Neta S Pane

Jakarta, Aktual.com-Indonesia Police Watch (IPW) meminta Polda Metro Jaya untuk mengkaji ulang wacana pemberdayaan ‘pak ogah’ sebagai pengatur lalu lintas. Lantaran kebijakan itu pernah diterapkan dan hasilnya dinilai tidak maksimal.

Menurut Ketua IPW Neta S Pane wacana tersebut bukan kali pertama digaungkan. Sebelumnya, ‘Pak Ogah’ sempat diberdayakan, tetapi karena tidak konsisten, akhirnya pun tidak maksimal.

“Keberadan pak ogah di beberapa tempat malah bikin semrawut dan tidak teratur. Bercermin dari kasus ini, Ditlantas PMJ perlu mengevaluasi rencananya untuk kembali memberdayakan pak ogah,” sebut Neta kepada Media di Jakarta melalui keterangan tertulis, Minggu (6/8).

Terkait masalah ini, Neta berharap, Ditlantas Polda Metro Jaya tidak lepas tangan dengan wacana ini.

Neta menambahkan, perlu ada pelatihan dan pemberdayaan terhadap pak ogah agar benar-benar bisa membantu tugas polisi lalu lintas.

Neta menyanyangkan selama ini banyak program Ditlantas Polda Metro Jaya yang dinilai tidak konsisten. Ketika ada pergantian pejabat, ada pergantian program. Sehingga program bongkar pasang dan tidak berkelanjutan.

“Akibatnya kemacetan Jakarta tidak terurus secara maksimal dengan program yang konsisten dan berkelanjutan. Jika Ditlantas memang mau kembali memberdayakan pak ogah, harus dibuat program jangka pendek, menengah dan panjang,” imbuh Neta.

Sebelumnya diberitakan jika Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Halim Pagarra mengatakan, pak ogah tidak boleh meminta uang kepada pengendara secara paksa.

Halim menjelaskan, tidak ada kriteria khusus dalam mencari pak ogah untuk diberdayakan. Saat ini, kata Halim, anggotanya di masing-masing wilayah hukum Polda Metro sudah mendata para pak ogah agar tidak ada penyimpangan.

“Sebulan kita kasih waktu untuk kasatlantas mendata, termasuk titiknya dan orangnya yang ada di situ, dan kita tidak merekrut. Yang sudah ada kita berdayakan,” kata Halim, di Jakarta Kamis (27/7).

Artikel ini ditulis oleh:

Bawaan Situs