Jakarta, Aktual.com —  Sekretaris Perusahaan PT. Pertamina (Persero) Wisnuntoro mengungkapkan kerugian perusahaan pelat merah tersebut berkisar Rp15,2 Triliun. Angka itu bertambah Rp2,7 triliun dibanding dengan kerugian awal Juli lalu sebesar Rp12,5 Triliun. Pasalnya, publik tahu bahwa Pertamina menaikkan harga BBM bersubsidi ditengah harga minyak dunia sedang turun. Maka aneh kalau Pertamina mengaku merugi sampai belasan triliun rupiah.

“Kinerja Pertamina dibawah kepemimpinan Dwi Soetjipto terkesan amburadul dan tidak cakap me-manage perusahaan BUMN terbesar itu. Jauh dibanding dengan kepemimpinan Direksi Pertamina sebelumnya,” ujar koordinator Masyarakat Energi Indonesia, Agung Sanjaya dalam keterangan yang diterima Rabu (23/9).

Dikatakan lebih lanjut, kabar tidak sinkron-nya komunikasi antar Direksi Pertamina menunjukan Dwi Soetjipto tidak punya leadership sebagai Direktur Utama Perusahaan. Hubungan yang buruk dengan perusahaan energi lainnya yaitu PLN terkait dengan soal penetapan harga jual gas menjadi catatan minimnya kemampuan negosiasi Dwi Soetjipto.

Ditambah dengan kritik pedas Menteri Perhubungan Jonan terkait mahalnya harga avtur Pertamina membuat wajah Pertamina semakin kusam.

“Mimpi menjadikan Pertamina sebagai perusahaan energi kelas dunia semakin ‘jauh panggang dari api’ kalau management Pertamina masih seperti seperti sekarang,” jelasnya.

Menurutnya, kerugian Pertamina yang sangat fantastis itu baiknya Komisi VI DPR segera memanggil Direktur Utama Pertamina untuk diminta klarifikasi dan pertanggung-jawabannya. Selain itu kami mendesak Badan Pemeriksa Keuangan melakukan audit investigatif untuk mengukur kedalaman serta sejauh mana kerugian tersebut benar, mengingat gaji dan tunjangan pegawai Pertamina besar sekali dan standard perusahaan internasional. Agar hal-hal seperti itu tidak terjadi lagi. Kalau ditemukan kejanggalan maka harus ditelusuri lebih dalam lagi.

“Kami menengarai, persoalan yang muncul di Pertamina saat ini adalah murni karena factor kepemimpinan Dwi Soetjipto yang lemah dan kurang piawai. Bahkan ada dugaan Dirut Pertamina sekarang lebih banyak berpolitik ketimbang mengurusi perusahaan. Jika kondisi ini berlangsung lama, kami khawatir kinerja perusahaan energi ini kian terpuruk,” pungkasnya.

(Eka)