Jaringan penjaga taman satwa, polisi, petugas bea cukai, agen pengiriman dan ekspedisi harus bisa bekerjasama,” harapnya.

Untuk diketahui, pada Mei 2014 lalu, polisi Kenya berhasil mengagalkan upaya pengiriman 228 gading gajah seberat 2.152kg. Salah satu politisi Kenya, Faesal Mohamed Ali diduga punya peran dalam penjualan tersebut.

Faesal berhasil ditangkap di Tanzania sebulan setelah penggerebekan. Hingga kini, Interpol dan organisasi polisi PBB masih melakukan upaya untuk menghentikan upaya eksploitasi tersebut.

Pada 2013 lalu, beberapa lembaga riset termasuk Interpol dan PBB mencatat, setidaknya terdapat 25.000 ekor gajah Afrika yang dibunuh untuk diambil gadingnya. Kabarnya dalam setahun, hasil perdagangan tersebut bisa meraup untuk sebesar 188.000.000 USD.

Artikel ini ditulis oleh: