Jakarta, Aktual.co — Mantan Komisaris Utama Pertamina, Sugiharto mengungkapkan usaha untuk memindahkan Petral-Pes ke Jakarta sudah terjadi berulang-kali. Namun, pemburu rente tetap ada. Dirinya menilai hal tersebut hanya menjadi alasan bahwa dengan beradanya Petral-Pes di Singapura akan mempersulit audit investigasi BPK dalam memburu mafia migas.

“Petral-PES itu sesungguhnya sudah melakukan best practice. Petral itu diaudit oleh auditor dunia yang bernama ‘Price Waterhouse and Coopers’. Petral juga tidak bebas dari pemeriksaan BPK, bahkan BPK di awal tahun  pernah melakukan audit investigasif terhadap Petral dan hasilnya Wajar Tanpa Pengecualian,” ujar Sugiharto kepada Aktual, Rabu (27/5).

Menurutnya, Petal-PES pernah mendapatkan peringkat ke-7 dari 1.000 (perusahaan). Artinya apa Governance (tata kelola) yang dijalankan Petral memang sudah diakui (Singapura) dan seluruh dunia. Bahkan Petral terendah bayar pajak, hanya 5 persen.

“Petral juga mendapatkan fasilitas USD5,1 Miliar. Nominal itu sudah mewakili setengah pendapatan yang disetorkan Pertamina ke Pemerintah Pusat,” jelasnya.

Salah satu resiko terbesar bangsa Indonesia, lanjutnya, adalah kenaikan harga minyak dunia. Dengan dibubarkannya Petral-PES akan kehilangan potensi jaringan USD5,1 miliar atau Rp65 triliun. Impor minyak mentah selama ini berbentuk dolar, sedangkan Pertamina menjualnya dalam satuan rupiah, Pertamina meminta cadangan devisa nasional melalui Bank Indonesia (BI).

“Pertamina selalu meminta cadangan devisa ke BI untuk melakukan impor hingga USD200 juta per hari. Dalam berbagai kesempatan, Pertamina sering kesulitan mendapatkan devisa,” jelasnya.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka