Arsip - Orang-orang membawa kantong sampah setelah mengumpulkan bahan daur ulang di tempat pembuangan sampah di selatan Johannesburg, Afrika Selatan (13/4/2022). (ANTARA/Reuters/Siphiwe Sibeko)

Jakarta, aktual.com – Forum Pra-KTT Y20 2022 Indonesia membahas pentingnya ekonomi sirkular untuk membatasi produksi limbah yang berlebihan dan mewujudkan planet bumi yang berkelanjutan dan layak huni.

Pertemuan pemuda G20 (Y20) tersebut membahas sejumlah isu prioritas, antara lain ketenagakerjaan pemuda, transformasi digital, keragaman dan inklusi, dan terutama tentang planet yang berkelanjutan dan layak huni yang memerlukan langkah-langkah strategis seperti ekonomi sirkular yang berbasis produksi dan konsumsi berkelanjutan.

“Memang terkadang terasa sulit. Solusi datang lebih lambat daripada terjadinya kerusakan lingkungan. Kita harus memikirkan bagaimana kita bisa mempercepat solusi. Tapi yang terpenting, kita harus optimistis bahwa kita bisa melakukan perubahan dengan berkolaborasi,” kata CEO dan pendiri Waste4Change Mohammad Bijaksana Junerosano dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (23/5).

Junerosano mengatakan jika masyarakat dunia menginginkan perubahan, maka mereka harus meyakinkan 4 persen dari sebuah populasi. Itu berarti, kata dia, ada 10 juta orang Indonesia yang harus diyakinkan tentang perlunya menerapkan ekonomi sirkular.

Alesya Krit dari Center of Competence for Climate Change, Environment and Noise Protection di Aviation Hessen menyarankan pentingnya berpikir secara lokal dalam upaya mendorong konsumsi berkelanjutan.

“Kita harus berpikir lokal dan menyesuaikan (solusi) dengan wilayah tujuan, serta cocok dengan dimensi sosial dan budaya setempat. Kemudian, bentuklah perspektif normatif dan ajaklah pekerja, teman, warga untuk mengenal mindset baru. Misalnya, lewat TikTok challenge,” kata Alesya pada acara bincang-bincang (talk show) Pra-KTT ke-3 Y20 Indonesia tersebut.

Joi Danielson, partner di Systemiq, menekankan perlunya perhatian yang lebih banyak pada pola konsumsi sebelum membahas tentang ekonomi sirkular.

Menurut dia, manusia cenderung takut mencapai kelangkaan, sehingga mereka cenderung mengonsumsi lebih banyak dari yang mereka dibutuhkan. Di sebuah ekonomi yang berbasis konsumsi, kata dia, semakin banyak yang dikonsumsi, semakin tinggi produk domestik bruto (PDB).

“Jadi sistem kita mengandalkan konsumsi berlebihan. Jika kita bisa membantu orang untuk merasa bahwa apa yang mereka miliki sudah cukup, kita bisa meyakinkan mereka untuk hanya mengonsumsi yang dibutuhkan. Dengan ini, kita bisa mulai memutus siklus konsumsi tersebut,” jelas Joi.

Pembicara lainnya, Ke Wang, Program Lead di Platform for Accelerating Circular Economy, mengatakan bahwa meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ekonomi sirkular tidak hanya bisa menyebabkan perubahan kebiasaan, tetapi juga perubahan kebijakan.

“Karena para politisi mendengarkan aspirasi masyarakat. Namun, kesadaran masyarakat terhadap ekonomi sirkular masih sangat rendah. Di sinilah, anak muda memainkan perannya. Generasi muda telah menunjukkan bahwa mereka memegang peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap perubahan iklim,” katanya.

(Antara)

(Rizky Zulkarnain)