Jakarta, Aktual.co — Joko Widodo (Jokowi), sang presiden terpilih, ibarat fenomena yang mampu mengubah dan membentuk tradisi baru masyarakat dalam berdemokrasi.
Apatisme masyarakat terhadap pemerintah yang sudah jamak dalam enam kali suksesi kepemimpinan di Tanah Air ibarat terkikis saat fenomena Jokowi merebak.
Kemudian menjadi wajar ketika pelantikannya sebagai presiden ke-7 RI ditandai dengan gegap gempita pesta rakyat dari mulai arak-arakan dengan kereta kuda, pesta kuliner di sepanjang jantung kota Jakarta, hingga ribuan orang tumpah ruah di sepanjang jalan sejak dari Gedung MPR/DPR hingga Istana Merdeka.
Masyarakat menyambut dan mengelu-elukan presiden baru tersebut dengan syukuran besar yang diwarnai konser musik hingga malam harinya.
Jokowi pun seakan diantar oleh rakyatnya ke Istana dengan cara-cara yang belum pernah dilakukan dalam sepanjang sejarah Indonesia.
Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menanggapi positif kirab akbar yang digelar masyarakat untuk menyambut pemimpin baru mereka.
Pesta tersebut kata dia semakin menguatkan imajinasinya tentang pelantikan presiden seperti di Gedung Putih, Amerika Serikat, sebagai negara yang telah mapan dalam hal demokrasi.
“Pesta pelantikan Jokowi-JK merupakan sebuah tradisi yang bagus dan harus dibiasakan oleh para pemimpin,” ucapnya.
Usai pesta rakyat, mantan Presiden SBY menyambut Jokowi yang masuk ke Istana dengan berjalan kaki setelah turun dari kereta kuda berdampingan dengan wakil presidennya Jusuf Kalla.
Mereka pun melaksanakan upacara militer dan melakukan inspeksi langsung terhadap pasukan militer mengukuhkan bahwa sejak detik itu Presiden Jokowi adalah Panglima Tertinggi TNI.
Tradisi itu akan dikenang sejarah sebagai cermin betapa semakin dewasanya wajah demokrasi Indonesia.
Negara Lain Lain ladang tentu lain pula belalangnya. di Amerika Serikat tradisi melantik presiden dilakukan di Gedung Capitol, Washington, DC, pada Senin atau Minggu.
Pelantikan diawali dengan pembacaan sumpah, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan pidato, doa, dan puisi oleh sastrawan.
Sementara di Rusia pelantikan Presiden berlangsung di Gedung Kremlin dimana Presiden terpilih akan berdiri di belakang mimbar dan membaca sumpah serta berpidato.
Seusai pidato, barisan militer dalam acara pelantikan memainkan lagu “A Life for the Tsar” dan menembakkan 21 senapan ke udara.
Prancis punya tradisi sendiri dalam pelantikan Presiden Prancis yang diawali dengan serah-terima sandi rahasia dari presiden sebelumnya di Istana Elysee.
Setelah serah-terima sandi rahasia, presiden terpilih menuju aula Istana Elysee untuk mengikuti upacara pelantikan.
Sedangkan pelantikan Perdana Menteri di Inggris dikondisikan untuk tidak dilaksanakan dalam pesta publik yang besar namun hanya upacara sederhana di istana yang dilaksanakan dengan anggota kerajaan.
Daya Tarik Pelantikan Presiden Jokowi menandai mulai saat ini Indonesia memiliki tradisi baru dalam menyambut presiden terpilih, serupa dengan banyak negara lain di dunia yang memiliki sejarah besar.
Hal itu layak menjadi satu kebanggaan meskipun sehari sebelum pelantikan para pelaku industri pariwisata sempat mengkhawatirkan adanya kisruh yang potensial mengganggu kinerja sektor pariwisata.
Mereka menginginkan suksesi pemerintahan tidak sampai menganggu sektor pariwisata dan berjalan dengan kondusif tanpa ada kericuhan.
“Kami ingin semuanya berjalan lancar dan kondusif serta tidak ada hal-hal yang ricuh yang akan membuat wisatawan tidak jadi datang ke Indonesia,” kata Ketua Asita Chapter DIY Edwin Ismedi Himna.
Ia mengatakan sampai saat ini belum ada pembatalan wisatawan yang akan berkunjung ke Indonesia terkait dengan pelantikan presiden terpilih Jokowi.
Meski begitu, ia yakin, konstelasi politik di Indonesia akan menjadi perhatian khusus dunia termasuk wisatawan yang ingin datang ke Tanah Air.
“Memang belum ada yang membatalkan cuma saya yakin mereka mengikuti isu di negara kita dan memantau situasi politik sebelum memutuskan untuk datang. Mereka ingin jaminan keamanan,” katanya.
Namun Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi DKI Jakarta Ari Budiman justru berpendapat pesta rakyat menyambut pemimpin baru bisa meningkatkan perhatian publik yang lebih luas terhadap Jakarta.
“Ini justru daya tarik, dan Jakarta akan disebut di berbagai belahan dunia,” imbuhnya.
Nyatanya memang semua mata bahkan hingga dunia internasional tertuju ke Jakarta yang sedang menyelenggarakan hajat besar menyambut pemimpin baru.
Tradisi baru menyambut presiden terpilih itu kemudian diharapkan bukan cuma eforia sesaat.
Pemerintah Jokowi tidak boleh lupa diri tenggelam dalam pesta rakyat yang seakan menggambarkan betapa rakyat mencintainya, mengelu-elukannya, sekaligus ingin sekali dekat dengannya.
Cinta rakyat adalah tentang segudang amanah yang harus segera diwujudkan menuju Indonesia yang adil, makmur, sentosa.

()