Kuala Lumpur, Aktual.com – Polisi Diraja Malaysia (PDRM) mengatakan akan memanggil 29 peserta unjuk rasa yang menuntut Perdana Menteri Muhyiddin Yassin mundur, pada Sabtu (31/7) kemarin yang sudah teridentifikasi untuk melengkapi dokumen penyelidikan.

“Beberapa individu lain masih dalam proses identifikasi dari rekaman video dan gambar. Semua individu yang terlibat diminta memberikan kerjasama dalam penyelidikan penyelenggaraan unjuk rasa tersebut,” ujar Kepala PDRM Irjen Pol Acryl Sani Abdullah Sani dalam pernyataan pers, Minggu (1/8).

Arcyl mengatakan polisi telah memulai penyelidikan terhadap penganjur dan peserta unjuk rasa tersebut karena diduga melanggar prosedur standar pencegahan COVID-19 menurut undang-undang dan peraturan tentang pencegahan penyakit menular.

Acryl mengatakan lebih dari 20 laporan polisi telah disampaikan di seluruh wilayah akibat unjuk rasa tersebut.

“Polisi sebelum ini telah beberapa kali memberi peringatan supaya semua pihak mematuhi standard operation procedure (SOP) Rencana Pemulihan Negara (PPN) demi keselamatan orang banyak, serta menyatakan pendirian bahwa tindakan tegas akan diambil kepada semua pihak yang sengaja melanggar SOP,” katanya.

Namun, tambah Acryl, penganjur dan peserta yang keras kepala telah diberi nasihat agar mengutamakan keselamatan dan kesehatan dalam kondisi pandemi COVID-19.

Lima anggota Sekretariat Solidariti Rakyat (SSR) rencananya juga akan dipanggil untuk diselidiki oleh Polisi Dang Wangi Senin (2/8).

Mereka adalah Mohamad Abdullah Alshatry, Mohammad Asraf Sharafi Mohammad Azhar, Tharmelinggem Pillai, Qyira Yusri dan Sevan Doraisamy.

Sebelumnya, pada Sabtu pagi sekitar 450 orang berkumpul di Dataran Masjid Jamek, Kuala Lumpur, untuk berkonvoi dan berunjuk rasa sambil membawa sejumlah spanduk dan poster. Mereka menuntut Perdana Menteri Muhyiddin Yassin mundur dari jabatannya.

Para pengunjuk rasa juga meneriakkan yel-yel “Mundur Muhyiddin”, “Letak Jabatan”, “Hidup-Hidup”, “Hidup Rakyat”, “Tolak-Tolak”, “Lawan-Lawan”, “Bangkit-bangkit, Anak Muda” secara bergantian.

Sejumlah perempuan di barisan depan membawa empat “pocong” berwarna putih, diikuti sejumlah laki-laki yang membawa spanduk hitam besar bertuliskan “Kerajaan Gagal” dan “Penipu Nasional”.

Ada juga yang membawa poster bertuliskan “Kartu Laporan Pemerintah: Kepemimpinan, Kesehatan Negara, Kegiatan Ekonomi, Keprihatinan, Kejujuran, Gagal” dan “Stop Police Intimidation”.

(A. Hilmi)