Nagekeo, aktual.com – Upaya mengurangi resiko bencana dengan level kerusakan yang sangat besar di Kabupaten Nagekeo, Yayasan Plan Indonesia selenggarakan pertemuan koordinasi antar stakeholder guna membahas tentang membangun kesadaran, kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. bertempat di Aula Hotel Pepita Danga, Jumad (11/6).

Kabupaten Nagekeo merupakan salah satu wilayah Nusa Tenggara Timur yang rawan bencana dengan kelas risiko tinggi, dengan multi ancaman seperti Gempabumi, tsunami, gunung api, banjir, tanah longsor, kekeringan, gelombang ektrim/abrasi, kebakaran hutan dan lahan, cuaca ekstrim.

Resiko-resiko ini diperparah dengan rendahnya kapasitas masyarakat dan tingginya kerentanan masyarakat yang terpapar multibahaya. Hal ini menunjukkan kemampuan daerah dan masyarakat untuk melakukan tindakan pengurangan risiko dan potensi kerugian akibat multibahaya belum maksimal, sehingga perlu adanya peningkatan kapasitas.

Juarsa, Penanggungjawab PRB Plan menyebut, kolabarasi antara stakeholder di Kabupaten Nagekeo sebagai bentuk acuan mengurangi resiko bencana di kabupaten itu yang mana, kata Juarsa, terdapat 4 kecamatan dalam binaan Plan Indonesia di Nagekeo akan dijadikan wacana tangguh bencana.

Dia juga mengungkapkan, keterlibatan seluruh unsur stakeholder di daerah dalam penanggulangan bencana memiliki kapasitas yang sama penting agar peristiwa yang bersifat kebencanaan bisa ditangani dengan baik.

“Instansi daerah mempunyai tugas, fungsi, dan perannya masing-masing sesuai peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dilihat dari tugas fungsi dan perannya bahwa, BPBD mempunyai peran yang secara langung berwenang dalam penanganan bencana,” ungkapnya.

Juarsa mengaku, Yayasan Plan International Indonesia sebagai lembaga pengembangan pemberdayaan masyarakat yang berpusat pada anak dan kaum muda, khususnya anak dan kaum muda perempuan, telah mengambil bagian dalam upaya pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim di Kabupaten Nagekeo, dengan melakukan berbagai interfensi, yaitu implementasi sekolah aman dan pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.

“Upaya-upaya adaptasi perubahan iklim melalui peningkatan kapasitas kaum muda dan pertanian cerdas iklim bagi wilayah-wilayah kritis di wilayah dampingan Plan Indonesia. Untuk mensosialisasikan kegiatan-kegiatan tersebut, dan diharapkan dapat membangun kerjasama yang baik dengan stakeholder yang ada daerah ini, Plan Indoensia Program Impelementasi Area Flores, menyelenggarakan Pertemuan koordinasi stakeholder kebencanaan di Kabupaten Nagekeo, serta terfasilitasinya,” tandasnya.

(Muhammad Yasin)