Kilang Minyak
Ilustrasi Kilang Minyak

Jakarta, Aktual.com – Harga minyak naik di sesi Asia pada Rabu pagi, pulih dari posisi terendah enam bulan yang dicapai pada hari sebelumnya, karena penurunan yang lebih besar dari perkiraan dalam persediaan minyak dan bensin AS mengingatkan investor bahwa permintaan tetap kuat, meski dibayangi oleh prospek resesi global.

Minyak mentah berjangka Brent terdongkrak 13 sen atau 0,1 persen, menjadi diperdagangkan di 92,47 dolar AS per barel pada pukul 00.35 GMT. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 27 sen atau 0,3 persen, menjadi 86,80 dolar AS per barel.

Kontrak acuan merosot sekitar 3,0 persen pada Selasa (16/8/2022) karena data perumahan AS yang lemah memicu kekhawatiran tentang potensi resesi global.

“Penarikan stok bensin AS untuk minggu kedua berturut-turut telah meyakinkan investor bahwa permintaan kuat, mendorong pembelian,” kata Kazuhiko Saito, kepala analis di Fujitomi Securities Co Ltd.

“Namun, pasar minyak diperkirakan tetap berada di bawah tekanan, dengan volatilitas yang cukup tinggi, karena kekhawatiran potensi resesi global,” katanya.

Stok minyak mentah dan bahan bakar AS turun dalam minggu terakhir, menurut sumber pasar yang mengutip angka American Petroleum Institute (API) pada Selasa (16/8).

Stok minyak mentah turun sekitar 448.000 barel untuk pekan yang berakhir 12 Agustus. Persediaan bensin turun sekitar 4,5 juta barel, sementara stok sulingan turun sekitar 759.000 barel, menurut sumber.

Jajak pendapat Reuters yang diperpanjang menunjukkan pada Selasa (16/8/2022) bahwa persediaan minyak mentah kemungkinan turun sekitar 300.000 barel pekan lalu dan stok bensin kemungkinan turun 1,1. juta barel, sementara persediaan sulingan naik.

Investor juga menunggu kejelasan pembicaraan untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Iran 2015. Pasokan minyak bisa meningkat jika Iran dan Amerika Serikat menerima proposal dari Uni Eropa, yang akan menghapus sanksi terhadap ekspor minyak Iran, kata para analis.

Uni Eropa dan Amerika Serikat mengatakan pada Selasa (16/8/2022) bahwa mereka sedang mempelajari tanggapan Iran terhadap apa yang disebut Uni Eropa sebagai proposal “final” untuk menyelamatkan kesepakatan nuklir 2015 setelah Teheran meminta Washington untuk menunjukkan fleksibilitas.

Sementara itu, Barclays menurunkan perkiraan harga Brent pada Selasa (16/8/2022) sebesar 8 dolar AS per barel untuk 2022 dan 2023, karena memperkirakan surplus besar minyak mentah dalam waktu dekat ketika pasokan Rusia tetap “tangguh”.

(Arie Saputra)