Jakarta, Aktual.com – Pengamat ketenagalistrikan Fabby Tumiwa menilai akuisisi 50 persen saham PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) oleh PT PLN (Persero) tidak berdampak positif bagi pengembangan panas bumi di Indonesia.

“Menurut hemat saya, aksi korporasi ini tidak akan berdampak positif bagi pengembangan panas bumi di Indonesia,” katanya di Jakarta, Selasa (23/8).

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) itu mengatakan, dirinya tidak melihat rencana akuisisi itu dibuat berdasarkan suatu kajian biaya/keuntungan atau kajian strategis lainnya.

Mengingat rencana tersebut berbentuk aksi korporat, lanjutnya, maka seharusnya ada kajian menyeluruh menyangkut nilai strategis dari tindakan itu.

“Pertanyaan lanjutannya apakah akusisi ini bisa membuat perkembangan panas bumi lebih maju, mengingat target pemanfaatan panas bumi pada 2020 adalah 4.000 MW dan 2025 adalah 7.000 MW. Saya tidak melihat itu bisa dicapai dengan akusisi ini,” katanya.

Dengan kapasitas pembangkit listrik panas bumi (PLTP) terpasang saat ini yang baru 1.500 MW, maka dibutuhkan 5.500 MW sampai 2025 atau sekitar 600 MW per tahun.

Fabby menambahkan, persoalan utama peningkatan pemanfataan panas bumi adalah risiko eksplorasi yang tidak mampu dikelola oleh pengembang.

“Untuk ini, perlunya pemerintah mengambil sebagian risiko eksplorasi itu misalkan melakukan pengeboran awal, sehingga risiko berkurang dan biaya investasi panas bumi juga bisa berkurang,” ujarnya.

PLN berencana mengakuisisi 50 persen saham PGE, yang merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero), dengan tujuan mempercepat pemanfaatan panas bumi.

Target pemerintah, pada akhir 2016, penggabungan PGE-PLN tersebut selesai.

(ANT)

(Arbie Marwan)