Menteri BUMN Rini Soemarno (kanan) berbincang dengan Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro (kiri) sebelum mengikuti Rapat Terbatas terkait infrastruktur transportasi di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (8/6). Rapat yang membahas perkembangan proyek angkutan massal berbasis kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) di Palembang, Bandung dan Jabodetabek tersebut, Presiden menggarisbawahi sejumlah hal yaitu konektivitas, integrasi antar moda transportasi dan modernisasi. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/pras/16

Jakarta, Aktual.com – Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) mengecam rencana Menteri BUMN, Rini Soemarno yang ingin mengalihkan aset PT.Pertamina Geothermal Energy (PGE) kepada PT.Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Persiden FSPPB, Noviandri mengatakan tindakan tersebut merupakan bagian dari upaya menyingkirkan Pertamina dari industri energi dengan cara terlebih dahulu melemahkan Pertamina dalam persaingan dengan usaha energi lainnya.

“Kami menolak tindakan pemindahan aset yang diinginkan oleh Kementerian BUMN. Perbuatan ini jelas-jelas merugikan Pertamina dalam persaingan usaha. Ini bagian skenario untuk menyingkirkan Pertamina dari industri energi,” kata Noviandri dalam pertemuan pers di Gedung Pertamina Jl Medan Merdeka Jakarta, Kamis (4/8).

Kemudian penting kiranya untuk disadari publik, bahwa potensi energi panas bumi atau geothermal yang dimiliki Indonesia sebesar 40 persen dari potensi cadangan geothermal di dunia.

Dengan prospek yang sangat menggiurkan ini, perusahaan lainnya berlomba-lomba melakukan investasi dan eksploitasi kekayaan alam Indonesia. Sedangkan perusahaan Pertamina yang telah mengembangkan usaha dengan baik dan mandiri melalui anak perusahaan, malah sengaja dilemahkan secara sistematis.

“Pertamina sengaja mau disingkirkan, sementara perusahaan lainnya akan berlomba-lomba menguasai cadangan geothermal Indonesia dan mengincar bisnis listrik,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, laporan keuangan Pertamina per Desember 2015 yang lalu, terungkap nilai aset PGE sebesar USD1,58 miliar dari pengelola empat area panas bumi dan sekitar 10 area pengembangan.

Keempat area yang dikelola yakni Kamojang yang menghasilkan 235 megawatt (MW), Area Lahendong dengan kapasitas 80 MW, Area Sibayak sebesar 12 MW, dan Area Ulubelu dengan total kapasitas 110 MW. (Dadangsah)

(Eka)