Jakarta, Aktual.co — Dalam rangka pengembangan produksi alat utama sistem persenjataan (alutsista) tahun 2015, PT Pindad (Persero), perusahaan plat merah produsen alat-alat militer dan komersial, menyatakan membutuhkan dana segar sekitar Rp4,7 triliun.

“Sebanyak Rp700 miliar diharapkan dapat diperoleh dari Penyertaan Modal Negara (PMN) APBN-P 2015, dari kas internal Rp100 miliar. Selebihnya tentu diupayakan dari mitra,” kata Direktur Utama Pindad Silmy Karim saat ditemui di gedung DPR RI, Jakarta, Senin (2/2) sore.

Seperti diketahui, saat ini Komisi VI DPR tengah membahas rencana penyuntikan dana PMN sebesar Rp700 miliar itu pada 2015 untuk Pindad.

Ia menjelaskan, dana tersebut akan dialokasikan untuk perbaikan lini produksi alutsista sebesar Rp593,5 miliar, meliputi pengembangan lini amunisi kalber besar dan roket, lini produksi tank dan kendaraan tempur, amunisi kaliber kecil senjata laras panjang dan laras pendek.

“Selanjutnya pengembangan bisnis produk industrial untuk mendukung proros maritim Rp66,5 miliar, meliiputi bisnis peledak, bisnis sarana dan pertahanan transportasi,” ujarnya.

Sedangkan sebesar Rp25 miliar dialokasikan untuk pengembangan fasilitas produk dan proses “learning center”, serta pengembangan kompetensi sumber daya manusia sebesar Rp15 miliar.

Berdasarkan materi rapat PMN dengan Komisi VI DPR RI, disebutkan jika PMN dikucurkan, maka Pindad menargetkan pendapatan pada 2019 sebesar Rp4,035 triliun, naik dari pendapatan tahun 2015 yang diproyeksikan sebesar Rp2,1 triliun. Sementara laba bersih Pindad diperkirakan Rp200,7 miliar pada 2019, tumbuh dari tahun 2015 yang diperkirakan Rp85,3 triliun.

Selain itu, Pindad juga akan menggandeng sejumlah negara untuk pengembangan produksi Alutsista.

“Kerja sama pengembangan kami lakukan tahun ini (2015) dengan Jerman, Turki dan Belgia,” ungkap Silmy.

Artikel ini ditulis oleh:

Eka