Jakarta, Aktual.co — Ketua Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (PERPADI) Nellys Soekidi, menjelaskan untuk menemukan mafia beras sintetis sebenarnya hal mudah.

Menurutnya, melacak asal muasal beras sintetis bisa dilakukan melalui penyalur maupun distributor karena pedagang pasti sudah berlangganan. Terlebih beras yang dipasarkan mempunyai jenis nama dan merk masing-masing.

“Saya saja punya langganan yang sudah 25 tahun, mereka masih setia,” kata Nellys di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (23/5)

Kejanggalan dari kasus beras sintetis adalah kondisi beras saat ini yang tidak dalam kelangkaan pasokan dari petani. Pasalnya, tidak ada gunanya melakukan pengoplosan beras demi mencari keuntungan.

“Untuk peredaran sekarang, beras medium tidak ada impor. Dari petani jual gabah, jadi beras. Cenderung karena alat modern, membuat beras semakin bagus,” ungkapnya

Selain itu diungkapkan Nellys, pengusaha beras kawakan ini, pedagang beras sebenarnya enggan melakukan pengoplosan atau membedakan harga. Karena setiap pedagang beras memiliki ikatan emosional.

Pernyataan ini dilontarkannya bukan untuk membela pemilik toko tempat ditemukannya beras sintetis karena dia berkeyakinan pemilik toko sendiri tidak mengatahui adanya beras sintetetis.

“Dia beli dari Kerawang, saya bukan bela pak Sembiring (pemilik toko tempat ditemukannya beras sintetis), saya yakin pak Sembiring juga tidak tahu. Kalau ditelusuri mudah itu,” tegasnya.

Kendati demikian dia belum mau menyimpulkan motif beredarnya beras sintetis karena saat kasus tersebut masih dalam penyelidikan Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) dan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Artikel ini ditulis oleh:

Eka