Semarang, Aktual.co —- Perusahaan farmasi terbesar di Semarang, PT Phapros Tbk diam-diam kembali mengembangkan obat antibiotik dari biota laut. Pengembangan produksi terbaru itu dengan temuan teknologi menggandeng Universitas Diponegoro.
Direktur Utama PT Phapros Tbk, Iswanto, menjelaskan produksi obat antibiotik tersebut diambil dari zat yang dikeluarkan microba symbion di terumbu karang. Bahan produksi itu diambil dari hasil laut.
“Jadi ada microba symbion yang melingkupi terumbu karang. Terumbu karang itu kan hidup, nah microba symbion ini mengeluar zat memproteksi terumbu karang. Zat-zat yang dikeluarkan itu yang kita ambil,” kata Iswanto usai acara Akreditasi Laboratorium Kalibrasi PT Phapros, Semarang, Jawa Tengah, Selasa (28/10).
Menurut Iswanto, PT Phapros dan Undip sudah setahun belakangan melakukan penelitian tersebut. Ia menegaskan bahwa antibiotik tersebut bukan berbahan dasar terumbu karang. “Kita tidak mengambil batu karangnya karena itu merusak. Undip juga pasti tidak akan mau,” terang Iswanto menambahkan.
Namun, Iswanto menyatakan sejauh ini penelitian tersebut belum membuahkan hasil. Menurut Iswanto, kemungkinan penelitian ini akan membutuhkan waktu tiga sampai empat tahun lagi. “Prosesnya masih panjang untuk menjadi antibiotik. Tiga sampai empat tahun mudah-mudahan bisa kita kembangkan menjadi antibiotik. Saya teknis tidak tahu detil,” terang Iswanto.
Iswanto mengklaim penelitian yang dikembangkan saat ini sejalan dengan visi maritim Presiden Joko Widodo. “Kalau Jokowi konsen di kelautan pasti akan memanfaatkan potensi kelautan. Pasti akan memanfaatkan potensi laut dari biota menjadi produk-produk yang menjadi nilai tambah. Saya berharap ada kebijakan terkait riset ada insetif yang mendorong riset,” ucap Iswanto.
Saat ini, sambung Iswanto, dana pengembangan obat antibiotik ini berasal dari patungan antara Phapros dengan Undip. “Patennya akan menjadi milik Undip karena kita harus menghargai riset. Tapi nanti komersialisasi itu akan dilakukan Phapros. Pasti akan kita berikan (imbalan) ke undip. Opsinya macam-macam,  apa itu royalti,” tegas Iswanto.